Love My Enemy

Love My Enemy
Episode 62


__ADS_3

Helaan nafas Junior terdengar kasar ditelinga Gladis. Gadis yang memiliki paras cantik itu beberapa kali melihat ke arah Junior yang sedang sibuk dengan ponselnya. Gladis, gadis manja yang selalu mengejar Junior dan sabar dengan tingkah Junior selama dua tahun mereka pacaran. Junior yang tidak tahu mengekspresikan rasa cintanya kepada Gladis selalu membuat Gladis harus ekstra sabar setiap harinya.


"Kamu cinta nggak sih sama aku Jun?"


Junior melekatkan pandangannya menatap Gladis. Ia menyimpan ponselnya dimeja tempat mereka duduk untuk menikmati waktu berdua di malam hari. Masih belum menjawab Junior terus memandang Gladis dengan diam.


"Jujur aja, aku bosan dengan tingkahmu!" Sambung Gladis. Gladis terlihat berusaha membendung air matanya yang terlihat terkumpul disudut matanya.


Junior meraih tangan Gladis dan mengusapnya dengan pelan. "Aku sayang sama kamu tapi-"


"Tapi apa Jun?" Seakan tak sabar dengan jawaban Junior, Gladis menyelanya dengan cepat.


"Aku nggak mau buat kamu nunggu aku. Aku tidak tahu harus berkata apa kali ini. Aku sedang tidak dalam keadaan baik. Aku tidak punya waktu seperti dulu untuk menemanimu setiap hari. Aku harus membantu om Kris mengurus usaha daddyku. Aku harus mengurus adik-adikku dan aku belum siap menikah muda."


Gladis menunduk dan menumpahkan air matanya. Walaupun tidak terisak tapi sangat jelas Gladis terlihat kecewa dengan keputusan Junior.


"Aku ingin kamu bahagia bersama lelaki yang lebih baik dariku. Aku tidak bisa menjadi lelaki yang seperti kamu inginkan. Aku tidak bisa menikah sesuai dengan keinginan keluargamu. Aku masih punya target hidup yang-" Ucapan Junior terpotong saat wajahnya dipenuhi air. Gladis bergerak cepat mengambil air mineralnya yang berada dimeja lalu menyiramkannya ke wajah Junior.


"Kamu brengsek sama seperti daddymu! Kamu pikir aku tidak tahu jika keluargamu sangat berantakan dulunya." Teriak Gladis dengan keras. Pengunjung lain menoleh ke arah mereka.


"Pergi atau aku yang pergi!" Junior berucap sambil mengeringkan wajahnya dengan tisu.


"Dasar brengsek!" Satu tamparan mengenai wajah Junior. Lagi-lagi Junior terlihat begitu konyol didepan pengunjung lain. Gladis mengambil tasnya lalu dengan cepat berlari meninggalkan Junior yang basah dan malu.


Junior berdiri tanpa memperdulikan omongan dan tatapan orang yang terlihat tertawa, menyudutkannya dan memberikan gelar brengsek kepadanya.

__ADS_1


****


Setibanya dikediamannya. Juna dan Lea sedang duduk diteras rumah mereka sambil tertawa lepas. Junior berjalan tanpa memberikan sapaan atau senyumannya kepada mereka berdua. Lea mengatup mulutnya dan menundukan kepalanya saat langkah kaki Junior tepat berada didepannya.


"Ikuti aku!"


Juna dan Lea saling tatap. Seakan bertanya siapa yang Junior maksud harus mengikutinya.


"Masuklah kekamarmu Juna untuk merenungkan kesalahanmu. Ada laporan kamu tidak mengikuti beberapa mata kuliah dalam seminggu ini. Jika kamu masih mengulanginya kakak tidak segan untuk memindahkan kamu keluar negeri." Junior berucap tanpa memandang Juna. Juna melebarkan matanya begitu terkejut jika kakaknya tahu kelakuan nakalnya dikampus.


"Dan satu lagi, jika kamu masih merokok semua fasilitasmu akan ditarik." Sambung Junior. Mata Juna tak berkedip, mulutnya membungkam.


"Maaf kak." Sahut Juna pelan.


"Kakak sedang banyak masalah jadi bersikaplah dewasa mulai sekarang. Usaha daddy hampir bangkrut setelah kepergian daddy dan kakak mohon pengertian kalian berdua." Kata Junior masih diposisi yang sama. Lea menjadi pendengar tanpa mengeluarkan sepatah kata. Tangan Lea tertarik dengan pelan tanpa sadarnya. Mau tidak mau Lea mengikuti Junior menuju kamarnya.


"Kamu tahu apa salahmu?" Kata Junior tegas. Lea menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Tidak kak." Jawabnya gugup setengah takut.


"Berhenti berbohong jika tentang Juna. Aku tahu kalian dekat tapi bukan berarti kau harus melindunginya dari kesalahan. D jarang masuk kampuskan?"


Lea terdiam dan rasanya mulutnya terkunci rapat-rapat.


"Kamu masih ingin melindungi Juna?" Suara Junior kini meninggi.

__ADS_1


"Maaf kak, bukan seperti itu maksudku. Aku tidak ingin menjadi..."


"Aku telah menyuruh om Kris untuk mengurus biaya kuliahmu sampai selesai. Kamu tidak perlu repot untuk mencari uang dengan cara berbohong kepadaku. Aku tahu Juna memberikan uang tutup mulut kepadamu kan? Bi Vanya adalah orang yang paling aku percaya jadi jangan rusak kepercayaan itu karena tingkahmu ini. "


Lea mengangkat kepalanya. Matanya mulai berkaca-kaca dihadapan Junior. Lea menjatuhkan tubuhnya dan berlutut dikaki Junior.


"Maafkan aku kak. Aku mohon jangan katakan ini kepada nenekku (Bi Vanya)."


Junior masih terlihat kesal. Pikirannya sangat penuh dengan kekacauan yang menjadi satu terkumpul dikepalanya.


"Berdirilah!" Pinta Junior dengan tegas.


Lea masih terisak tanpa menyahut.


"Lea aku serius mengatakan ini. Berdiri kataku!"


Lea tetap menunduk dengan terisak dikaki Junior.


"Aku salah kak, aku pantas melakukan ini." Jawabnya dengan tangisan.


Junior menghela nafasnya dengan panjang lalu mengangkat tubuh Lea dengan memegang bahu Lea.


"Jangan lakukan itu lagi!" Ucap Junior. Lea menganggukkan kepalanya dengan pelan lalu tanpa sadar Lea memeluk Junior dengan lekat.


"Terima kasih atas kebaikanmu kak."

__ADS_1


Deg... Junior sedikit terkejut dengan mata melebar. Tangannya berada disampingnya dengan posisi jatuh. Lea menangis dalam pelukannya, bersandar didadanya dengan tersedu.


Bersambung..


__ADS_2