
Part 11 " Tertolong "
Setelah sejenak menghabiskan waktu bersama orang tua Morgan, akhirnya aku bisa bernafas dengan lega keluar dari rumah orangtua Morgan.
Aku memutuskan pergi ke apartmen untuk mengambil beberapa barang.
Keadaan apartmen ku masih saja berantakan, aku masuk perlahan siang itu dan mengambil tas serta pakaianku.
Saat aku berada di kamar untuk mengemas pakaian ku, tiba tiba sebuah ingatan terlintas di pikiran ku.
" Setelah putus, aku belum pernah mengubah pasword pintu ku.. Jangan jangan.. " Gumam ku mulai menemukan suatu titik temu tentang pelaku yang kemungkinan besar adalah, mantan kekasih ku.
Karena hanya aku dan dia yang mengetahui pasword apartmen ku.
Dengan segera aku menghubungi Morgan untuk menyampaikan apa yang terlintas di ingatan ku.
Saat di tengah perbincangan kami, tiba tiba suara mengagetkan terdengar.
BRAKK ( seseorang menutup pintu apartmen ku )
Aku begitu panik hingga tidak mempedulikan Morgan yang masih dalam sambungan telepon.
Aku memberanikan diri keluar dan menghampiri sumber suara, namun dari belakang seseorang mendorong ku hingga dahi ku memar terhantam ke sofa.
Persis seperti dugaan ku.
Angga.. mantan kekasih ku, sudah berada di dalam apartmen dengan wajah penuh kekesalan.
" Kamu sudah gila ya.. apa yang kamu lakukan. Kenapa kamu seperti ini. " Bentak ku berani, bahkan ingin membalas perbuatannya.
" Kenapa??? Semua ini belum ada apa apa nya dengan semua perbuatan mu. " Balas nya marah.
" Kita sudah tidak punya urusan satu sama lain, pergi dari sini.. sebelum aku melaporkan mu ke polisi. " Bentak ku semakin ikut geram tanpa takut.
" Laporkan saja.. kalau kamu bisa lolos dari ku. Karena kamu.. aku diputuskan oleh kekasihku, kesepakatam bisnis ku yang harusnya dimodali oleh nya.. gagal.. semua karena bertemu dengan mu di pulau.. BRENGS**KK " Teriak angga sambil memecahkan segala benda yang tersisa di dekatnya.
Dari situ aku mulai merasakan rasa takut, aura lelaki itu berubah menjadi sangat menyeramkan.
Aku mencoba mengelabuhi nya.. tapi tidak bisa..
Dia terus melihat dan ikut bergerak kemana pun aku melangkah.
Sedangkan ponsel ku tertinggal di kamar, sehingga aku merasa bingung harus berbuat apa.
" Sekarang.. aku juga akan membuat mu hancur. Kamu tidak berhak bahagia di atas penderitaan ku. " Sahut Angga semakin menyeramkan dan menggila mencengkeram pakaian ku hingga robek.
" LEPASKAAAN. " Aku terus berusaha memberontak, walaupun tubuhku terasa sakit karena terus melawan.
__ADS_1
Tanpa ragu ia juga menarik rambut ku dan begitu menyakitkan.
Di tengah kekacauan itu, para petugas keamanan datang tepat waktu mendobrak paksa pintu apartmen yang dia kunci.
Aku tertolong dan sangat lega, para petugas entah bagaimana bisa datang tepat waktu.
Angga pun tidak bisa kabur dan ditangkap serta di aman kan di ruangan petugas untuk di interogasi sekaligus menunggu polisi menjemputnya.
Dia benar benar jadi gila dan depresi karena kehilangan wanita yang dapat ia manfaatkan untuk memodali usaha nya.
" Bagaimana bapak tahu, aku sedang dalam bahaya?? " Terbersit di pikiran ku penasaran.
" Oh.. itu.. kekasih anda.. yang menghubungi ku." Jawab petugas itu sambil menunjuk ke arah Morgan yang sedang berlari menghampiri ku.
" Kamu gapapa?? " Tanya nya sambil terengah engah.
Entah mengapa aku terdiam dan mengeluarkan air mata tanpa sadar sambil memandang Morgan.
" Dasar brengs*k, beraninya menyakiti wanita. " Sahut Morgan yang tiba tiba emosi menyerang Angga, namun di tahan oleh para petugas.
Beberapa saat kemudian, polisi datang menjemput Angga yang sudah tidak bisa berkutik.
Setelah membantu memberi keterangan, Morgan menghampiri ku lagi yang duduk lemas di kusi petugas.
Entah mengapa saat itu air mata ku tidak mau berhenti mengalir.
" Sudah.. jangan menangis. Kamu sudah aman. " Kata Morgan begitu lembut menenangkan ku dan menghapus air mata ku.
Aku spontan memandang ke arahnya, dan memeluk lelaki itu dengan erat.
Hiks hiks hiks
Namun tangisan ku mala semakin membanjiri pipi ku, yang aku sendiri tidak tahu entah mengapa.
" Sudah.. sudah.. " Sahut Morgan menepuk nepuk punggung ku memberi energi.
Setelah puas menangis, Morgan akhirnya membawa ku ke kantor nya untuk pertama kali.
Kedua mata ku terlihat sembab karena menangis cukup lama.
Aku saat ini duduk diam di sofa ruang kerja Morgan sambil melihat nya yang sedang sibuk meeting dengan beberapa pegawai nya.
Sesekali kedua sudut bibirku tersenyum melihat Morgan yang begitu mempesona saat ini.
Berdebar dan terus berdebar.
Setelah selesai rapat intern, para pegawai Morgan pergi meninggalkan kami berdua di ruangan itu.
__ADS_1
" Ayo kita makan siang. Maaf membuatmu menunggu. " Kata Morgan sambil memakai jas coklatnya.
" Aku yang seharusnya minta maaf karena jadi mengacaukan jadwal kerja mu. " Jawab ku merasa tidak enak.
" Hari ini kamu ijin kerja saja. Keadaan mu masih shock begitu. " Saran Morgan khawatir.
" Aku memang sudah ijin. Aku masih belum ingin bertemu banyak orang. " Jawab ku sepemikiran dengan Morgan.
" Jangan kamu pikirkan terus lelaki brengs*k itu. Dia sudah ditahan dan kupastikan dihukum berat. Bersyukurlah, kamu bisa putus dari lelaki seperti itu. " Gumam Morgan yang masih terlihat kesal.
" Terima kasih Morgan, sudah menolongku. " Kata ku tulus berterima kasih dan menatap kedua mata nya.
Lelaki karismatik itu pun terlihat menghindari tatapan mataku dan jadi salah tingkah.
" Ayo, aku lapar. " Sahutnya mengalihkan pembicaraan.
Siang itu kami makan siang bersama dengan rasa tenang karena pelaku nya sudah tertangkap.
Dan satu hal lagi yang semakin kusadari, hari berganti hati belakangan ini.. aku merasa seperti memiliki hubungan yang nyata bersama dengan Morgan.
Namun sebisa mungkin aku mengingatkan diriku bahwa semua ini akan berakhir ketika Morgan dan aku sudah tidak saling membutuhkan.
Aku dan Morgan memutuskan makan sushi sebagai menu siang ini, sesuap demu sesuap aku masukkan ke dalam mulut namun sesekali terasa sakit karena selain dahi.. pipi kanan ku memiliki sedikit memar.
" Sudah tahu memar, kenapa pilih makan sushi. " Gerutu Morgan terganggu melihatku.
" Tadi tidak terasa sakit, ternyata kalau buat buka mulut lebar.. baru terasa. " Jawab ku lesu.
Kemudian Morgan mengambil inisiatif dan memotong beberapa sushi menjadi 4 bagian dan lebih mudah di makan karena ukurannya yang jadi kecil kecil.
" Makan lah. " Kata Morgan memberikan piring berisi potongan sushi agar mudah kumakan.
" Thankyouuu. " Sahut ku senang menerima perlakuan manis Morgan.
" Ini sebagai balasan karena tadi pagi, kamu membantuku akting di hadapan Rosa. " Sahut Morgan getir.
Mendengar kata "akting" entah mengapa aku merasa sedih, namun aku mencoba menerima kenyataan.
" Selesai makan, kita ke apotik dulu. Memarmu harus di obati, jangan sampai membekas. " Sahut Morgan lagi menghujani ku dengan perhatian meski dengan nada bicara yang sangat jutek.
Di kantor Rosa..
Bau alkohol begitu menyengat tercium di seluruh ruangan, ia tidak membiarkan siapapun masuk ke ruangannya karena suasana hati nya sangat kacau dan penuh amarah mengingat kemesraan Morgan tadi pagi.
" Bisa bisa nya dia lebih memilih wanita itu daripada aku. " Gumam Rosa tidak terima.
Morgan yang sudah terlihat tidaj menyukai nya lagi dan tidak bisa ia kendalikan, membuatnya semakin marah.
__ADS_1
" Tidak Morgan.. apapun yang terjadi, aku harus membuat mu berpaling lagi kepadaku. " Kata Rosa bertekad kuat.