Love My Enemy

Love My Enemy
Episode 58


__ADS_3

Setibanya dirumah Jeni langsung keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata kepada Pras. Pras kembali menghela nafasnya lalu meninggalkan area rumah Jeni.


Jeni memasuki ruang tamu. Nampak seorang wanita yang seumuran dengan mommynya sambil memandangi foto keluarga mereka yang tergantung di dinding.


Jeni ikut memandangi foto keluarganya lalu menoleh kearah wajah wanita itu tanpa bertanya.


"Hai.. kamu siapa?" Tanya wanita itu memandang Jeni.


"Aku? Aku siapa? Maaf yah tante harusnya aku yang bertanya tante ini siapa? Ada urusan apa datang kerumahku? Dan..?" Kata-kata Jeni terpotong saat Junior dan Juna berdiri dihadapan mereka.


Wanita itu secara bergantian memandangi Junior dan Juna.


"Siapa diantara kalian yang bernama Junior?" Tanya wanita itu.


"Aku." Jawab Junior. Wanita itu langsung berpindah pandangannya kepada Juna. Dia berjalan mendekati Juna lalu memeluknya dengan erat. Juna yang terkaget menolak tubuh wanita itu secara spontan.


"Maaf anda siapa?" Ucap Juna bingung.

__ADS_1


"Maafkan mama nak. Mama merindukanmu." Sahut Bella lirih.


Junior dan Jeni menoleh kepada Juna secara bersamaan. "Mama?" Kata Junior dan Jeni berkata secara bersamaan.


Bi Nensi menghampiri mereka dengan sopan. "Silahkan duduk Nyonya Bella." Kata bi Nensi. Mata mereka bertiga langsung mengarah tajam kepada bi Nensi.


"Jelaskan ini bi!" Ucap Juna. Bi Nensi hanya menunduk.


"Banyak yang berubah dari rumah ini, aku tidak pernah sangka jika Ken dan Luna pergi secepat itu. Maaf aku tiba-tiba datang kehidupanmu Juna, tante atau panggil saja aku mama mulai sekarang karena aku rasa kamu telah sepantasnya tahu siapa mama kandungmu. Bi Nensi atau Kris bisa menjelaskan lebih detail siapa aku bagimu." Ucap Bella. Juna masih terdiam begitu pula dengan Junior dan Jeni.


"Mommyku telah meninggal dan aku tidak punya orang tua lagi setelah itu. Jika anda merasa sebagai mamaku maka aku tidak bisa menerima kamu sebagai mamaku. Hubungi om Kris jika kamu ada keperluan dan jangan pernah berdiri dihadapanku dengan mengatakan aku anakmu!" Ucap Juna lalu meninggalkan mereka.


"Maaf yah tante setelah kepergian orang tua kami banyak sekali yang mengaku dekat dengan orang tuaku, ataupun ingin menjadi wali kami. Tapi aku tahu maksud mereka hanya satu yaitu harta, warisan, atau ingin mendapatkan keuntungan atas kepergian orang tuaku." Ucap Jeni kesal.


"Kamu berani seperti mommymu, lain kali jika berbicara kepada yang lebih tua harusnya kau lebih sopan." Sahut Bella sinis.


"Benarkah? Aku baru tahu. Jika tidak punya keperluan lagi silahkan pergi dan datang langsung kepada om kris sebagai wali kami jika tante menginginkan sumbangan dari keluarga kami. Dah!" Jeni melambaikan tangannya tanpa peduli dengan Bella yang terlihat sangat geram.

__ADS_1


"Dasar anak tidak punya sopan santun!" Bentak Bella kesal.


Bi Nensi masih berdiri tanpa ikut campur dengan mereka bertiga yang sedang bertengkar dengan Bella.


"Maafkan anak-anak itu nyonya Bella." Kata bi Nensi.


"Dimana Kris? Bagaimana aku bisa menghubunginya?" Tanya Bella lagi.


"Aku akan memberikan kartu namanya nyonya. Anda duduklah aku akan mengambilnya dulu." Ujar bi Nensi.


"Oke." Jawab Bella tersenyum puas.


"Aku datang tepat waktu, Juna..? Anak yang tampan sama seperti ayahnya. Untung saja aku tidak menggugurkan kamu semasa dalam kandungan dan pada akhirnya kamu bisa bermanfaat juga untukku! Hahaha uang..uang.. aku tidak peduli dengan perasaanmu yang sakit mengetahui bahwa kamu bukanlah anak kandung dari Luna dan Ken." Batin Bella.


Lima menit kemudian bi Nensi setengah berlari kearah Bella.


"Ini kartu namanya nyonya." Katanya setengah membungkukkan badannya kepada Bella.

__ADS_1


"Hmm terimakasih." Jawab Bella lalu pergi dengan tersenyum puas.


Bi Nensi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Bella. "Setelah sekian lama dia pergi dan apa maksudnya kembali setelah nyonya Luna dan tuan Ken meninggal?" Ucap bi Nensi.


__ADS_2