Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
DEAR SESILIA


__ADS_3

Part 49 " Dear Sesilia "


Dear Sesil,


Wanita yang sangat kubenci..


Wanita yang sangat ingin kukalahkan..


Wanita yang sangat ingin kusingkirkan..


Banyak hal yang terjadi dan belum selesai di antara kita..


Semenjak kecil sampai saat ini, aku tidak pernah gagal dalam mencapai tujuan ku.. terutama sesuatu yang sangat kuinginkan..


Namun sekarang aku masih tidak menyangka bahwa sikap ku itu membuatku kehilangan segalanya..


Sejak hari dimana kamu menolong ku, aku tidak bisa berhenti memikirkan mu..


Ketika aku merintih kesakitan bahkan merasa hampir mati.. aku mengingat kehangatan tangan mu yang memegang ku dengan erat..


Aku mengingat suara lembutmu yang berkata 'kamu pasti bisa, kamu dan anakmu harus selamat'...


Dan sekarang lihatlah.. aku berhasil melahirkan seorang putri yang cantik yang selama ini kamu khawatirkan..


Sesil, waktu ku tidak banyak..


Aku harus membayar semua perbuatan yang sudah kulakukan..


Aku menghancurkan hidup mu..


Aku menghancurkan hidup Morgan..


Maafkan aku untuk semua kesulitan yang sudah kusebabkan..


Dan terima kasih sudah menjadi penolong di hari hari terakhir ku..


Aku berharap bahwa dengan kepergian ku, semua akan membaik..


Jika suatu saat kamu kembali dan membaca surat ku,


Aku ingin mengatakan dengan segala ketulusan hati ku.. Terima kasih..


Aku berharap, cinta mu dan Morgan bisa kembali hidup..


Aku juga berharap, putri ku bisa berada dalam pelukan mu.. berada dalam pelukan wanita serta ibu yang tepat untuk nya..


With love


Rosa,,


Aku menangis tersedu sedu saat membaca kata demi kata yang Rosa tulis untuk ku di hari hari sebelum kematiannya.


Terbungkus amplop dan juga kertas yang sudah usang, akhirnya Monica berhasil memberikannya kepadaku setelah 3 tahun kepergian Rosa.


Hati ku begitu sakit membayangkan kepergian Rosa yang semasa hidupnya terbelenggu dalam kebencian.

__ADS_1


Dalam benak ku, seandainya saja ia bisa bertahan.. pasti kami bisa memeluk satu sama lain dan berdamai dengan indah.


Kedua mata ku yang basah, tertuju pada Mitzy.. seorang anak kecil yang polos yang bahkan tidak bisa mengingat wajah ibu kandung nya.


Aku meraih tubuh kecil Mitzy dari dekapan Monica dan memeluknya dengan erat.


Hiks hiks hiks hiks


Monica yang melihat dan mendengar tangisan ku pun, ikut terbawa suasana.


Ia memeluk ku dan Mitzy untuk menambah kekuatan.


" Mitzy.. " Gumam ku begitu menyayangi anak ini seperti anak ku sendiri, meski aku sadar bahwa aku tidak memiliki hak atasnya.



Terlebih lagi.. aku yang sudah meninggalkan Morgan dan memberi bekas luka di hati nya.


Kebenaran yang memilukan itu begitu berbekas di hati dan pikiran ku hingga membuat kedua mata ku sembab.


Saat ini aku tidak ingin Morgan mengetahui keberadaan ku dan menjadi tidak nyaman.


Aku menitipkan pesan kepada Monica untuk tidak mengatakan apapun tentang pertemuan kami saat ini.


Selain itu aku juga belum siap untuk bertemu dengan lelaki itu, meskipun mendengar nama nya saja masih membuat ku berdebar tidak karuan.. serta situasi dan kondisi kami sangat tidak baik.


Pikiran ku jadi kacau, aku menggenggam erat surat yang Rosa berikan kepadaku dan langkah ku begitu berat untuk kembali ke kamar.


Aku merasa kasihan terlebih lagi kepada Mitzy, namun mendengar cerita Monica tentang bagaimana Morgan luar biasa menyayangi dan mengasuh Mitzy.. aku merasa begitu bangga.


Di kamar Morgan


Huuueee huuuuueee huuuu


Morgan yang baru selesai dengan pekerjaannya, begitu panik mendengar dan melihat Mitzy yang terus menangis setelah berpisah dengan Sesil.


" Sayang.. jangan nangis terus... " Kata Monica yang sudah ber jam jam berusaha menenangkan Mitzy.


" Mitzy kenapa?? " Tanya Morgan khawatir.. kemudian langsung menggendong dan mendekap putri nya.


" Dari tadi dia nangis kak. Ga tau mau nya apa. " Gumam Monica yang mulai kelelahan.


" Mitzy, kenapa nak? Daddy disini.. lihat, daddy sudah datang. " Bujuk Morgan sabar.


Huuuuee huuueee


" Ma.. ma.. maa.. " Gumam Mitzy di tengah tangisannya.


Morgan pun mulai merasa aneh, sejak kemarin Mitzy mengucapkan kalimat tidak jelas yang sama.


Mitzy kesulitan untuk menyebutkan kata itu "Mama" karena sejak ia lahir, memang tidak ada satupun yang mengajarkan nya kepada Mitzy. Bahkan anak kecil itu, tidak bisa memanggil ibu kandung nya yang sudah pergi jauh meninggalkannya.


" Ssttt.. jalan jalan sama daddy ya, beli ice cream ya.. Mitzy mau? " Bujuk Morgan memancing Mitzy dengan ice cream, namun tetap saja tidak mempan.


Hingga bahu pada jas nya basah karena air mata Mitzy yang tidak berhenti menangis.

__ADS_1


Monica pun mulai mengetahui perkataan Mitzy, namun ia sudah berjanji pada Sesil untuk tidak memberitahu Morgan.


" Mitzy.. Mitzy.. Mommy?? Maksud Mitzy.. Mommy??? " Sahut Monica tiba tiba memancing Mitzy dan mengejutkan Morgan.


" Mommy. " Dengan sekali ajaran, Mitzy akhirnya bisa mengucapkan apa yang sebenarnya ingin dia ucapkan.


" Monica.. apa apaan sih kamu.. " Bentak Morgan yang tidak suka mendengarnya.


Mendengar Mitzy menyebutkan kata itu, membuat hati Morgan sakit.


" Kakak lihat kan.. yang egois itu kakak.. bagaimana pun Mitzy membutuhkan sosok ibu untuk nya. " Bentak Monica tidak mau kalah dan merasa kesal dengan kekerasan hati kakaknya.


" Mommy. " Sahut Mitzy yang sudah tidak begitu menangis sambil menunjuk ke arah pintu kamar.


Morgan pun dengan segera membawa Mitzy keluar dari kamar untuk jalan jalan sekaligus mengalihkan perhatian Mitzy.


' Setelah bertemu Sesil, Mitzy pasti punya rasa nyaman tersendiri. Apa yang harus aku lakukan.. kakak ku sendiri begitu angkuh. ' Kata hati Monica yang jadi ikut pusing memikirkan nasib Mitzy dan Morgan.


Sedangkan aku yang sudah bersiap tidur di ranjang ku, begitu sulit untuk terlelap.


Pikiran ku seakan penuh, tapi aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kupikirkan.


Hati ku sesak, tapi aku tidak tahu apa penyebabnya.


Ke samping kanan,


Ke samping kiri,


Tetap membuat ku gelisah.


Aku pun memutuskan untuk turun ke area taman hotel untuk mencari udara segar.


Beberapa orang yang masih berkegiatan menikmati fasilitas keindahan hotel terlihat lalu lalang di depan mata ku.


Seketika langkah ku terhenti saat aku melihat seorang ayah dan anak sedang berjalan bersama bergandengan tangan di tengah taman.


Morgan..


Perawakannya yang tinggi dan gagah, wajah yang tetap tampan dan maskulin..


Berjalan menggandeng seorang putri kecil di setinggi paha nya.


Untuk pertama kali nya, aku bisa melihat lelaki itu lagi..


Walaupun hanya dari kejauhan, namun aku tidak bisa berhenti tersenyum dalam tangis haru ku.


Pemandangan yang sangat indah, sangat hangat seperti keluarga.


Kaki ku ingin mendekat tapi aku menahannya,


Bibir ku ingin memanggil namanya namun aku juga menahannya.


Aku mencoba menjernihkan pikiran ku,


Lelaki itu.. lelaki yang masih terbelenggu dalam rasa kecewa..

__ADS_1


Apa yang akan dia lakukan ketika kembali bertemu dengan ku???


__ADS_2