
Part 50 " Mommy "
Mon : Bisakah kita bertemu siang ini?? Di playground hotel.
S : Aku tidak bisa janji. Hari ini aku berencana kembali ke Kanada.
Mon : Oh. Padahal kita baru saja bertemu. Tidak bisakah kamu menunda kepulangan mu?
Membaca pesan Monica membuat ku goyah, terlebih lagi aku entah mengapa memiliki perasaan untuk lebih dekat dengan Mitzy walau sesaat, anak kecil yang sejak awal sudah mencuri hati ku.
Aku pun dengan berani menghampiri Tiara yang sedang berkemas.
" Tiara.. kayak nya aku extend disini deh. " Kata ku sedikit ragu.
" Hah?? Kenapa?? Ada masalah?? " Tanya Tiara kaget.
" Bukan begitu. Kemarin aku bertemu teman lama ku. Jadi aku masih ingin bertemu dengan nya.. bisakah aku mengajukan cuti dadakan. " Kata ku memanfaatkan cuti yang sempat ditawarkan.
" Tentu saja. Itu hak mu. " Sahut Tiara santai, dan ia pun kembali ke Kanada sendirian.
Tepat pukul 10.11 aku berjalan menuju playground untuk memenuhi permintaan Monica.
" Hai.. " Sapa Monica sambil melambaikan tangan.
Belum sempat aku menghampiri nya, Mitzy berlari ke arah ku dan memeluk ku.
Hati ku pun langsung luluh lagi dengan perlakuan tulus Mitzy.
" Main. " Kata Mitzy senang.
Pandangan Monica pun tampak senang dan seakan terjawab.
Ia mengajak ku bertemu untuk melihat reaksi Mitzy sekali lagi, memastikan sesuatu.
" Sorry ya.. aku jadi menghalangi mu kembali. " Sahut Monica tidak enak hati padaku.
" Its ok. Kita kan sudah lama tidak bertemu. Kalau aku kembali ke Kanada, kita akan sulit bertemu lagi. " Jawab ku tulus.
" Hari ini.. untuk pertama kali nya, aku begitu bahagia melihat Mitzy yang berlari ke pelukanmu. " Sahut Monica tiba tiba melow.
" Semalaman dia menangis setelah berpisah dengan mu. " Kata Monica lagi.
" Benarkah? Tapi kulihat.. saat bersama Morgan, dia tampak senang. " Jawab ku mengingat apa yang kulihat kemarin malam.
" Kalian sudah ketemu?? " Tanya Monica kaget.
__ADS_1
" Bukan begitu.. aku tidak sengaja melihat mereka. Tapi mereka tidak tahu aku. " Jawab ku menjelaskan.
" Kenapa?? Kenapa kamu enggan bertemu kakak ku?? Meskipun dia selalu bilang akan mengurus semuanya sendiri.. tapi aku tahu siapa yang dia tunggu. " Kata Monica mencoba mengarahkan padaku.
" Lebih baik tidak.. aku sudah membuatnya kecewa dengan keputusan ku 3 tahun lalu meninggalkannya. Aku tidak punya keberanian untuk mendatangi nya lagi. Biarkan saja semua mengalir seperti ini. " Kata ku tidak ingin berharap lebih untuk hubungan kami.
Suasana kami pun jadi terdiam dan fokus melihat Mitzy yang asyik bermain bersama beberapa balita lain dari sesama pengunjung vip hotel.
Terlihat Monica mendapatkan panggilan penting dan pergi menjauh menitipkan Mitzy dalam pengawasan ku.
Sesekali aku tersenyum melihat tingkah lucu Mitzy saat bermain. Ia juga sesekali berinteraksi dengan ku layaknya seorang ibu dan anak.
Sesaat kemudian terdengar suara tangisan dan aku segera menghampiri nya.
Ternyata Mitzy sedang berselisih dengan balita perempuan lain hingga kedua nya menangis bersama.
" Mitzy, its ok. Sini. " Kata ku dengan cepat memeluk Mitzy yang pipi nya terlihat merah seperti terkena pukulan.
" Nak.. kamu kenapa, siapa yang memukul mu. " Sahut ibu balita lain itu.
Namun balita itu hanya menangis semakin kencang.
Ibu itu menatap tajam ke arah Mitzy yang jadi ketakutan dan memeluk ku.
" Dasar Nakal. Lihat.. Dia melukai anak ku. Tidak becus menjaga anak. " Gerutu nya membentak ku.
" Wajah anak ku jadi merah. Seperti anak yang tidak dapat didikan saja. " Bentak ibu itu merendahkan Mitzy.
" Sebelum mengkritik anak orang lain, lebih baik jaga anak mu sendiri. Mereka sesama anak kecil, kenapa anda sampai merendahkan seperti ini. " Bentak ku semakin tidak terima.
" Waahh.. kamu tidak tahu ya siapa saya.. saya itu pengunjung rutin vvip di sini. Siapa kamu berani berani nya mengajari ku? Aku akan bilang pada manager disini.. supaya tidak membiarkan sembarang orang seperti mu masuk kesini. " Kata ibu itu semakin menghina.
" Mommy. " Tiba tiba, di tengah perdebatan itu.. Mitzy tiba tiba memandang ku dan mengatakan hal yang tak terduga.
" Mommy. "
Air mata ku pun tak berhenti berlinang melihat Mitzy yang dengan tulus mengandalkan ku untuk melindungi nya.
" Aku tidak peduli siapa pun kamu.. yang aku tahu disini.. kita berdua sama sama ibu yang ingin melindungi anak kita masing masing.. jangan pernah merendahkan anak ku, atau aku juga bisa berbuat hal yang sama kepadamu. " Jawab ku dengan reflek begitu emosi dan berani.
Tanpa memperpanjang masalah, aku menggendong Mitzy dan berbalik untuk meninggalkan playground.
Seketika aku pun mati langkah ketika mendapati Morgan sudah berdiri tepat di hadapan ku.
Ia melihatku menggendong putri nya, bahkan mungkin juga mendengarkan perkataan ku.
__ADS_1
Ekspresi Morgan terlihat begitu marah hingga wajahnya merah padam dan ia mengepalkan kedua tangan nya.
Tanpa ragu ia melangkah mendekat ke arah ku yang sedang mendekap putri nya.
" Daddy. " Gumam Mitzy senang di dalam pelukan ku.
Ku kira Morgan sedang menghampiri ku dan marah, namun ternyata ia melewati ku dan menghampiri ibu jahat itu.
" Aku ayah nya. Ini kartu nama ku. Cari saja aku jika memang anak mu terluka parah. Sebaliknya, aku juga akan mencari mu bahkan sampai ke ujung dunia, jika putri ku terdapat sedikit saja goresan. " Sahut Morgan dengan sangat dingin, bagai induk Singa yang marah.
" Oh iya, satu lagi. Siapkan pengacara mu, sewaktu waktu aku bisa saja menuntut mu. " Ancam Morgan tanpa ampun dan begitu berkharisma.
Wanita itu tak berkutik setelah melihat kartu nama Morgan yang terdapat lambang Group JJ, perusahaan raksasa terkenal yang merajai dunia bisnis melampaui perusahaan suami nya yang ia sombongkan baru saja.
Morgan berjalan menghampiri ku, aku bisa melihat bahwa lelaki itu sedang berjuang mengendalikan ekspresi nya di hadapan ku.
" Ayo, ikut daddy. " Kata Morgan sambil mengambil alih Mitzy dari pelukan ku tanpa melihatku sedikit pun.
Namun tidak di sangka, tangan mungil Mitzy memegang erat jari kelingking ku hingga kami bertiga terhenti di tempat dan situasi yang sama.
Monica yang baru saja kembali dan melihat Morgan sudah ada disana, juga tidak kalah terkejutnya.
Wajah nya dipenuhi dengan senyuman puas, dimana akhirnya kami bisa bertemu.
" Ikut Mommy. " Sekali lagi Mitzy mengucapkan kata itu dan di hadapan Morgan.
Hati ku begitu sakit setiap kali mendengar nya, ingin rasanya aku menggapai dan melindungi malaikat kecil ini.
" Mitzy. Dengarkan daddy. Jangan panggil dia mommy. Lepaskan dia. " Sahut Morgan dingin yang terbawa emosi setelah melihat ku dan melepaskan tangan Mitzy dari jari ku.
Tanpa ragu, ia meninggalkan ku sambil membawa Mitzy di ikuti oleh Adit dan para bodyguardnya.
Ketika Mitzy kembali terpisah dengan ku, aku bisa kembali mendengar suara tangisan anak itu.
Namun karena keangkuhan Morgan yang kecewa padaku, dia tidak mempedulikan Mitzy yang menangis sambil melihat ku yang semakin jauh dari pandangan nya.
" Mommy.. Mommy.. " panggil Mitzy sambil menangis tersedu sedu dipisahkan dariku.
Begitu sesak..
Kenapa Mitzy??
Kenapa kamu harus menangisi ku.. wanita yang sudah mengecewakan dan meninggalkan ayah mu.. wanita yang bahkan baru beberapa hari bertemu dengan mu..
Apakah ikatan kita sudah sampai sedalam itu???
__ADS_1
Apakah Rosa benar benar memberikan hak nya kepadaku untuk menyayangi dan melindungi mu??
Kenapa aku merasakan keterikatan seperti ini..