Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
NEW ZEALAND


__ADS_3

Part 20 " New Zealand "


Welcome to New Zealand..


Pagi ini akhirnya aku bersama Morgan tiba di New Zealand setelah mendapatkan cuti 3 hari dari kantor.


Awalnya aku sangat pesimis untuk bisa cuti karena terlalu mendadak, namun lagi lagi.. the power of Morgan, ia secara langsung menghubungi atasan ku dan mengajukan cuti untuk ku.


Antara senang tapi juga tidak enak hati..


Morgan yang hari ini berpakaian semi formal dengan kemeja putih dan celana coklat sepanjang mata kaki, serta sepatu kets putih.. jalan menggandeng tangan ku keluar dari lobby airport setelah semua pemeriksaan identitas berjalan lancar.


Suasana hati kami begitu cerah, yaahh.. seperti liburan bersama sekaligus menghadiri pesta pernikahan teman nya.


Saat keluar dari airport, terlihat alphard putih sudah menunggu kami.


Aku yang baru pertama kali ke New Zealand begitu terpesona kagum dengan keadaan sekitar yang bersih dan sejuk.


Terlebih lagi tempat teman Morgan yang bernama Albert, menggelar pesta pernikahan berkonsep outdoor di tepi pantai.. dengan dekorasi alami yang indah, bentangan laut biru dan bukit bukit hijau yang mengelilingi.


" Kita makan siang bareng dulu ya. Aku ada janjian ketemu dengan teman teman ku di resto hotel, tempat kita menginap. " Kata Morgan yang tidak melepaskan tangan ku walau kami duduk berdampingan.


" Ehm.. bagaimana dengan ku? Apa aku juga harus ikut? " Tanya ku yang sebenarnya enggan untuk bergabung dalam komunitas elite Morgan. Aku lebih merasa nyaman jika Morgan mengijinkan ku jalan jalan sendiri.


" Tentu saja. Disana juga banyak wanita nya kok, teman teman ku membawa pasangan mereka. Berbaur saja, selesai makan siang.. baru kita jalan jalan sendiri. " Jawab Morgan yang ternyata mengetahui isi hati ku.


Kurang lebih 2 jam perjalanan, aku sampai di resort yang begitu mewah.. tempat Morgan dan teman temannya akan menginap.




Disana Morgan disambut begitu akrab dengan para teman lelaki nya di meja terpisah.


Sedangkan aku, begitu tidak percaya diri dan tertekan duduk bersama para wanita di meja seberang.


Dari ujung kepala hingga ujung kaki, mereka begitu cantik dan berhiaskan barang barwng branded. Berbeda jauh dengan ku yang hanya memakai hotpants dan sweater putih.


Terlebih lagi, ada satu perempuan yang terus memandang ku dengan senyuman penuh arti, dia adalah Rosa.


" Kamu kekasihnya Morgan ya? Kenalin.. aku Siska. "


" Aku Naomi. "


" Aku Merry. "

__ADS_1


" Kamu pasti sudah kenal aku kan. " Kata Rosa yang juga semeja dengan ku.


Satu per satu mereka memperkenalkan diri dengan anggun dan cantik membuat ku semakin tertekan.


" Hai.. aku Sesil. " Jawab ku.


Mereka pun mulai memandangi ku dari atas sampai bawah, seolah olah seperti barang yang sedang di scan dan otomatis muncul harga nya.


" Ehm.. aku kira kamu datang nemeni Morgan, ternyata engga.. " Kata Siska to the point kepada Rosa.


Percikan api pun dimulai melalui bibir bibir wanita ini.


" Tidak, aku datang sendiri. Kan Morgan sudah ada Sesil. Kalau aku beda cerita, hubungan ku dan Morgan adalah hubungan yang tidak bisa di deskripsi kan. " Jawab Rosa seakan ingin membuat ku cemburu.


" Lalu.. bagaimana cerita nya seorang Morgan bisa jadi pacarmu? Kalian bertemu dimana? " Tanya Naomi mulai penasaran dengan ku.


" Oh.. aku dan Morgan bertemu di pulau saat berlibur.. yahh begitulah dan hubungan kami mengalir begitu saja. " Jawab ku seperlunya.


" Jujur aku sempat kaget, Seorang Morgan memiliki kekasih bukan dari kalangan pebisnis.. Selama ini, setidaknya dia selalu mengencani wanita wanita yang menguntungkan untuk bisnisnya. Hahaha. " Sahut Merry sambil tertawa menyindir.


Dan aku mulai merasa percakapan ini adalah belenggu toxic untuk ku.


" Yaahh.. brati aku perlu minta tips dari Sesil kan, bagaimana cara menaklukan lelaki hebat seperti Morgan. " Timpal Rosa dengan sengaja.


" Ayolah Ros.. kamu kan juga pernah dekat dengan Morgan, untuk apa meminta tips. Banyak pria di luar sana yang mengantre untuk mu tanpa kamu harus mengobral dirimu. " Jawab Siska dengan penekanan dan seakan ditujukan untuk semakin menyindir ku dan aku masih berusaha tenang.


Aku pun mencoba memperbaiki suasana hati ku yang tertekan dan kesal dengan pembicaraan toxic ini.


" Tentu saja. " Sahut ku dengan percaya diri menyilakan kaki ku dan sontak membuat mereka terdiam.


" Tapi aku tidak perlu sampai segitu nya deh, karena Morgan lah yang menyukai ku lebih dulu. Dia begitu tergila gila padaku, bahkan kemana pun dia pergi.. aku harus menemani nya. Hahaha. Bahkan dia rela memohon kepada atasan ku, supaya aku bisa cuti dan menemani nya kesini.. " Balasan ku pun mulai dengan percaya diri seperti bom waktu yang terlempar di wajah mereka yang meremehkan aku, terutama Rosa.. dia terlihat begitu geram.


" Kalian jangan khawatir juga tentang masa depan ku.. karier ku saat ini sangat stabil, dan aku bisa mencukupi apapun keinginan ku sendiri.. Yaahh meskipun Morgan selalu merengek ingin membelikan berbagai hal untukku.. Hahaha. Meskipun aku tidak menguntungkan untuk bisnis Morgan, tapi dia merasa beruntung memiliki ku.. karena apa?? Karena Aku bisa membuatnya bahagia, sampai sampai dia tidak ingin melepaskan ku. Sepulang dari perjalanan bisnis.. dia bahkan sampai naik helikopter hanya untuk segera bertemu dengan ku. Manis sekali. " Balasku Skak Matt sekaligus pamer di hadapan para rubah itu.


Mereka hanya terdiam dan malu sendiri mendengar tanggapan ku yang tanpa keraguan.


Saat ini senyuman ku terlihat paling cerah dan bahagia di tengah para rubah itu.


" Itu benar. " Terdengar suara Morgan yang ternyata sempat mendengar pembicaraan kami berlima.


Dengan satu tangan dalam saku, dia berjalan dengan penuh kharisma menghampiri ku.


" Aku sangat tergila gila padamu. Aku sudah selesai, ayo kita pergi. " Sahut Morgan mendukung tanggapan ku sambil mengulurkan tangannya.


Tanpa pikir panjang, aku menyambut uluran tangan Morgan di hadapan para wanita itu.

__ADS_1


" Maaf, sepertinya aku tidak bisa ber lama lama disini bersama kalian. Aku sudah berjanji pada Morgan untuk jalan jalan berdua. " Ucapku puas sambil melingkarkan kedua tangan ku ke lengan Morgan.


" Terimakasih ya, sudah menemani Sesil ngobrol. Sampai jumpa besok. " Kata Morgan mengakhiri pembicaraan toxic ini dan kami pun pergi dengan santai berdua.


" Apa apaan sih wanita itu, dia emang sengaja mau pamer ya. " Gumam Siska kesal.


Namun kekesalan Siska tidak sebanding dengan kekesalan Rosa yang begitu mendendam hingga membuat wajahnya memerah.


Aku dan Morgan memutuskan untuk berjalan jalan menikmati suasana pedesaan pesisir pantai di dekat resort itu.


Terlihat banyak wisatawan yang menikmati beberapa makanan yang di jual di berbagai kedai di sepanjang jalan itu.


Aku tidak berani menatap Morgan karena merasa malu, baru saja aku yang terpancing emosi menceritakan hal yang menurut ku berlebihan.


" Sorry. " Gumam ku merasa malu.


" Untuk apa? " Tanya Morgan tidak mengerti.


" Aku tadi bicara hal yang tidak perlu tentang mu. " Jawab ku lirih.


" Semua yang kamu bicarakan benar, tidak perlu meminta maaf. " Jawab Morgan santai sambil tersenyum melihatku.


Aku pun masih belum puas dan merasa tersindir dengan senyuman Morgan. Aku menghentikan langkah ku dan menarik tangan Morgan.


" Kamu kenapa tersenyum begitu, pasti mau menggoda ku. Aku tadi tidak bermaksud melebih lebihkan.. tapi aku terpancing oleh mereka, yang selalu meremehkan ku.. Hanya karena aku kekasih seorang Morgan Ricardo, seharusnya kan mereka tetap menghargai ku.. Aku tidak ingin di anggap sebagai benalu yang menempel pada nama mu. " Ungkap ku meluapkan maksud isi hatiku.


" Aku tersenyum karena aku bangga padamu. Kamu bisa melindungi diri mu sendiri dari para rubah itu. " Kata Morgan sambil membelai rambutku bak anak kecil.


" Sesil.. apa yang kamu katakan semua benar. Aku lah yang menyukai mu lebih dulu, aku tergila gila padamu, aku ingin semua orang di dunia tahu bahwa kamu milik ku.. dan aku juga bahagia setiap berada bersama mu. Semua perkataan mu tadi benar. " Kata Morgan sambil tulus memandang kedua mata ku yang entah mengapa jadi terharu dan menggenang air mata.


" Morgan Ricardo, itu hanyalah sebuah nama.. aku punya kelemahan juga, karena aku juga manusia biasa.. jangan pedulikan apa kata orang, karena apapun yang mereka lakukan.. hati ku ini hanya aku yang berhak mengaturnya.. dan Kamu bukan benalu, kamu itu bagiku seperti pohon.. pohon yang sangat besar yang memberiku keteduhan dan kenyamanan setiap aku di dekatmu. Aku.. mencintaimu Sesilia Deana Putri. "


Setelah menyelesaikan kalimat indah nya yang membuat ku tersentuh di tengah jalan yang ramai akan lalu lalang orang asing, Morgan selangkah mendekat ke arah ku.


Saat ini yang bisa aku lihat.. aku dengar.. dan aku rasakan hanyalah kehadiran Morgan..


Semua keramaian dan kebisingan seakan hanya bayangan yang sama sekali tidak mengusik ku.



Morga mulai menyentuh pipi ku dan mendekatkan bibirnya.


Aku yang juga saat ini menantikan nya, perlahan memejamkan mata..


Hingga kehangatan serta kelembutan bibir Morgan terasa menyentuh bibirku dan bergerak secara perlahan, semakin intens semakin dalam kurasakan nafas lelaki ini..

__ADS_1


Sore hari kami, ditutup dengan ciuman selamat datang di negeri orang asing.


__ADS_2