
"Siapa dia berani membuatku resah seperti ini. Lihat ini sudah hampir pagi tetapi dia belum menghubungiku. Ken, sebenarnya kamu mencintaiku atau tidak sih? Apa ada seorang lelaki yang pergi berhari-hari belum menghubungi orang yang dia cintai? Padahal aku sudah mengancamnya akan pergi berlibur keluar kota tapi dia benar-benar tidak peduli dengan ancamanku? Ini sudah dua minggu dan dia sudah sangat keterlaluan kepadaku." Luna berbaring dikamar yang begitu besar sambil melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi tapi matanya belum bisa terpejam karena memikirkan Ken.
Sudah hampir jam sebelas pagi Luna belum keluar dari kamarnya. Bi Vanya, Nensi dan Satya beberapa kali mengetuk pintu kamarnya tapi tidak ada sahutan dari dalam kamarnya.
"Bagaimana ini mba Vanya? Atau jangan-jangan Non Luna bunuh diri karena rindu?" Ucap Nensi.
"Aku hubungi Tn. Ken untuk memberi tahu kabar ini." Seru Satya ikut panik.
"Tenang jangan panik... tapi jika non Luna bunuh diri maka kita juga akan berada dalam masalah besar." Sahut bi Vanya lebih panik.
Satya mencoba menghubungi Ken dan untung saja Ken langsung mengangkat telfonnya.
"Maaf Tn.Ken mengganggu anda. Aku ingin menyampaikan bahwa non Luna belum keluar kamar sejak semalam. Dia juga belum makan sejak semalam. Aku takut dia akan bunuh diri atau sedang sakit didalam kamar." Seru Satya.
"Hemm aku akan pulang hari ini. Tidak perlu khawatir Luna tidak sebodoh itu untuk membunuh dirinya." Ken langsung menutup telfonnya.
Dilain tempat Kris sedang berdiri dibelakang Ken dengan tegap.
"Atur jadwal kepulanganku Kris." Ujar Ken seraya tersenyum.
"Tapi tuan masih banyak pekerjaan yang belum kita selesaikan disini!" Sahut Kris dengan sopan.
"Aku akan pulang seorang diri dan semua pekerjaan ini aku limpahkan kepadamu."
"Baik Tn.Ken."
__ADS_1
*****
Malam harinya Ken tiba dirumahnya sekitar pukul sebelas malam. Bi Vanya, Nensi dan Satya terlihat kelelahan hingga sampai tertidur didepan pintu kamar Luna.
"Satya bangunlah kalian boleh istirahat dikamar kalian." Ucap Ken berdiri dihadapan mereka yang duduk dilantai.
"Tn.Ken maaf kami tertidur." Sahut Satya dengan cepat berdiri. Bi Vanya dan Nensi juga ikut berdiri sambil merapikan rambut mereka.
"Kalian telah bekerja dengan baik. Istirahatlah, aku akan menemuinya." Jawab Ken lalu masuk kedalam kamarnya.
Setibanya didalam kamar Luna berbaring sambil membungkus badannya. Ken langsung mendekatinya, terlihat Luna sedang menggigil. Ken meletakkan punggung tangannya didahi Luna dan teraba sangat panas.
"Dasar keras kepala! Lihat dia bahkan seharian belum makan dan membiarkan dirinya berada didalam kamar dalam keadaan sakit." Ken mengganti pakaiannya dan mengambil air kompresan untuk mengompres Luna.
Ken menuju dapur untuk membuatkan Luna bubur karena bi Vanya dan Nensi sudah masuk untuk istirahat kedalam kamarnya. Setelah selesai Ken membawa semangkok bubur masuk kedalam kamarnya.
"Ken? Kamukah itu?" Jawabnya tapi matanya belum terbuka sempurna.
"Hemm.. aku akan menyuapimu Lun."
"Kamu jahat!" Ucapnya dengan nada lemah kini air matanya mengalir dari sudut matanya.
"Maafkan aku Lun." Jawab Ken kini dia menciumi tangan Luna.
Luna tidak mampu berbicara hanya bisa menangis dihadapan Ken. Ken mulai menyuapinya secara perlahan walaupun Luna menolaknya tetapi Ken terus menyuapinya.
__ADS_1
Setelah makan seakan tidak berdaya Luna kembali tertidur sedangkan Ken ikut berbaring disampingnya sambil menggenggam erat tangan Luna. Ken beberapa kali terbangun ketika Luna terus memanggil namanya. Luna mengigau seperti ketakutan jika Ken pergi lagi.
"Ken jangan tinggalkan aku." Teriak Luna secara spontan dan langsung terduduk ditempat tidur.
"Aku disini." Jawab Ken sambil menyeruput segelas minuman hangat dipagi hari. Ken duduk disampingnya sambil membaca koran dengan menyilangkan kedua kakinya dan bersandar dikursi.
"Mengapa kamu kembali?" Ucap Luna kesal.
Bukannya menjawab, Ken malah meletakkan punggung tangannya untuk meraba suhu tubuh Luna.
"Aku pikir lebih bagus kamu sakit dari pada kamu sembuh seperti ini. Kamu lebih manja ketika sakit dibandingkan sehat seperti ini." Sahut Ken kembali fokus membaca koran.
"Dasar jahat! Egois! Tidak punya perasaan! Apa kamu tidak memikirkan istrimu beberapa minggu ini?" Ujar Luna dengan nada tinggi.
"Akhirnya kamu mengakui jika dirimu adalah istriku." Ken masih menjawabnya dengan santai tanpa menatap Luna.
"Dasar menyebalkan!" Luna menggerutu kesal.
"Jika kamu rindu tidak perlu memakiku seperti itu, tinggal peluk saja aku dan katakan bahwa kamu sangat merindukan aku." Ucap Ken.
"Apa rindu? Idihh siapa yang rindu sama kamu, aku bahkan sangat membencimu ada disini!" Jawab Luna kini dia terlihat salah tingkah.
"Baiklah aku akan pergi lagi!" Ucap Ken. Ken meletakan koran diatas meja dan beranjak dari tempat duduknya. Saat Ken berada diambang pintu hendak pergi Luna mengejarnya dan memeluknya dari belakang.
"Aku merindukanmu Ken. Jangan tinggalkan aku lagi!" Ujar Luna dengan suara parau.
__ADS_1
Ken tersenyum simpul dan membiarkan Luna memeluknya.