
Waktu terus berjalan hingga tidak terasa usian kandungan Luna telah masuk ke trimester kedua. Saat itu pada sore hari di kolam renang Luna sedang duduk melihat Junior yang sedang berlatih renang bersama Ken. Satya menghampirinya dengan sangat gugup. Satya tak berucap sesekali matanya menatap Ken yang sedang berbasah-basahan bersama Junior.
"Ada apa? Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Luna.
"Aku ingin berbicara kepada Tn.Ken. Ada sesuatu yang penting aku ingin bicarakan." Jawab Satya masih terlihat sangat gugup.
"Apa itu rahasia? Apa aku tidak pantas mendengarnya? Apa aku bukan orang yang pantas untuk mengetahuinya?" Ujar Luna kembali dengan ketus. Satya tersentak kaget hingga dia hanya bisa menunduk.
"Kamu lihatkan Ken sedang sibuk, bicaralah padaku Satya. Anggap saja aku sama seperti Ken."
"Non.. aku takut mengatakan ini karena.." Ucapan Satya terpotong saat Ken telah muncul dihadapannya.
"Karena apa?" Ucap Ken.
"Tn. Ken, itu.. itu ada seseorang yang datang menemui anda." Ucap Satya. Ken masih sibuk mengeringkan badannya sedangkan Junior juga telah selesai berenang.
"Daddy aku udah yah, mau masuk kekamar dulu. Dah daddy, dah mommy!" Ucap Junior lalu berlari menjauhi mereka.
"Dah Jun." Jawab Luna sambil melambaikan tangannya.
Satya belum menjawab tetapi Luna telah beranjak dari tempat duduknya. Entah apa yang sedang terjadi diluar sana sehingga Satya terlihat begitu ketakutan.
__ADS_1
"Hei sayang tunggu aku." Teriak Ken saat Luna telah jauh melangkah.
"Apa yang terjadi Satya." Ucap Ken masih sibuk dengan rambut dan badannya.
"Frans bersama bayi itu ada dirumah ini! Jawab Satya gugup.
"Frans? Bayi? Bayi siapa? Tunggu! Luna? Astaga tidak mungkin!" Ujar Ken terkaget kaget. Ken langsung berlari mengejar Luna yang mungkin telah berada dihadapan Frans.
Suara tangisan bayi begitu nyaring menggema dirumah itu, tak henti-hentinya bayi itu mengeluarkan suaranya. Susu dan ayunan tangan Frans tidak mampu membuat bayi itu tenang sejak tadi. Luna begitu tercengang apa yang sedang dilihatnya kala itu. Hatinya mulai ragu seperti biasanya, rasa gundah itu kembali muncul membuat cintanya kepada Ken kembali terombang-ambing beradu dengan amarah yang tersimpan dalam-dalam.
"Frans? Bayi itu?" Ucap Luna sembari memegang perutnya berdiri dihadapan Frans.
Kembali tersambar petir disiang bolong perasaan Luna kembali terbakar dan kecewa. Bayi itu terus menangis dipelukan Frans dan masih terlihat jika bayi itu masih sangat merah.
"Sayang apa yang terjadi?" Suara Ken tersengal-sengal berlari mengejar Luna.
"Jika kamu tidak percaya ini hasil tes DNAnya!" Frans memberikan hasit tes DNA kepada Luna tetapi tangan Ken lebih cepat meraihnya.
"Jangan percaya sayang, kamu tidak perlu melihatnya sayang." Ucap Ken menyembunyikan hasil itu dibelakangnya.
"Berikan kepadaku Ken! Teriak Luna bersamaan dengan suara tangisan bayi itu.
__ADS_1
Ken dengan terpaksa memberikannya kepada Luna. Luna mulai membaca dengan seksama air matanya kian deras mengalir dikedua matanya hingga dadanya kembali sesak. Lembaran itu terjatuh dari tangannya dan entah mengapa kakinya melangkah lebih dekat ke arah bayi tersebut.
"Maafkan aku, Bella meninggalkan bayi ini bersamaku. Aku hanya bingung harus berbuat apa lagi jika terus menyembunyikan ini dari kalian. Bella tidak mengiginkan bayi laki-laki ini jadi aku mohon Ken terimalah dia sebagai anakmu. Dia darah dagingmu dan itu tidak bisa kamu pungkiri. Aku belum beri dia nama karena aku rasa kamu sebagai ayahnyalah yang pantas menamainya. "Ujar Frans lirih.
Suara tangisan bayi itu meredam seketika saat Luna menjatuhkan air matanya dipipi mungil bayi itu. Ken hanya bisa menepuk jidatnya dan menarik nafasnya berulang kali. Matanya tak henti melihat Luna yang kini berderai air mata sedang menggendong bayi tersebut.
"Namanya Juna Putra Ken." Ucap Luna sedih. Senyumannya belum terlihat menatap bayi tersebut.
"Sayang apa yang kau katakan, bayi itu bukan.."
"Stop Ken! Jangan membuat anak ini terbuang karena aku. Aku kecewa tetapi bukan berarti anak ini kamu sia-siakan. Kamu tidak bisa lari dari kenyataan karena wajah bayi ini sama persis sepertimu! Aku akan merawatnya."
"Luna terima kasih atas pengertianmu." Ucap Frans.
Ken belum berani mendekati Luna dan melihat wajah bayi tersebut."
"Sayang, bagaimana mungkin kamu akan merawatnya sedangkan kamu sedamg hamil. Kamu akan kecewa setiap melihat bayi itu, kamu akan selalu membenciku saat melihat bayi itu." Ucap Ken masih berusaha menolak.
"Pergilah Frans, terima kasih atas kejujuranmu. Katakan kepada Bella jangan berani mengambil anak ini dariku jika dia telah beranjak dewasa. Semoga dia sukses dengan karirnya dan tidak menyesali perbuatannya ini!" Seru Luna. Luna berjalan membawa bayi itu tanpa mempedulikan Ken yang sedang syok.
"Apa yang ada dalam pikiran istriku?" Batin Ken.
__ADS_1