Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
SEDIKIT LAGI


__ADS_3

Part 21 " Sedikit lagi "


" Hah?? Sekamar?? " Sahut ku kaget saat kembali ke resort.


Morgan hanya tersenyum melihat aku tercengang mengtahui fakta bahwa aku dan Morgan akan tidur sekamar.


" Iya, pengantin nya book kamar untuk kita cuma satu. " Jawab Morgan dengan mudahnya dan dia terlihat senang.


" Ya kamu book kamar lagi dong. Kan kamj banyak uang. " Sindir ku merasa bahwa Morgan memang sengaja mengerjaiku.


" Untuk apa. Tidak boleh buang buang uang. Kamarnya luas, ranjang nya cukup untuk berdua. Jadi ya untuk apa book kamar lagi. " Kata Morgan mencoba mencari cari alasan.


" Hmm.. ya sudah, aku saja yang book sendiri. " Jawab ku tidak kehabisan akal, dan berlari ke resepsionis sambil mengeluarkan dompet dari tas ku.


Namun belum sempat transaksi berhasil, Morgan mengambil dompet ku secepat khilat.


" Hemat. " Kata Morgan dengan santai sambil memamerkan dompet ku lalu bergegas pergi menuju kamar.


Aku pun yang sudah jadi pusat perhatian para staf resort dan tamu, hanya bisa menunduk dan menyusul Morgan.


Benar saja.. ketika aku masuk ke kamar, semua tampak begitu indah dan sempurna dengan pemandangan langsung ke bentangan air laut.


Semuanya sesuai dengan selera ku, kecuali satu.. yaitu satu ranjang di tengah kamar.


" Kenapa? Kamu takut? " Tanya Morgan tiba tiba berbisik dari belakang.


" Ehm.. aku cuma tidak terbiasa tidur dengan orang lain. " Kata ku gugup.


" Kita kan sudah sama sama dewasa. Saling mencintai saling membutuhkan. Tidak ada alasan untuk takut. " Kata Morgan memeluk ku dari belakang dan mencium leher ku.


Aku pun sontak kaget karena belum apa apa, Morgan sudah menunjukkan sisi dewasa nya.


" Aku.. aku mandi dulu. " Sahut ku yang sangat berdebar dan berlari ke kamar mandi untuk menenangkan diri.


Aku yang mencoba mengulur waktu di dalam bathup yang sudah terisi air dan busa sabun. Sudah 30 menit lamanya aku merendam diriku namun tetap tidak bisa tenang.


" Apakah malam ini kami benar benar akan melakukannya. " Gumam ku sendirian gelisah.


" Jangan jangan Morgan sudah merencanakannya. " Gumam ku lagi dengan pikiran yang kacau.


Di tengah kegelisahan ku tiba tiba aku terbayang kejadian romantis sore tadi, dimana aku masih bisa merasakan bibir Morgan yang menempel di bibir ku.


" Kamu sudah dewasa Sesil.. dan lelaki itu adalah lelaki yang kamu cintai. " Gumam ku mulai meyakinkan diri, bahwa apapun yang terjadi malam ini.. semua akan baik baik saja.


Tuk tuk tuk


Morgan mengetuk pintu kamar mandi dan membubarkan lamunan ku.


" Kamu masih lama? " Tanya Morgan tiba tiba.


" Ehm.. kurang sedikit lagi. " Jawab ku terbata bata.


" Jangan sampai sakit, terlalu lama nanti masuk angin. " Kata Morgan mengkhawatirkan aku.


" Iyaa.. sebentar lagi selesai. " Jawab ku sambil mulai membilas diri.


Setelah selesai mandi dan bersiap siap, aku dan Morgan makan malam romantis di private dine resort yang sudah terdekorasi dengan bunga dan lilin.


Sekali lagi kedua mata ku di buat takjub oleh keindahannya.

__ADS_1


Morgan menarik kursi dan memberi ruang untukku duduk.


Sebotol sampaigne sudah tersaji di atas meja dan para pelayan menuangkannya untuk kami mengisi setengah gelas kami.


Morgan memotong daging steak ku, agar mudah untuk ku memakannya.


" Thankyou. " Sahut ku menghargai kebaikan Morgan.


" Aku melakukan ini, bukan untuk merayu mu. Apapun keputusan mu malam ini (tidur bersama atau tidak), aku akan tetap memberikan semua yang terbaik untuk mu." Sahut Morgan tiba tiba membuatku tersedak.


" uhuk uhuk.. "


Aku sungguh tidak menyangka Morgan membahas hal yang sensitif di tengah makan malam kami.


" Bisakah kamu tidak membahasnya? " Kata ku yang merona mendengar dan memahami maksud perkataan Morgan.


" Tentu aku harus membahasnya. Aku tidak mau, kamu menyalah artikan apa yang aku lakukan. " Jawab Morgan khawatir dengan pemikiran ku yang padahal tidak sampai sejauh itu.


" Jangan khawatir, aku mengenalmu. Aku tahu semua yang kamu lakukan tulus untuk ku. " Jawab ku jujur membanggakan Morgan.


" Jadi?? Ehm.. apa nanti malam, aku boleh... " Belum selesai Morgan menyelesaikan perkataan nya.. dengan segera aku mengambil sepotong daging dan memasukkannya ke mulut Morgan.


" Coba ini.. enak kan.. ha ha ha. " Sahut ku mengalihkan topik pembicaraan.


Karena aku belum siap dengan jawaban ku, aku bingung menghadapi perasaan ku yang saat ini terus berdebar tidak karuan di hadapan Morgan.


Selesai makan malam, kami jalan jalan bersama di sekitar resort yang langsung berhadapan dengan laut.


Begitu jelas terdengar deburan ombak di hiasi lampu lampu dekorasi resort.


Tangan hangat Morgan perlahan menyentuh tangan ku yang mulai dingin, ia menggenggam jari jemari ku dengan erat hingga terasa hangat.


Sebuah kebahagiaan kecil yang tersirat dengan cara sederhana.


" Semoga kita bisa seperti ini seterusnya. " Gumam Morgan yang hari ini terlihat lebih rileks dari biasanya.


Saat ini di kedua mata ku, lelaki ini hanyalah manusia biasa yang tidak melulu tentang kekuasaan.. uang dan CEO.


" Amin. " Jawab ku mengaminkan perkataan Morgan.


Hari semakin larut dan kami memutuskan untuk kembali ke kamar dan beristirahat karena besok harus bangun pagi untuk menghadiri acara pernikahan Albert, teman Morgan.


Setelah masuk ke kamar dan berganti pakaian, aku terdiam sejenak di depan cermin wastafel.


Aku menyadari bahwa malam ini belum berakhir sepenuhnya, aku masih belum memberikan jawaban kepada Morgan untuk pertanyaannya saat makan malam tadi.


Apakah aku benar benar sudah siap..


Apakah aku akan memberikan diriku sepenuhnya pada Morgan..


Isi kepala ku yang penuh tanda tanya itu tidak sinkron dengan apa yang di inginkan hati ku saat ini.


Debaran jantung ku terus ingin mengijinkan Morgan menyentuh ku.


Akhirnya aku menarik nafas dalam dalam mencari ketenangan dan meyakinkan diri ku keluar dari kamar mandi.


Saat aku melihat Morgan yang sudah duduk di tepi ranjang, hati ku semakin berdebar dengan hebat.


" Morgan. " Panggil ku ragu.

__ADS_1


" Hmm?? " Suara nya yang berat membuat ku semakin menginginkannya.


Aku pun melangkah mendekati nya dan menundukkan tubuhku memberi kecupan singkat di bibir Morgan.


Ia pun sontak terkejut melihatku.


" Apa itu.. jawaban mu?" Tanya Morgan mengkonfirmasi dan aku hanya bisa menjawab nya dengan senyuman.


Tanpa ragu.. lelaki itu menarik tubuh ku hingga terbaring di ranjang. Ia setengah menindih ku dan mulai membelai rambut dan wajah ku perlahan.


Ia mencium mesra bibir ku yang hanya bisa mengikuti alur dan gerak bibirnya ke kanan kiri dan ke atas juga bawah.


Ciuman Morgan semakin agresif bahkan ia tidak mengijinkan ku untuk bernafas dengan lega.


Ia mulai melepas pakaiannya hingga tubuh bidang nya terekspos di depan mata ku untuk pertama kali.


Ia membuka satu demi satu kancing pada baju tidur ku hingga pakaian dalam dan belahan dada ku terlihat.


Ia kembali mencium bibir ku dengan hasrat yang lebih menggebu gebu.


Semakin panas aku merasakan setiap pergerakan Morgan yang menindih ku.


Ciumannya turun ke leher ku bahkan aku sangat merasakan geli dan seperti tersengat oleh aliran listrik.


Setelah puas ia mencumbuu leher ku, ia mulai berani turun ke area dada ku yang mulai terlihat.


Bibir nya menyentuh area belahan dada ku dan aku semakin merasa sensitif dibuat nya.


Ia mencoba menurunkan pakaian ku serta tali bra yang terkait di bahu ku, dan kembali di cium nya tanpa lelah tanpa henti.


Ketika aku sedang berusaha mengikuti alur Morgan, dalam sekejap aku terkejut dan mendorong nya.


Tanpa pikir panjang aku berlari ke kamar mandi dan membuat Morgan yang sedang terangsang kebingungan.


" Ada apa Sesil?? Apa aku sudah keterlaluan? " Tanya Morgan mengkhawatirkanku.


" Ehm.. Morgan.. Sorry.. Bisakah kamu membantu ku. " Kata ku sedikit ragu.


" Kenapa? Kamu sakit? " Tanya nya semakin panik.


" Tolong buka tas ku dan ambilkan pembalut ku di dompet merah muda. "


Mendengar perkataan ku, ekspresi Morgan pun langsung lesu.


Aku sendiri juga tidak percaya, di tengah tengah keintiman kami.. menstruasi ku harus datang, sehari lebih cepat dari biasanya.


Morgan pun dengan lapang dada membantuku.


Beberapa menit setelah aku selesai berberes, aku melihat Morgan yang masih bertelanjang dada termenung berbaring di ranjang.


" Maafkan aku Morgan. Sepertinya harus kita tunda. " Kata ku sambil menghampiri dan berbaring di samping lelaki itu.


" Ya mau gimana lagi. Aku harus menunggu lagi." Jawab Morgan pasrah dan mengundang tawaku.


" Sabar ya, anak baik. " Kata ku menggoda Morgan sambil mengusap kepalanya seperti anak kecil.


" Aaarrrgghhh... aku malam ini pasti sulit tidur. " Sahut Morgan mengeluh sambil menyembunyikan wajahnya ke bantal. Begitu menggemaskan.


😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2