
Part 25 " Break up "
Malam itu aku mengurungkan niat ku menemui Morgan, karena aku tidak siap.
Bahkan aku menjauhkan ponselku karena sedang ingin tenang sendirian.
Meski dalam hati ku, aku terus khawatir dan penasaran ingin mendengar penjelasan Morgan secara langsung.
Aku berusaha positif thinking dan meyakinkan diriku bahwa mereka hanya berteman, mereka berpelukan hanya sebatas sebagai teman.
Namun pemikiran itu tetap membuat dada ku terasa sesak.
Di rumah Morgan.
PLAAKKK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Morgan langsung dari tangan seorang ayah yang begitu menyeyanginya.
" Memalukan !!! Bagaimana bisa kamu ceroboh seperti itu. " Bentak ayah Morgan setelah mendengar kabar tentang kehamilan Rosa yang saat ini ikut hadir di rumah Morgan.
Sedangkan ibu Morgan juga begitu shock dan hanya bisa menangis.
" Maafkan aku pa. Aku mengecewakan mu. " Kata Morgan yang sudah berada di jalan buntu selain rencana untuk bertanggung jawab kepada Rosa, meski hatinya terus memanggil nama Sesil.
" Lalu sekarang apa rencana mu? Selama ini kamu tidak pernah mengecewakan kami.. kenapa Morgan?? Kenapaa?? " Bentak ayah Morgan lagi begitu marah.
" Dalam waktu dekat.. kalian harus segera menikah. Titik. " Keputusan bulat yang tidak bisa ditolak oleh Morgan dan juga Rosa.
Setelah terjadi kegemparan di rumah orangtua Morgan, malam hari Morgan melampiaskan frustasinya dengan minum alkohol di balkon kamar tidur nya.
Hari ini ayah dan ibu nya tidak mengijinkan Morgan pulang ke apartmen.
Perlahan ibu Morgan, masuk menemui Morgan sendirian di kamar Morgan.
" Nak.. " Kata ibu Morgan lembut.
Ia juga begitu merasa hancur melihat keadaan Morgan yang kacau bahkan melihat air mata menggenang di kedua mata anak kebanggaannya itu.
" Kamu.. baik baik saja? " Tanya ibu Morgan duduk di sebelah nya.
" Aku.. tidak baik baik saja ma. Semua ini begitu membunuhku. " Kata Morgan yang jujur kepada ibunya.
" Tapi bagaimanapun juga.. kamu sebagai lelaki, harus bertanggung jawab nak. "
" Hmm.. aku tahu ma. Aku harus melakukannya.. tapi.. bagaimana dengannya?? " Kata Morgan yang sedetik pun tidak pernah melupakan Sesil.
__ADS_1
" Gadis itu.. dia pasti akan sangat membenciku.. aku.. aku tidak ingin melepaskannya, tapi aku juga tidak mungkin menahannya.. Aku harus bagaimana ma?? Aku mencintai gadis itu.. " Kata Morgan yang luluh lantah menangis di pelukan hangat ibunya.
Ibu Morgan pun tidak bisa memberikan solusi apapun karena bagaimanapun juga, situasi ini memang begitu sulit dan membuat Morgan harus mengorbankan perasaannya.. begitu juga dengan Sesil.
" Segera beritahu dia nak.. jangan biarkan dia terlalu lama menunggu dan semakin sakit. " Nasehat bijak ibu Morgan sambil menepuk nepuk bahu anaknya.
Hari ini.. hari paling bersejarah untuk ku..
Setelah menunggu kabar dari nya, akhirnya hari ini Morgan mengajak ku untuk bertemu dan berbicara di taman dekat apartmen ku.
Rasa takut,
Rasa khawatir,
Rasa gelisah menghantui ku dalam setiap langkah yang kupijak.
Aku mulai mendekat dan melihat punggung lelaki yang 3 bulan terakhir ini memberiku banyak cinta dan kasih sayang, bahkan melebihi semua lelaki yang pernah berkomitmen dengan ku selama hitungan tahun.
Aku melihat wajah tertunduk dan punggungnya di balik kemeja hitamnya.
Jantung ku berdebar tak karuan di balik pakaian kasualku di Minggu pagi yang cukup cerah.
" Morgan. " Panggilku pelan.
Aku tidak berani mendekat karena aku merasa saat ini ada sebuah tembok di antara kami karena sebuah ketidakjelasan.
Tiba tiba kedua lututnya tersungkur di hadapan ku membuat ku reflek sedikit menjauh melangkah mundur.
" Apa.. yang kamu lakukan?" Tanya ku semakin gugup.
Morgan menangis dan tidak berani menatapku sama sekali.
" Maafkan aku.. aku benar benar minta maaf. " Kata Morgan penuh penyesalan.
" Untuk apa?? Apa kamu melihat ku kemarin di basement apartmen?? " Aku pun mulai mencari cari alasan di kepala ku tentang permintaan maaf Morgan yang tiba tiba.
" Ehm.. Morgan, kalau masalah pelukan itu.. kamu tidak perlu sampai berlutut begini, aku akan mendengar penjelasanmu. " Jawab ku mulai mendekat dan mencoba memperbaiki suasana.
" Aku harus menikahi Rosa. " Kata Morgan tiba tiba seakan meruntuhkan dunia ku.
" Apa?? "
" Aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidup ku.. Rosa mengandung anak ku dan aku harus menikahinya. "
Seperti di hantam sekeras kerasnya, hati ku sangat merasakan sakit tidak percaya dengan perkataan Morgan.
__ADS_1
" Kamu.. tidur dengan nya? " Kata ku ter bata bata.
" Aku.. entah bagaimana setelah makan malam waktu itu, aku hilang kendali dan aku bersamanya.. Maafkan aku karena aku menutupi semuanya darimu, dan jadi begini. " Penjelasan Morgan dengan isak tangisnya.
Suasana jadi semakin kacau..
Antara marah, benci dan terluka semua menyatu hingga air mata ku tidak berhenti mengalir.
" Kenapa kamu bisa setega itu Morgan?? Aku kira kamu berbeda dari lelaki lain.. tetapi.. kamu lebih menjijikkan Morgan. " Bentak ku hilang kendali.
" Maafkan aku Sesil, hanya itu yang bisa kukatakan padamu. Kamu memang tidak pantas mendapatkan lelaki brengsek seperti ku. " Kata Morgan merasa bersalah.
PLAAAKKK
Untuk pertama kalinya aku mengayunkan tamparan ku pada seorang lelaki yang kucintai.
Aku benar benar kehabisan kata dengan semua fakta yang terjadi.
" Berhari hari aku memikirkanmu, mengkhawatirkan mu.. tapi.. kamu datang berlutut dan meminta maaf begitu saja.. " Sahut ku yang masih ingin mencoba menolak kenyataan.
" Aku memang tidak pantas untuk dimaafkan Sesil. Tapi aku.. aku sangat menderita harus seperti ini. Karena.. wanita yang aku cintai adalah dirimu. "
" CUKUP !!! Hentikan semua sandiwara mu Morgan. Sejak awal.. hubungan kita hanya settingan dan aku percaya begitu mudah kepadamu. Kita.. " Aku mencoba dengan tegas menatap kedua mata Morgan.
" Kita akhiri semua ini Morgan.. Kita Putuskan saja hubungan yang salah ini. " Ungkap ku penuh keyakinan.
Mendengar itu sontak Morgan bangkit dan menahan tangan ku.
" Sesil.. " Ia mencoba menahan ku dan ingin lebih lama memberi penjelasan padaku. Namun hari itu, semua hati dan pikiran ku sudah gelap tertutup serpihan kehancuran.
Untuk pertama kali nya juga, aku mengucapkan kata putus walau hati ku begitu sakit saat mengatakannya.
Aku menampik tangan Morgan dengan kasar dan meninggalkannya dengan isak tangis ku yang begitu deras tak terhentikan.
Kisah cinta ku untuk ke sekian kali nya hancur lagi, bahkan kali ini lebih dahsyat sakitnya dari yang sebelum nya.
Aku yang menaruh cinta kepada Morgan dengan tulus, merasa terkhianati dan semua harapan ku untuk menua bersama lelaki itu, pupus sudah.
Morgan dengan blank duduk di dalam mobilnya. Dia masih tetap setia berada di depan apartmen ku meskipun tidak ada lagi yang bisa ia perbuat dengan hubungan yang sudah terlanjur hancur ini.
Ia melampiaskan emosinya dengan memukul mukul kemudi mobil sekeras yang ia bisa dan berteriak seperti orang gila.
Begitu tersiksa nya batin Morgan yang terpaksa harus melepaskanku karena sebuah ketidak sengajaan yang bahkan dirinya sendiri pun tidak mengerti.
Tapi bagaimana pun juga, Rosa tetap pemenangnya.. karena darah daging Morgan saat ini ada dalam perutnya.
__ADS_1
Cinta kami pun harus dikorbankan demi sebuah nyawa yang tidak berdosa dalam rahim Rosa.