Love My Enemy

Love My Enemy
Episode 54


__ADS_3

Junior



Juna



Jeni



Sejak kepergian orang tua mereka Junior lebih banyak mengurung diri dikamar. Juna sangat jarang berada dikampus sedangkan sibungsu Jeni keluyuran setiap malam dan terkadang pulang dalam keadaan mabuk. Beberapa kali Junior mendapatinya pulang larut malam dan Junior selalu memberikan pukulan kepada adik perempuannya itu.


Perusahaan dan beberapa aset orang tua mereka diambil alih oleh Kris dan beberapa orang kepercayaan Ken. Kris sangat sibuk dan masih sama seperti dulu membujang. Usia Kris hampir menginjak kepala 60an dan kesibukan bertambah karena harus bertanggung jawab kepada ketiga anak bosnya itu. Satu persatu sahabat Ken dan Luna datang menemui anak-anak mereka dikediaman mewah itu. Bastian, Intan dan Bryan juga datang mengunjungi mereka untuk mengucapkan bela sungkawa.


Bi Vanya telah terlihat sangat tua. Pagi itu kakinya melangkah pelan mendekati kamar Junior. Ketukan pelan bi Vanya lakukan dengan sopan didepan pintu kamar Junior. Junior membuka pintu lalu membawa bi Vanya berjalan keruang keluarga.


"Ada apa bi?" Tanya Junior pelan.


Mata bi Vanya mulai berkaca-kaca dihadapan Junior. "Maaf jika bibi telah lancang menemui tuan muda, bibi sangat menyayangi kalian tapi bibi ingin istirahat dihari tua bibi."


"Maksud bibi?" Timpal Junior sopan.


"Bibi meminta dengan sopan kepada tuan muda sebagai kakak tertua dirumah ini. Bibi ingin berhenti bekerja tuan muda. Bibi ingin istirahat dan menikmati masa tua dikampung."


"Bibi kok jahat? Bibi, kami tidak punya siapa-siapa lagi didunia ini. Junior telah menganggap bibi sebagai grandma dirumah ini, bibi bisa kok tinggal dirumah ini tanpa harus bekerja. Aku mohon bi jangan pergi dari rumah ini!" Ucap Junior lirih. Kini Junior yang meneteskan air mata.

__ADS_1


"Maafkan bibi nak, bibi harus pergi! Bibi akan kembali kekampung. Bibi akan digantikan cucu dari anak saudara bibi yang sedang kuliah. Usianya masih muda tapi dia sangat rajin sama seperti bibi." Sahut bi Vanya pelan.


Junior hanya bisa meneteskan air mata.


"Junior sayang bibi." Junior berjalan memeluk bi Vanya yang sedang duduk dihadapannya sambil menangis.


Tak lama berselang bi Nensi dan Juna datang menghampiri mereka karena terdengar suara tangisan dari ruangan itu.


"Ada apa kak?" Tanya Juna.


"Bi Vanya akan berhenti bekerja tuan muda Juna." Sahut bi Nensi.


"Bibi kok jahat sama kita?" Ucap Juna kini dia juga berlari kepada bi Vanya sambil menangis dikaki bi Vanya.


"Bibi jangan pergi, Juna sayang sama bibi. Bi, Juna mohon... Juna mohon bi. Siapa lagi yang akan menjadi penghangat dirumah ini jika bibi pergi bibi... hiks. hiks. hiks." Juna juga ikut histeris memeluk kaki bi Vanya.


Nensi berlari ke kamar Jeni. Beberapa kali Nensi melayangkan ketukan dengan sabar tetapi Jeni belum membuka pintu. Bi Nensi masih berdiri setia sambil mengetuk pintu.


Krekkk... dengan masih menguap dan rambut acak-acakan Jeni membuka pintu.


"Apaan sih, brisik banget.. tau nggak ini jam berapa?" Ketus Jeni seperti biasanya. Sifat Jeni kadang bisa membuat seisi rumah terbakar amarah. Terkadang Jeni suka seenaknya kepada orang dan itu membuat orang yang berada disekitarnya merasa geram.


"Maaf nona Jeni, itu..itu.. anu.." Kata bi Nensi terbata-bata.


"Anu.. anu.. anu apa bi? Ah bibi nganggu orang tidur aja." Jelas Jeni kesal.


"Bi Vanya mau pergi!" Timpal Bi Nensi.

__ADS_1


"Mau pergi kepasar? Aduh bibi masa cuma masalah sepele seperti itu harus bangunin aku segala sih?"


"Bukan non, bi Vanya akan berhenti bekerja." Ucap Bi Nensi.


"Apa? Enggak mungkin!" Seperti mendapatkan kesadaran penuh Jeni langsung berlari mencari bi Vanya. Jeni terhenti saat Juna dan Junior masih memeluk wanita yang telah mereka anggap sebagai grandma itu.


"Bibi... hiks..hiks..hiks..pokoknya Jeni enggak mau makan kalau bibi pergi..!" Jeni masih terpaku ditempatnya berdiri sambil beberapa kali menyeka air matanya.


"Mendekatlah bibi tidak punya banyak waktu untuk memelukmu!" Kata Bi Vanya.


"Bibi.. hiks.hiks..hikss." Jeni dengan cepat berlari memeluk bi Vanya.


Suara tangisan mereka bertiga semakin keras terdengar diruangan itu. Bi Nensi juga ikut menangis dari kejauhan. Cukup lama mereka menangis hingga tanpa mereka sadari ada perempuan muda dengan membawa tas pakaian masuk kedalam rumah itu.


"Lea? sini duduk!" Ucap Bi Vanya.


Mata semua orang tertuju kepada Lea. Lea melangkah pelan dimana semua orang duduk berkumpul diruangan itu.


"Lea?" Ucap Juna terkejut.


"Oh.. Juna halo." Sapa Lea.


Junior masih menundukkan kepalanya tanpa peduli dengan kedatangan Lea.


"Dia cucu bibi, dia akan menggantikan bibi bekerja dirumah ini. Kamu mengenal Lea Juna?" Tanya bi Vanya


"Hehehe dia temanku dikampus bi!" Juna tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2