
Part 16 " Beruntung Memiliki mu "
Sehari sebelum kepergian Morgan ke Makau, pagi itu kami berangkat ke kantor bersama karena semalam Morgan merengek ingin menginap di rumah ku.
Ia mengantarku sampai depan gedung kantor ku, dan memberiku ciuman pagi di keningku.
" Usahakan nanti pulang lebih cepat, karena besok aku harus berangkat pagi ke bandara. " Pesan Morgan ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan ku.
" Iya, siap pak bos. Kamu sudah mengatakannya sebanyak 5 kali. " Jawab ku menyindir sambil menertawakan sikapnya yang kekanakkan.
" Hmm.. saat sedang kasmaran begini, aku rasanya.. sangat berat untuk pergi jauh darimu. " Kata Morgan masih saja mengeluh.
" Semangat, kan cuma seminggu. Lagipula.. jadwal siaran ku minggu depan cukup padat. Seminggu pasti terasa cepat. " Jawab ku mencoba menghibur Morgan, meski dalam hati.. Seminggu ku pasti hampa tanpa Morgan.
" Kemarilah. Beri pelukan untuk ku. " Kata Morgan sambil merentangkan tangannya dan aku memeluknya.
" Sampai jumpa nanti sore.. sayang. " Bisik ku iseng untuk menggodanya.
Akhirnya mendengar perkataan ku, senyuman Morgan kembali muncul sambil tersipu malu.
Pekerjaan pun sudah menyambut kami hari ini..
Aku melakukan 2 siaran sekaligus karena salah seorang pembawa berita yang sedang cuti.
Siang hari di cafetaria kantor, aku dan Nindi mengambil waktu untuk istirahat dan makan siang bersama.
Nindi tampak memperhatikan ekspresi wajahku yang lesu.
" Ayo semangat. Jangan di tekuk begitu wajahnya. " Kata Nindi menghiburku.
" Hmm.. sebenarnya aku juga agak berat di tinggal Morgan, padahal kami sedang mesra mesra nya.. tapi apa boleh buat.. aku tidak boleh jadi wanita egois. " Gumam ku menahan perasaan.
" Bagus Sesil, lagipula.. kalau sesekali kalian LDR an, bisa semakin membuat hubungan kalian penuh kerinduan. " Jawab Nindi mencerahkan suasana hati ku.
PRaaang.. KLontaanng
Suara barang pecah belah yang jatuh terdengar dari dapur cafetaria.
Beberapa orang yang makan siang disana terlihat berkerumun namun tidak ada satu pun yang mendekat untuk memberi pertolongan.
Terlihat salah seorang petugas kebersihan yang sedang hamil besar mengalami kontraksi bahkan air ketuban bercampur darah berceceran.
Ia menjerit kesakitan dan meminta pertolongan.
" Tolooong.. " Jeritnya kesakitan.
" Lagian udah tahu hamil besar.. kenapa masih masuk kerja. Bikin repot aja. "
Aku mendengar perkataan jahat dari salah seorang staf kantor.
Tanpa segan aku yang sebenarnya ingin menegurnya, tidak memiliki waktu.
Aku berpikir harus segera membawa nya ke rumah sakit.
Nindi juga memiliki pemikiran yang sama dengan ku, ia membantu ku memapah wanita itu dan menelepon taksi.
" Kenapa kalian cuma jadi penonton, kalau tidak mau membantu.. minggir. " Bentak ku merasa kesal dengan beberapa orang disana yang tidak peka.
__ADS_1
Dengan segera aku dan nindi membawanya ke rumah sakit untuk melakukan persalinan.
Aku menjadi penanggung jawab dan menyelesaikan adminstrasi nya.
" Gimana nih, sejam lagi aku harus on air. " Kata Nindi yang merasa tidak enak meninggalkanku sendirian.
" Its ok, aku bisa sendirian Nin. Aku belum bisa menghubungi keluarga nya.. aku tidak tega meninggalkannya. " Jawab ku memaklumi Nindi yang harus pergi.
" Kalau ada apa apa, kabarin aku ya. " Kata Nindi sambil bergegas kembali ke kantor.
Sesaat kemudian, entah mengapa aku jadi ikut gelisah menunggu di ruang tunggu.
Aku bisa mendengar jeritan dari wanita itu yang terdengar sangat kesakitan.
Ternyata membutuhkan waktu lebih lama dari yang diperhitungkan karena posisi sang bayi.
Tepat setelah itu, waktu berjalan hingga sore menjelang.
Morgan beberapa kali menelepon ku namun aku baru sempat memberi kabar.
M : Kamu sudah selesai? Aku jemput sekarang ya.
S : Morgan.. sebenarnya aku masih ada urusan.
M : Urusan apa? Kata mu bisa pulang cepat.
S : Aku sedang di rumah sakit ibu dan anak. Seorang staf di kantor ku tiba tiba kontraksi dan harus melahirkan.
M : Ya sudah, aku akan menyusulmu.
Tanpa pikir panjang Morgan mengakhiri pembicaraan dan aku mengirimkan alamat rumah sakit ke ponselnya.
Suara tangisan seorang bayi terdengar di telinga ku dan membuat ku merasa lega.
Meskipun aku tidak mengenali wanita itu, namun beberapa kali kami berpapasan di kantor dan saling menyapa.
Beberapa saat kemudian dokter keluar dan memberi kabar bahwa semua nya selamat dan bayinya lahir dengan sehat.
" Apa aku bisa melihatnya? " Tanya ku yang penasaran.
" Tentu bisa.. tunggu kami selesai membersihkan nya dulu. " Jawab dokter itu.
Kurang lebih satu jam aku menunggu dan terlihat Morgan datang menghampiri ku.
" Gimana? " Tanya Morgan tiba tiba.
" Semuanya baik baik saja. " Jawab ku senang.
Kemudian suster memberitahukan kepadaku bahwa aku sudah bisa menjenguk mereka.
Wanita itu terlihat begitu senang sambil memeluk bayi nya yang mungil dan lucu.
" Terima kasih banyak Non, terima kasih. " Katanya langsung memegang tangan ku sambil menangis.
" Iya, sama sama. Jangan banyak bergerak dulu." Saranku yang tidak tega melihatnya.
" Saya berhutang nyawa kepada anda. Terima kasih sudah menolong saya dan anak saya. " Kata nya masih merasa berhutang budi padaku.
__ADS_1
" Jangan seperti itu. Bagaimana pun kan kita berada di kantor yang sama. Selama aku bisa menolong.. pasti kutolong. " Kata ku tulus, dan aku merasakan bahwa Morgan yang berada di sebelah ku.. saat ini sedang memandangi ku.
" Tapi kenapa anda tidak ambil cuti hamil? Ini bisa jadi sangat berbahaya. " Kata ku yang tiba tiba penasaran.
" Jika saya cuti, saya takut jika akan mempengaruhi gaji saya Non.. Sedangkan saya belum cukup uang untuk biaya melahirkan. " Jawab nya jujur membuat ku begitu terpukul.
" Suami anda? " Tanya ku lagi.
" Suami ku.. meninggal 3 bulan yang lalu karena kecelakaan. Hiks hiks. "
Begitu menyedihkan aku mendengar kisah wanita ini dan juga bayi mungil ini.. yang bahkan tidak bisa melihat ayahnya.
Air mata ku mengalir begitu saja, rasanya hati ku ikut merasakan sakit yang dirasakan wanita itu.
" Ehm.. anda tidak perlu mengkhawatirkan biaya rumah sakitnya, aku sudah menyelesaikan semua administrasi nya. Yang terpenting saat ini adalah.. menjaga dan membesarkan bayi ini. "
Kata ku memberi kekuatan sambil menyentuh kepala mungil bayi perempuan itu.
" Benarkah? Terima kasih banyak Nona.. terima kasih banyaaakkk.. " Sahut wanita itu semakin terharu.
" Apa anda ingin mencoba untuk menggendongnya? " Kata wanita itu memberikan aku kesempatan untuk menyentuh bayinya.
" Aku?? "
" Iya Nona.. setidaknya, dia harus mengenal sentuhan malaikat cantik yang menolong nya hari ini. " Kata wanita itu menghujani ku dengan pujian.
Aku pun memberanikan diri menggendong bayi mungil dan lucu itu.
" Lucu sekali. Jari nya begitu mungil. " Gumam ku kagum melihat keajaiban yang Tuhan bentuk di rahim seorang wanita.
Morgan yang hanya diam, ikut memperhatikan bayi itu dan tersenyum melihat setiap gerakan kecil nya.
" Aku bangga memiliki mu. " Kata Morgan berbisik di telinga ku.
Setelah selesai menjenguk dan berbincang, kami pun dengan lega berjalan keluar dari rumah sakit.
Tangan kami yang bergandengan erat, entah mengapa memiliki kekuatan baru setelah melihat bayi mungil itu.
Sempat terbersit dalam benak ku, bagaimana wajah anak kami nantinya di masa depan.
Saat berjalan menuju ke tempat Morgan memarkir mobil, ia mengambil ponsel dan menghubungi Adit.
" Adit, aku ada tugas untuk mu. Hari ini aku bertemu dengan seorang wanita yang membutuhkan bantuan yayasan kita.. urus semua kebutuhan ibu dan anak itu. Aku akan mengirimkan alamat rumah sakitnya padamu. " Kata Morgan lalu mengkhiri panggilan.
Aku pun tidak menyangka bahwa lelaki yang awalnya ku kenal angkuh ini, memiliki sisi seperti ini. Dia tidak hanya seorang CEO tetapi juga seorang donatur.
Semakin aku mengenalnya, semakin banyak hal yang aku syukuri darinya.
Aku pun terharu dan terus memandangnya.
" Kenapa? Jadi makin cinta ya? " Kata Morgan menggoda ku setelah menyadari tatapan ku.
" Kamu benar benar lelaki yang susah ditebak. " Jawab ku menyindirnya.
" Habiskan banyak waktu mu bersama ku, akan semakin banyak hal yang kita ketahui satu sama lain. " Kata Morgan yang sedang dalam mode dewasa.
" Morgan.. " Aku menarik tangannya di tengah perjalanan kami dan ia menoleh ke arahku.
__ADS_1
" Aku juga.. beruntung memiliki mu. " Ucap ku tulus kepada lelaki itu, kekasihku.