Love My Enemy

Love My Enemy
BAB 7 : Menyelinap


__ADS_3

"Kakak ... "


Suara serak itu menggema di dalam kepalanya.


"Aku mohon, kakak aku mohon katakan pada Ayah."


Keringat dingin mulai bermunculan. Posisi tidur yang selalu berganti menyiratkan rasa tidak nyaman.


"Kak Bian, Ibu, aku ingin tinggal dengan kalian. Aku mohon katakan pada Ayah ... "


Suara hujan saat itu nyatanya sama sekali tidak bisa menulikan telinganya dari jerit pilu sang adik.


"Mas tolong, biarkan Frike tinggal bersama kami. Mas Atma dengar sendiri kalau dia tidak mau-."


Tubuh ringkih sang ibu yang semula mendekap kedua kaki si lelaki kini terhempas jauh.


"Tidak akan pernah! Aku tidak akan membiarkan puteriku diurus oleh wanita yang tidak becus seperti dirimu."


Basah, kedua mata yang terpejam itu basah. Mengerjap sesaat, Bian sadar bahwa dia telah berhasil melarikan diri dari mimpi itu, lagi.

__ADS_1


"Brengsek!" bibir tipisnya mengumpat lirih diselingi dengan jemari panjangnya yang mengusap wajah gusar.


Wajah penuh air mata itu selalu menghantui, membuat Bian memilih untuk tidak tidur. Sungguh, Bian tidak cukup berani untuk menghadapi Frike sebelum dia berhasil membuat orang-orang itu merasakan penderitaan yang sama.


Melirik pada jam yang melingar di tangannya, Bian mendengus kesal. Tck, bahkan jarum panjang belum menyentuh angka 1. Bian tidak yakin bisa tidur kembali setelah medapat mimpi buruk. Belum lagi sofa sialan milik Lera sangat tidak nyaman untuk punggung dan lehernya.


Sepertinya sedang hujan di luar. Pikir Bian saat melihat rintik air yang menempel pada kaca jendela.


Mengulurkan kaki ke lantai, Bian kemudian menegakkan diri dan mulai berjalan mengelilingi apartemen Lera yang cukup luas namun kosong. Perabot yang tersisa hanya sofa butut tadi dan meja makan di pantry dan kompor.


"Jadi memang bukan isapan jempol belaka?" bibir sensual itu bermonolog. Dia bisa membayangkan betapa kesal dan marahnya Lera saat menghadapi kegilaan Neneknya. "Aku bahkan ragu kalau dia bisa memasak." cibir Bian saat mendapati kompor di atas marmer masih mengkilap.


"Sepertinya aku akan mati." kekeh Bian sebelum memutuskan menggapai kenop pintu dan masuk ke dalam sana.


Setelah bertahun-tahun lamanya, ini kali pertama Bian kembali memasuki kamar seorang gadis. Vanilla bercampur citrus lekas menusuk hidung Bian, harum khas Lera.


Pencahayaan yang minim karena lampu utama kamar tersebut mati sama sekali tidak menghentikan Bian untuk meneliti detail kamar tersebut. Lera memang pandai merenovasi dan menata ruang rupanya. Posisi ranjang tepat berada di tengah-tengah ruangan, di samping kanan-kirinya terdapat nakas kecil yang di atasnya terdapat lampu tidur. Tepat di depan ranjang tedapat buffet yang Bian yakini kalau beberapa waktu lalu buffet tersebut untuk wadah televisi dengan ukuran yang super besar.


Oh, bukan hanya buffet, meja rias pun mengalami kenaasan yang sama. Di atas sana sama sekali tidak ada make up yang tersisa, tidak ada parfum juga.

__ADS_1


Melirik sudut lain kamar, saat itu juga tawa Bian meledak. Di sana berdiri kokoh sebuah lemari besar yang dikelilingi rantai dengan sebuah gembok besar. "Hahaha aku tidak bisa membayangkan betapa syoknya Lera saat melihat semua kegilaan neneknya ini."


"Erry jangan berisik!"


Bian terkesiap, tawanya langsung lenyap saat mendengar teriakan Lera.


Lera, gadis itu ternyata masih terbaring di atas ranjang dengan kelopak mata yang masih terpejam.


"Dia baru saja mengigau? Hmpt, lucunya ... " kekeh Bian seraya berjalan mendekat. "Bagaimana bisa kau tidur hanya dengan menggunakan tank top dan juga celana pendek, Lera? Bagaimana kalau ada pria yang diam-diam menguntitmu dan menerobos masuk, hm?" gumam Bian saat mendapati Lera tertidur dengan pakaian yang menurut Bian tidak pantas untuk disebut baju tidur.


Menyingkap selimut tebal di atas ranjang, Bian kemudian lekas bergabung dengan Lera di bawah selimut yang sama.


"Erry, sudah tante bilang jangan peluk-peluk kalau mau tidur dengan tente!" omel Lera seraya mendorong kepala Bian yang berada di perpotongan lehernya.


Bian terkekeh saat Lera mengira dirinya adalah sosok kecil Erry. "Selamat malam." bisik Bian sebelum menarik sosok itu lebih dekat dan memeluknya dalam kehangatan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2