Love My Enemy

Love My Enemy
BAB 1 : Pertemuan tak terduga


__ADS_3

"Tante Lera!"


Seorang perempuan yang namanya baru saja diteriakkan oleh bocah berumur 4 tahun itu langsung menoleh. Wajah ayunya terlihat bersinar saat melihat anak lelaki yang saat ini tengah berlari ke arahnya. Sebuah tawa jenaka lepas begitu saja kala anak itu meloncat ke arahnya, memeluknya erat.


"Tumben Tante mau jemput Erry ke sekolah?" oceh anak tersebut sambil menggembungkan pipinya gemas.


Tawa jenaka Lera berubah jadi kekehan canggung. 'Ah, ini gara-gara Emo!' umpatnya dalam hati jika mengingat kejadian pagi tadi.


Seharusnya hari ini adalah hari liburnya, hari dimana ia menghabiskan seluruh waktunya berburu barang-barang keluaran terbaru di mall dan bersantai dengan ditermani beberapa orang yang menata rambut juga kukunya di salon. Namun siapa sangka jika badai akan datang, sang sepupu si diktator sejati mengiriminya pesan untuk menjemput Erry di sekolah.


Sejujurnya Lera bisa saja menolak, namun resiko atas pembangkangannya itu terlalu besar. Ia tidak mau kehilangan donatur tetapnya begitu saja. Jadi, dengan menggunakan seperempat hatinya yang tidak ikhlas, Lera akhirnya memutuskan untuk pergi menjeput Erry.


"Urrrm ... berhubung hari ini tante sedang tidak sibuk jadi tante jemput Erry ke sekolah."


Erry mencebikkan bibirnya, "Bohong! Bilang saja kalau Ayah yang memaksa tante Lera, kalau bukan karena Ayah mana mau tante jemput Erry."


Lera berdecak tak percaya. Wah, adik sepupunya ino mempunyai mulut yang sama seperti ayahnya.


"Tante sedang tidak sibukkan? Ya sudah kalau begitu temani Erry main dulu di taman dengan teman-teman, Erry ada pertandingan layang-layang!"


Oh, no!


"Erry!" Lera memejamkan mata dan menahan diri untuk tidak mengumpat saat adik sepupunya itu sudah melesat pergi dengan teman-temannya.


.


 


.


 


.


"Wow, pohon yang lumayan tinggi." Lera mendesah sambil menatap layang-layang yang tersangkut di atas pohon. Lera sangat yakin bahwa hak sepatu yang ia pakai saat ini sama sekali tidak membantu dirinya untuk mengambil layang-layang itu. "Erry, bagaimana kalau kita beli layang-layang yang baru?"


"Tidak mau! Itu kan layang-layang yang dikasih sama temen Erry. Kata Ayah, Erry harus menghargai pemberian orang lain."


Pidato yang bagus, Emo. Pikir Lera masam.


"Sial, Emo akan  membayar mahal rengekan putranya!" Lera kemudian kembali mendongak ke atas untuk melihat layang-layang sialan berwarna merah jelek. Lera berdecak sebentar sebelum memutuskan untuk melepas sepatu kesayangannya dan mulai meloncat-loncat di udara.


"Ayo Tante, sedikit lagi!" seru Erry, ia mencoba memberi semangat pada tantenya tersebut.


"Sedikit lagi apanya? Bahkan ujung tali layang-layangnya saja belum tersentuh oleh jemari cantikku." dengus Lera seraya menatap layang-layang sialan di atas sana kesal, sangat kesal.


Kali ini Lera mengikat rambutnya tinggi-tinggi dan menggulung lengan bajunya. Lera sudah mengambil ancang-ancang untuk melompat namun sebelum itu, tubuhnya sudah melayang ke udara lebih dulu.  "Kyaaa ... apa yang kau lakukan, brengsek!" Lera memekik histeris saat mendapati seorang pria dengan setelan jas yang rapi sedang mengangkat tubuhnya.


Pria itu memutar matanya bersamaan dengan dengusan keras. "Cepat ambil layang-layangnya, kau bisa mematahkan tanganku."


Apa dia bilang?


Lera sudah mengumpulkan segala macam sumpah serapah untuk ia muntahkan pada pria tidak sopan itu namun saat retinanya kembali menatap wajah harap-harap cemas Erry, ia memutuskan untuk menyimpannya kembali. "Baiklah," katanya, kemudian kembali berusaha untuk mendapatkan layang-layang jelek itu, sampai dimana sebuah insiden tidak bisa terelakkan. "Aaaakh ... sialan!" erangan marah bercampur sakit baru saja lolos dari mulut Lera. Iris cokelatnya menatap bengis sosok pria yang saat ini tengah tersenyum manis seraya memberikan layang-layang yang sudah ia dapatkan dengan setengah mati itu pada Erry. Hal yang membuat tangki kekesalan Lera membuncah karena pria itu sama sekali tidak membantu Lera kembali berdiri setelah menjatuhkannya cukup keras dan tidak minta maaf.


"Heeey ... beraninya kau menjatuhkanku!"

__ADS_1


Pria itu menoleh, ada seringai menyebalkan di wajah tampannya, "Ck, siapa yang tahan menggendong kerbau!''


Lera berkedip beberapa kali kemudian tatapannya mengamati dirinya sendiri. 'Kurang ajar! Badan langsing begini dia bilang kerbau!'  decaknya sebal. Iris cokelat terangnya kemudian balik mengamati pria itu. 'Ck, stelan kantor, wajah tampan, dompet tebal. Tipe playboy seperti Emo.' 


Oh, sepertinya Lera tahu apa yang harus ia lakukan pada pria ini. Dengan sekali ayun, pria sombong itu langsung membungkuk memegangi kakinya. Ya, seperti itulah yang sering ia lakukan pula pada sepupu playboy-nya. Sebuah tendangan manis ia daratkan tepat di tulang kering.


"Bagaimana rasanya ditendang oleh kerbau? Sakit?" Lera tertawa puas, kemudian setelah itu ia lekas menggandeng Erry. "Ayo, sayang, kita pulang."


"Tapi Tante, Om itu kasihan."


"Biar saja, dia memang pantas mendapatkan-" ucapan Lera tak pernah selesai karena ia baru saja ditarik ke belakang. Dan Lera kini tengah membelalak saat merasakan ada bibir lain yang menempel di bibirnya.


"Itu adalah hukuman karena kau sudah membuat kaki-ku sakit." Pria itu berbisik di telinga Lera. Sebelum pergi menuju mobilnya, pria itu menghampiri Erry. Jemari panjangnya mengacak rambut bocah lelaki itu gemas. "Lain kali jangan mau pergi main dengan kerbau bodoh."


Lera memejamkan mata. Ia marah, geram, dan malu bercampur jadi satu. Saat Lera membuka mata dan bersiap memuntahkan kemarahannya, ternyata pria itu sudah tidak ada di sana.


Sial!


.


 


.


 


.


Ruangan yang biasanya damai kali ini begitu tegang. Seorang wanita tua sedang dibuk menarikan pena di atas kertas putih, sedangkan pria di seberang sofa hanya bisa duduk pasrah. "Ibu melakukan ini bukan karena membenci Lera." ucap wanita itu seraya melirik sang menantu yang terlihat begitu sedih.


Lera jadi terlalu manja, segala keinginannya selalu harus terpenuhi, menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting dan pergi ke salon sudah seperti kebutuhan hidupnya, hal itu membuat kepala Sinta ingin meledak setiap harinya.


"Kau tahu kita sudah terlalu jauh dan terlalu lama memanjakan Lera. dia sudah besar Adi, dia harus berubah. Dia harus belajar mandiri mulai dari sekarang."


Aditama menghela napas, "Apapun yang Ibu lakukan akan saya dukung jika itu bertujuan baik untuk putri saya."


Sinta telah selesai menulis, ia memasukkan kertas putih itu ke dalam sebuah amplop yang kemudian ia berikan pada orang suruhannya.


"Kita sudah sepakat untuk melakukan operasi ini saat Lera tidur. Atm, mobil dan barang-barang yang mendukung sifat manjanya harus disita. Ibu hanya akan memberikan uang tunai 100 ribu per minggu untuk menunjang hidupnya. Selain itu Ibu akan menyuruhnya untuk bekerja di perusahaan. Jangan tersinggung, Adi. Ibu akan menempatkan Lera dibagian cleaning service. Hal itu Ibu lakukan agar dia bisa melakukan pekerjaan rumah." Aditama meneguk ludah saat mendengar penjelasan Ibu mertuanya. Lera, putri semata wayangnya, calon pewaris Aditama group akan bekerja sebagai cleaning service mulai besok?


Adi meneguhkan hati, dia akan mematikan ponselnya sampai jangka waktu yang tidak bisa ditentukan untuk menghindari rengekan maut putrinya nanti. 'Ayah melakukan ini karena Ayah menyayangimu, Nak. Maafkan Ayah.'


 


.


 


.


 


.


 

__ADS_1


Lera mematung di tempatnya kala mendapat hadiah dari sang sepupu. Astaga, ini sangat tidak bisa dipercaya. Ia sekali lagi memandang Emo di sofa yang sedang sibuk menyuapi Erry makan dengan telaten.


"Ini bukan jebakan, kan?" Lera memberikan tatapan menyelidik.


Oh, ayolah, dia Demon Estanbelt, sosok yang kejamnya satu dua dengan lucifer itu mana mungkin memberikan satu Credit Card Platinumnya dengan cuma-cuma begini kalau tidak ada hal yang dia rencanakan.


"Kalau kau tidak mau ya sudah, letakkan saja di atas meja." jawab pria itu tanpa melirik ke arah Lera sama sekali.


Lera ingin tersenyum lebar, namun dia harus menjaga ekspresinya agar tidak terlihat terlalu senang. "Kalau kau memaksa ya sudah, kau tahu sendiri aku tipe orang yang tidak bisa menolak kalau sudah dipaksa." ucapnya dengan suara dibuat sepasrah mungkin. Seolah dia memang dipaksa untuk mengambil Credit Card itu untuk menemaninya berkeliling mall.


Saat memgalihkan tatapan pada Erry, bocah itu ternyata menatapnya balik dengan tatapan jahil. Kedut dibibirnya membuat Lera tahu kalau dia akan berbicara pada Emo.


"Ayah, saat di taman tadi Tante Lera-"


Oh, tidak!


Jangan bilang bocah itu akan mengatakan apa yang terjadi di taman siang tadi?


"Erry!" Lera segera menginterupsi, ia tidak mau CC yang didapatkan dengan cuma-cuma ini kembali disita oleh Emo. "Kau mau mainan Lego-kan? Mau ikut dengan Tante berbelanja?"


"Dia sedang makan, Lera. Pergi saja sendiri sana!"


Tidak, tidak, tidak!


Lera tidak bisa mempercayai mulut anak kecil. Erry itu antara polos dan jail. Kalau dia menceritakan kejadian dimana dia dicium oleh pria asing maka tamatlah riwayatnya. Emo pasti akan membunuhnya karena sudah memberikan contoh buruk di depan anak kesayangannya itu.


"Erry tidak mau Lego, Erry ingin main ke timezone."


Timezone?


Ini pilihan yang sulit. Benar-benar sulit. Lera pernah sekali menemani Erry bermain di timezone dan itu bukan satu sampai dua jam, anak itu menghabiskan waktunya sejak siang sampai sore. Dan bahkan Ery sempat mengamuk tidak mau pulang, dia ingin tidur di sana saja katanya.


"Hanya 2 jam, oke?"


Anak lelaki itu lekas tersenyum, dia meloncat turun dari sofa dan mulai merengek pada ayahnya. "Ayah ... Erry ingin main dengan Tante Lera."


Emo mendelik kesal ada Lera, "Jangan pulang terlalu malam, besok kau harus berangkat sekolah."


"Horeeee!"


Lera tersenyum. Kelangsungan hidupnya akan tetap aman.


"Dan Lera," suara Emo menginterupsi puji syukur yang sedang Lera panjatkan pada Tuhan. "Belanjalah sesuatu yang bermanfaat."


"Tentu saja Emo," jawab Lera kemudian menggandeng Erry pergi.


Emo menyandarkan kepalanya di kepala sofa, kedua matanya terpejam. Besok dia akan mendapat badai besar. Keputusan yang dibuat Neneknya memang sangat baik, tapi itu akan membuatnya kerepotan. Selain Erry, nanti akan bertambah satu lagi orang yang merengek padanya.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2