
Part 63 " Stiker Ajaib "
Malam ini tepat nya pukul 23.25 aku baru sampai di rumah.
Aku sengaja pulang larut malam karena menghindari para penghuni rumah termasuk Morgan.
Aku masih belum bisa mengatasi rasa malu dan canggung yang mencekik setelah kejadian semalam.
Ketika aku perlahan masuk, tiba tiba terdengar suara seseorang membuka pintu menyusulku.
Dan ternyata Morgan juga baru saja pulang, tepat di belakang ku.
" Kenapa mengendap endap seperti pencuri?? " Suara berat yang ingin kuhindari, tiba tiba muncul di telinga ku.
" Mor.. Morgan.. kamu.. juga baru pulang. " Sahut ku gugup.
" Aku sengaja pulang malam untuk menghindari mu, tapi malah bertemu. " Jawab Morgan jujur.
" Sama. " Sahut ku tidak mau kalah.
Aku pun ingin mengakhiri pembicaraan ini dan segera masuk ke kamar.
Tanpa di sangka Morgan menghentikan ku dan menarik tangan ku.
" Aku masih mau bicara dengan mu. " Kata Morgan tiba tiba.
" Semalam.. maafkan aku, mengejutkan mu.. dan mencium mu tanpa ijin. " Kata Morgan gentle mengakui kesalahannya.
" Jadi kamu ingat.. bagus lah. " Gumam ku yang sebenarnya merasa sedih jika Morgan tidak mengingat apapun semalam.
" Aku maafkan. Kamu sedang mabuk, jadi apa boleh buat. " Jawab ku mulai santai.
Sekali lagi aku ingin beranjak pergi dan berpaling dari nya.
Dalam benak ku, aku tidak ingin mendengar perkataan Morgan lebih jauh lagi karena takut.
Aku takut bahwa ia akan menganggap semua nya sebagai sebuah kesalahan, sebuah nafsu sesaat tanpa di dasari rasa cinta.
Aku lebih baik segera menghindar sebelum semua perkataan itu keluar dari mulut Morgan, mengingat bahwa sikap nya pada ku sangat dingin.. tidak seperti dulu.
" Sesil. " Panggil Morgan sekali lagi mencegah ku pergi dari nya.
" Apa lagi?? " Sahut ku yang ingin segera kabur.
Tiba tiba.. ia mendekatkan wajah nya dan memberikan ciuman singkat di bibir ku.
Dan kali ini dalam keadaan sadar.
Kedua mata ku terbelalak kaget dengan perlakuan Morgan.
" Ap.. apa yang kamu lakukan?? " Tanya ku heran.
" Aku ingin memastikan sesuatu. " Jawab nya tetap tenang.
" Kamu.. habis minum lagi ya. " Gumam ku penasaran dengan tingkah Morgan yang mendadak jadi begini.
__ADS_1
" Tidak. Aku sama sekali tidak minum. Aku ingin memastikan perasaan ku. Jantungku terus berdebar ketika berada di dekat mu. Setiap melihat mu, aku ingin selalu menyentuh mu. " Kata Morgan dengan tatapan serius tertuju padaku.
" Aku rasa... kamu menang. " Ucap Morgan dengan nafas panjang.
" Jadi.. kamu, sudah tidak lagi membenci ku?" Tanya ku juga memastikan sesuatu.
" Tentu saja aku membenci mu. " Sahut Morgan.
" Aku membenci mu karena putus asa, kamu membuat ku sangat mencintai mu.. sampai sampai aku kehabisan cara untuk menyingkirkan mu. " Lanjut Morgan dengan mata berkaca kaca, begitu juga aku.
" Masih tersisa 76 hari lagi, tapi aku menyerah padamu. Kalau kamu berani meninggalkan ku lagi, aku benar benar akan menculik mu dan membawa mu ke tempat yang sangat jauh... "
Belum selesai Morgan bicara, hati ku yang meletup letup sangat bahagia.. dengan segera memeluk Morgan.
Air mata ku tidak bisa terbendung dan aku menangis karena bahagia dimana Morgan dengan jujur mengungkapkan perasaannya padaku.
" Terima kasih Morgan. " Gumam ku bersyukur dalam pelukannya.
Morgan pun membalas pelukan ku dengan sangat erat.
" Kali ini.. jangan pernah melepaskan tangan ku lagi. " Kata Morgan terus memeluk ku erat.
Setelah moment romantis yang kami lalui.. aku dan Morgan dapat tersenyum bahagia kembali.
Aku pun dengan langkah ringan hendak berjalan masuk ke kamar ku, namun Morgan memeluk ku dari belakang dan menghentikan ku.
Jiwa kekanak kanakan nya mulai muncul, dan menempel sebuah stiker di tangan ku. Stiker ajaib yang dia berikan pada Mitzy.
" Apa ini?? " Tanya ku bingung melihat stiker di tangan ku.
" Hah?? Jangan bercanda. " Kata ku tertawa lucu.
Namun dengan cepat Morgan membalikkan tubuh ku ke hadapan nya.
Ia memegang pinggang ku erat dengan kedua tangan nya dan mulai mencium bibir ku lagi.
Dengan lembut..
Morgan mencumbuu tanpa henti dan agresif setiap bagian bibir ku.
Aku bisa merasakan kerinduan Morgan yang begitu mendalam kepadaku.
Aku yang juga tidak bisa lagi menutupi perasaan ku, mengikuti alur agresif Morgan.
Lama kelamaan Morgan membuatku duduk di atas meja makan.
Kini tinggi kami jadi setara dan ciuman panas kami terus berlanjut bahkan tanpa nafas jeda.
Keesokan pagi nya..
Dengan mata yang mulai terbuka dari tidur nyenyak ku.. aku mendengar suara tangisan Mitzy yang begitu keras..
Huee huueee
Dengan cepat, aku keluar dari kamar ku..
__ADS_1
Terlihat bu Asih dan Morgan yang masih memakai piyama sudah duduk di ruang tengah..
Bu Asih mencoba menenangkan Mitzy, sedangkan Morgan hanya tertunduk terdiam.
" Mitzy.. kenapa nangis??" Tanya ku panik.
" Stiker ku hilaaang... hueee... " Sahut Mitzy yang menangis karena mendapati stiker nya hilang satu.
Aku pun sontak langsung mengetahui pelaku yang mencuri stiker ajaib Mitzy, dia adalah Morgan.
" Nanti daddy belikan lagi ya nak.. jangan nangis." Kata Morgan merayu Mitzy.
Namun anak itu tetap sedih dan menangis.
" Mitzy.. begini saja.. karena stiker nya hilang, jadi langsung Mitzy tukar aja.. kamu mau apa??" Kata ku sambil mendekat dan membelai nya.
Mendengar perkataan ku, Mitzy mulai menghentikan tangisan nya.
" Ayo.. bilang saja.. mau ditukar dengan apa?? Mitzy lagi pengen apa? " Tanya ku sekali lagi membuat nya berpikir.
" Adik. "
Bagaikan tersambar petir di pagi hari, jawaban Mitzy begitu membuat ku jantungan.
" Uhuk uhuk.. " Morgan yang ikut mendengarnya pun sampai tersedak dan terkejut.
" Haha.. yang lain Mitzy, kalau itu kan tidak bisa di beli. " Gumam ku tersenyum getir.
" Tapi daddy bisa beli mommy.. mommy bisa beli adik... " Jawab Mitzy dengan polos nya.
Bu Asih pun juga tak bisa menahan tawa melihat kekonyolan kami bertiga pagi itu.
Aku pun terdiam dan tak bisa menjawab lagi.
Tiba tiba Morgan yang sudah tenang mencoba memberi pengertian pada Mitzy.
" Sayang.. mommy dan adik.. itu adalah manusia, manusia tidak bisa dibeli dengan uang. Manusia bisa kita miliki dengan hati, bukan dengan uang. " Kata Morgan menjelaskan, namun anak sekecil Mitzy tidak mungkin memahami nya.
" Kurasa penjelasan mu terlalu berat. " Protes ku pada Morgan.
" Begini.. Mitzy sayang daddy.. Mitzy sayang mommy.. Mitzy sayang bu Asih.. itu semua karena dari hati, bukan karena di beli dengan uang. Mitzy paham kan? " Ungkap ku mencoba menyederhanakan.
" Penjelasan mu sama saja rumit nya. " Protes Morgan ganti membalas ku.
Saat ini Mitzy berada di tengah tengah keberisikan ku dan Morgan yang berdebat.
" Tuan.. nyonya... sarapan sudah siap. " Sela bu Asih dengan sengaja, agar perdebatan kami berhenti.
Kami berdua pun jadi malu ketika sikap ke kanak kanakan kami dilihat oleh orang lain.
" Non Mitzy.. ayo sarapan.. Bu Asih buat cheese macaroni lho. " Rayu Bu Asih dengan makanan kesukaan Mitzy.
Tanpa pikir panjang, Mitzy pun terpikat dan meninggalkan ku serta Morgan.
Kedua mata kami pun saling pandang dan melempar senyuman satu sama lain.
__ADS_1
Rasanya.. bahagia...