
Part 43 " Due Date "
Rosa menggenggam tangan ku dengan saat erat ketika kami sampai di rumah sakit.
Rosa sudah terbaring di atas ranjang dan siap menuju ruang persalinan namun sebelumnya dokter dan perawat memeriksa keadaannya terlebih dahulu.
Saat ini aku merasakan panik dan tidak tega melihat rintihan Rosa, yang biasa terlihat kuat dan jahat.
Ketika Rosa sedang diperiksa, aku dan kak Shelo menunggi di luar.
" Sesil, segera hubungi keluarga nya. " Kata kak Shelo kepadaku.
Dengan segera yang terlintas dalam pikiran ku adalah Morgan, namun aku ragu.. karena saat ini situasi untuk bertemu dengan nya sangat tidak nyaman.
Aku pun menghubungi Adit, sekretaris Morgan.
" Kita tunggu sebentar lagi ya kak. Kalau semua baik baik saja, kita pergi. " Jawab ku kepada kak Shelo.
Kemudian dokter yang memeriksa pun keluar dari ruangan.
" Apakah saya bisa berbicara dengan wali nya? " Tanya dokter itu.
" Ehmm.. wali nya sedang dalam perjalanan kemari dok. Apa.. terjadi sesuatu yang buruk? " Tanya ku pada dokter.
" Usia kandungannya masih 8 bulan lebih 1 minggu, masih tersisa beberapa minggu dari yang seharusnya dijadwalkan.. Namun bu Rosa sudah mengalami pendarahan.. dan kami harus melakukan operasi sebelum keadaan semakin gawat.. apalagi kondisi bayi nya lemah. " Penjelasan dokter membuat hati ku miris.
Karena keegoisan Rosa yang selalu berusaha mencelekakan bayi tidak berdosa itu, membuat semua jadi tidak karuan.
" Dokter.. saya sudah menghubungi wali nya.. tolong dokter lakukan cara terbaik apapun untuk menyelamatkan mereka. " Jawab ku yang sangat panik.
" Baik bu, untuk sementara.. sambil menunggu walinya datang.. kami akan mempersiapkan dan menstabilkan keadaan bu Rosa dulu. " Sahut dokter itu.
Tak lama setelah itu, Rosa yang masih merintih kesakitan di atas ranjang.. dipindahkan ke ruangan lain untuk melakukan pemeriksaan dan tindakan selanjutnya.
Ia melewati ku dan dengan spontan aku memegang tangan nya.
" Bertahanlah Rosa.. kamu harus kuat. Sebentar lagi Morgan akan datang menemani mu. " Kata ku kepada Rosa sambil berurai air mata.
" Sesil... " Rintih Rosa yang tak berdaya.
" Kamu pasti bisa.. kamu dan anakmu, kalian harus selamat. " Kalimat terakhir ku kepada Rosa sebelum kami terpisah.
Adit pun datang berlarian menghampiri ku sendirian.
" Adit?? Kamu kok sendirian? " Tanya ku heran.
" Pak Morgan bilang akan segera menyusul. Aku juga sudah menghubungi orangtua bu Rosa. Sementara ini, aku akan menjaga nya lebih dulu." Kata Adit dengan nafas terengah engah.
__ADS_1
Kak Shelo pun menepuk bahu ku, mengisyaratkan bahwa sudah saatnya kami pergi dan tidak mencampuri urusan mereka lebih lagi.
Terutama kerumitan hubungan Morgan dan Rosa yang sedang berproses di pengadilan.
Aku pun menuruti kak Shelo, karena aku tidak ingin timbul masalah baru lagi.
Ketika kami berdua berjalan keluar sampai di lobby rumah sakit, langkah ku terhenti ketika aku melihat Morgan dengan setelan jas biru berjalan di hadapan ku.
Lelaki yang beberapa waktu ini kuabaikan, tidak pernah kutemui bagai terpisah oleh sebuah jurang.. saat ini berdiri di hadapan ku dengan tatapan penuh kerinduan.
" Sesil. " Kata Morgan menghampiri ku dan tanpa sungkan memelukku di hadapan kak Shelo.
" Lepaskan aku Morgan. Ini bukan saatnya kamu seperti ini. " Sahut ku memperingatkan.
Apalagi saat ini kami berada di tempat umum, dimana banyak mata memandang.
" Sesil.. banyak yang ingin kubicarakan dengan mu. Sedikit lagi.. sedikit lagi semuanya selesai Sesil. " Kata Morgan dengan penuh harapan kepadaku untuk menunggunya.
" Maaf Morgan. Aku tidak bisa memberi jawaban apapun. Aku... " Jawab ku mulai ragu dan goyah.
" Morgan, lebih baik cepat masuk dan temani Rosa.. bagaimanapun hubungan kalian, di mata semua orang.. kamu tetaplah suaminya. " Sahut Kak Shelo penuh ketegasan sambil menarik ku pergi menjauh dari Morgan.
Dan kami pun kembali berpaling satu sama lain tanpa sebuah jawaban.
Di sepanjang perjalanan pulang, pikiran ku melayang entah kemana.
" Aku tahu kak. " Jawabku pasrah.
Huee... Hueee...
Seorang malaikat kecil berjenis kelamin perempuan lahir ke dunia.
Namun kelahiran nya yang terlalu dini, membuatnya harus masuk ke inkubator.
Bibirnya, hidung nya, rambutnya.. semua mirip dengan Morgan.
Begitu takjub kedua mata Morgan melihat keajaiban buatan Tuhan yang dititipkan kepadanya.
Meski ia begitu membenci Rosa, namun ia tidak akan pernah bisa membenci bayi itu.
" Selamat pak Morgan atas kelahiran putri anda." Ucap Adit ikut senang.
" Dia sangat cantik.. Anak ku, sangat cantik. " Gumam Morgan yang senang dan lega akhirnya bisa melihat malaikat kecil yang selama ini ia lindungi.
Beberapa saat kemudian, dokter yang menangani Rosa menghampiri Morgan.
" Selamat pak Morgan, putri anda lahir dengan selamat. " Ucap dokter itu.
__ADS_1
" Terima kasih dok. Lalu.. bagaimana dengan Rosa? Dia baik baik saja kan?? " Tanya Morgan yang masih punya hati nurani.
" Bu Rosa sedang dalam pengaruh obat, kondisi nya saat ini sedang drop pak.. dan juga, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan kepada anda secara pribadi. " Sahut dokter itu tiba tiba merasa ragu.
Situasi kembali kepadaku.. yang mulai sedikit demi sedikit mengemasi barang ku.
Tak terasa kurang dari seminggu lagi, aku akan memulai hidup yang baru di Kanada.
Sebuah pesan kuterima dari Adit..
Aku begitu lega ketika mendapatkan kabar bahwa anak Morgan lahir dengan selamat. Anak yang selama ini kukhawatirkan.
Entah mengapa air mata ku menetes haru, dan aku menjadi lebih yakin untuk tidak menunggu Morgan setelah melihat kelahiran bayi itu..
Aku hanya bisa berharap, Morgan dan Rosa memiliki jalan keluar terbaik untuk hubungan mereka yang dari awal tidak berdasar cinta demi kebahagiaan putri kecil tak bersalah itu.
Hari keberangkatan ku ke Kanada pun tiba..
Dengan lesu aku berjalan ke airport, aku tidak membawa begiti banyak barang karena kak Arvi dan kak Shelo sudah menyiapkan apapun untuk ku di Kanada.
Ketika akan masuk ke boarding pass, aku melihat Steve dan Monica menghampiri ku sambil berlari terengah engah membuatku terkejut.
" Sesil. " Panggil mereka.
Belum sempat aku membalas sapaan mereka, Monica menangis memeluk ku.
" Kenapa kamu harus pergi?? " Kata Monica sedih.
" Maaf kan aku Monica, tidak sempat berpamitan dengan mu. Kurasa ini adalah yang terbaik. " Kata ku membalas pelukan Monica.
" Apa kalian benar benar akan berakhir seperti ini?? " Tanya Monica
" Selama aku menunggu Morgan, banyak hati yang tersakiti termasuk keluarga ku. Ini keputusan tersulit yang kujalani. " Jawabku meneteskan air mata.
Steve pun mendekat dan menepuk bahu ku memberi semangat, ia memang sejak awal yang menyarankan ku juga untuk menjauh dari semua masalah ini.
" Jaga Morgan untuk ku. Aku tidak bisa berpamitan dengannya, aku takut dia akan menahan ku. " Bisik ku pada Monica memberi pesan.
" Hmm.. aku pasti menjaga nya. Aku berharap kakak bisa segera menyelesaikan semuanya dan membawa mu kembali ke sisinya. " Jawab Monica berharap.
Kami berdua berderai air mata perpisahan. Banyak sekali kenangan yang kami saling lalui bersama.
Steve pun juga memeluk ku sejenak sebagai tanda perpisahan.
" till meet again. " Sahut Steve hangat.
" Thankyou Steve. "
__ADS_1