Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
MENANTU???


__ADS_3

Part 59 " Menantu??? "


" Selamat pagi Nyonya, saya Asih.. pelayan senior di rumah Nyonya besar (ibu Morgan).. Tuan Morgan menugaskan saya di sini selama 3 bulan untuk membantu mengurus Mitzy dan rumah. " Kata seorang perempuan paruh baya yang berdandan rapi dengan seragam hitam, rambut tercepol di depan ku.


Benar saja, Morgan pada akhir nya meminta bantuan pelayan untuk mengurus penthouse selama masa taruhan kami.


" Oh iya.. selamat pagi. Senang berjumpa dengan anda. " Kata ku yang saat itu baru selesai mandi.


Kemudian terlihat Mitzy dan Morgan keluar dari kamar.


Mitzy yang mengenali ibu itu, langsung berlari senang menghampiri nya.


" Selamat pagi Nona Mitzy. " Sapa bu Asih sambil menggendong Mitzy.


" Ibu.. " Kata Mitzy senang karena bertambah satu lagi orang di penthouse Morgan.


" Maaf ya, anda jadi harus jauh jauh datang kesini. Mohon bantuannya. " Sahut Morgan sopan dan berlalu pergi kerja begitu saja.


Suasana pun tampak canggung dan dingin, membuat bu Asih menyadari nya serta tersenyum menatapku.


" Hahaha.. ya begitulah, jangan kaget. Kami memang sedang tidak akur. " Sahut ku mencoba menjelaskan keadaan.


" Aku senang, anda datang membantu kesini. Kebetulan untuk beberapa hari ke depan aku juga ada pekerjaan yang harus aku kirim ke Kanada. " Lanjut ku lagi mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


" Terima kasih Nyonya, saya juga sangat senang anda berada disini bersama Tuan Morgan dan nona Mitzy. Saya begitu terharu, kalian benar benar seperti keluarga yang manis. " Kata bu Asih tiba tiba.


" Jangan panggil aku Nyonya.. panggil saja nama ku.. " Protes ku sopan.


" Tidak Nyonya, selama anda disini.. anda adalah tuan rumah juga yang harus saya layani.. jadi jangan sungkan meminta bantuan saya. " Jawab bu Asih begitu lembut.


" Selama 3 tahun ini.. Tuan Morgan tidak pernah terlihat secerah ini, dia hanya bekerja bekerja dan bekerja.. setiap hari dia selalu murung, meskipun dia tampak baik baik saja ketika bersama nona Mitzy.. Namun, dia selalu menyimpan penderitaan nya sendiri.. " Ungkap bu Asih tiba tiba dengan raut wajah yang sedih.


" Saya ikut merawatnya dari kecil, hati saya juga begitu sakit ketika melihat Tuan Morgan seperti itu.. Nyonya besar juga seringkali membuat perjodohan untuk nya, namun selalu dia tolak. " Tambah bu Asih membuat ku terenyuh.


Tak lama kemudian di tengah perbicangan kami, ponsel bu Asih mendapat sebuah panggilan video.


" Nah.. ini dia.. beliau menunggu anda. " Sahut bu Asih sambil memberikan ponsel nya kepadaku.


Aku pun menerima nya walau dengan keraguan, karena tidak tahu apa yang dimaksud.


Dengan cepat bu Asih mengajak Mitzy pergi dari hadapan ku, dan membiarkan ku sendirian.


Dan ternyata ibu Morgan tersambung panggilan video itu membuat ku tersentak kaget.. namun akan lebih tidak sopan jika aku menolak panggilan itu.


Mama Morgan (MM)


MM : Sesiiiillll... ini benar benar Sesil kan??


S : Halo tante.. apa kabar? (Gugup)

__ADS_1


MM : Akhir nya nak, setelah sekian lama.. bisa melihat kamu lagi.


S : Saya juga senang bisa menyapa tante.


MM : Maaf ya, ketika kamu pulang.. tante malah sedang di luar negeri. Tante sudah dengar semua dari Monica.


S : Apa??? ( terkejut )


MM : Kalau kamu tinggal bersama Morgan dan Mitzy sementara ini. Ketahuilah, tante sangat sangat mendukung mu.


Morgan mungkin banyak berubah dengan sikap nya, tapi percayalah.. ini adalah moment yang dia tunggu.


S : Ehm.. iya tante, aku hanya ingin menghapus rasa kecewa Morgan dan menebus rasa bersalah ku..


MM : Tidak nak, kamu tidak sepenuhnya salah.. kamu membuat pilihan yang sulit, tante tahu itu.. keadaan yang membuat mu harus pergi.


Lupakan masa lalu, dan kalian harus bahagia.


Bawa kembali senyuman Morgan ya nak.. tante berharap, kamu lah satu satu nya mengisi tempat sebagai menantu di rumah kami.


S : Maafkan aku tante.. aku sudah menyakiti Morgan ( Menangis )


MM : Jangan merasa bersalah Sesil, karena kamu juga tersakiti. Sekarang kalian menemukan waktu untuk memperbaiki ini semua, jangan khawatir.. Morgan saat ini hanya mencari perhatian mu saja.. lambat laun, dia pasti akan jujur dengan perasaannya.


S : Bagiku.. Morgan tidak membenci ku, itu saja sudah cukup.


Percakapan kami pun berakhir beberapa meni kemudian setelah saling menyapa.


Aku memang tidak ingin berharap lebih agar tidak terluka.


Meluluhkan hati Morgan untuk memaafkan ku dan tidak membenci ku, itu sudah cukup.


Di kantor Morgan


" Masih kurang berapa pertemuan lagi? " Tanya Morgan yang sedang duduk di sofa ruangan nya sambil memijat kepala nya yang tampak penat.


" Masih ada 2 pertemuan lagi pak. " Kata Adit menjawab.


" Kenapa hari ini banyak sekali? Kan aku sudah bilang.. aku tidak mau lembur untuk 3 bulan ke depan. " Jawab Morgan membuat Adit menyadari dan menertawakan sesuatu.


" Karena ingin cepat pulang ya pak.. ketemu belahan jiwa. " Canda Adit tanpa rasa takut.


Morgan pun tiba tiba salah tingkah dan menegakkan punggung nya membenahi dasi yang padahal masih rapi.


" Ngomong apa sih kamu itu.. ngawur.. " Sahut Morgan seperti tertangkap basah oleh asisten nya.


" Maksud saya Mitzy pak.. siapa lagi belahan jiwa anda kalau bukan Mitzy. " Sahut Adit dengan perkataan menjebak, meski ia tahu bahwa sebenarnya karena semenjak kehadiran Sesil.


" Jangan banyak bicara. Cepat selesaikan pekerjaan sekarang. " Bentak Morgan yang kesal karena terjebak oleh perkataan Adit.

__ADS_1


Tepat pukul 22.08 Morgan sampai di penthouse. Pada akhirnya hari ini dia harus pulang larut malam.


Ketika masuk ke rumah tidak terlihat bu Asih dan juga Mitzy, namun hanya Sesil seorang di meja makan.


Sesil dengan wajah polos tanpa make up serta kacamata kerja menghadap laptop dan secangkir coklat hangat.


" Mana yang lain? " Tanya Morgan dingin sambil melepas jas kerja nya.


" Sudah tidur semua. " Jawab ku santai sambil menyelesaikan pekerjaan ku.


Karena aku memutuskan untuk menunda kembali ke Kanada, aku jadi bekerja online untuk membantu Tiara.


" Kamu?? Kenapa ga tidur? " Tanya Morgan tiba tiba sambil mengambil sebotol air mineral di kulkas.


" Pekerjaan ku masih belum selesai. " Jawab ku.


Sejenak kedua tangan ku berhenti di atas keybord laptop milik ku.


Aku menoleh ke arah Morgan dan menawarkan makan malam kepadanya yang terlihat letih setelah bekerja.


" Mau makan sesuatu?? " Tanya ku.


" Ga usah, aku minta tolong bu Asih aja. " Jawab nya menolak.


" Bu Asih sudah tidur, aku menyuruh nya istirahat lebih awal setelah mengurus Mitzy. " Sahut ku menghampiri Morgan yang masih berdiri di depan kulkas 2 pintu milik nya.


Aku membuka kulkas dan mencari beberapa bahan makanan sederhana yang bisa dengan cepat ku buat untuk Morgan.


" Eehm.... Mau omelet?? " Tanya ku sambil memegang sebuah telur, betapa terkejut nya ketika aku berbalik.. aku bertatapan begitu dekat dengan Morgan.


Padahal aku mengira bahwa dia sudah beranjak dari sana.


" Mie instan aja. " Sahut Morgan yang juga tampak terkejut sambil mengalihkan pandangan nya kemudian berjalan ke kamarnya.


" Semoga ga kedengeran. " Gumam ku yang berdebar sangat kencang.


Situasi di kamar Morgan juga sama.. ketika lelaki itu masuk ke kamar nya menghindari Sesil, ia begitu merasakan debaran dalam dadanya.


" Semoga ga ketahuan. " Gumam Morgan yang masih berdebar.


Beberapa saat setelah mandi, dia keluar dari kamarnya dan mendapati semangkung mie dan segelas air sudah tersaji di meja makan.


Namun aneh nya Sesil terlihat tertidur dengan kepala beralaskan laptop di meja makan.


Morgan berjalan mendekat, ia hanya bisa mendekat dan berani memandang Sesil lebih lama ketika wanita ini tidak menyadari nya.


Spontan senyuman kecil terlihat di kedua ujung bibir Morgan, melihat Sesil yang benar benar begitu berusaha meluluhkan kekerasan hati nya.


Tangan Morgan tak tertahan lagi untuk membelai rambut lembut Sesil yang sebenarnya masih memiliki ruang di hati Morgan.

__ADS_1


__ADS_2