
Ken tengah berjalan bersama Luna. Luna terhenti saat melihat wanita yang sedang menatap tajam ke arah mereka. Wanita itu semakin mendekat dengan menyembunyikan kedua tangannya dibelakang. Luna mulai merasakan tidak nyaman dengan tatapan yang mematikan itu.
"Ada apa Lun?" Tanya Ken. Kakinya juga ikut terhenti melangkah. Ken merasa bingung lalu Luna menunjuk wanita yang semakin dekat dengan mereka.
"Bella, Ken!" Ucap Luna tanpa berkedip.
Ketika Ken akan menoleh sebuah rasa sakit tengah tertuju dibagian perut. Luna membungkam dengan mata melotot memandang ke arah perut Ken yang telah tertancap pisau.
"Kalian tidak pantas berbahagia di atas penderitaanku! Camkan itu baik-baik!" Ucap Bella tegas. Ken seketika roboh dihadapan Luna yang masih tercengang sedangkan orang-orang telah berlari ke arah mereka. Beberapa orang telah memegang tangan Bella dan beberapa orang pula kini tengah mengangkat Ken. Luna juga ikut roboh disamping Ken. Darah bersimbah ditanah membuat kepanikan dilingkungan itu menjadi huru-hara.
Sebuah tusukan dari sebilah pisau membuat Ken tak sadarkan diri. Bella begitu frustasi hingga berani melakukan hal nekat seperti itu. Dua ambulans dengan cepat membawa Luna dan Ken kerumah sakit rujukan. Kebetulan saat itu Satya dan Kris tidak menemani mereka dan orang dirumah mereka belum mengetahui kabar buruk itu. Pak Mun sopir yang mengantar Luna berjalan ke arah kerumunan untuk bertanya apa yang terjadi.
Nafas pak Mun berhenti seketika saat ciri-ciri yang disebutkan oleh masyarakat itu menjurus kepada bosnya. Dengan segera pak Mun menghubungi orang di rumah Ken untuk memberi tahu kabar buruk ini. Bella telah diamankan dikantor polisi pada saat itu juga.
Beberapa jam kemudian Luna terbangun sambil memegang kepalanya yang sangat pusing. Matanya menerawang untuk melihat keadaan sekitar. Disampingnya bi Vanya duduk dengan wajah sedih. Luna tengah berada diruang UGD.
__ADS_1
"Dimana Ken bi? Siapa yang membawaku kesini?" Tanya Luna kembali meneteskan air mata.
"Non tenang dulu.. Tn.Ken sedang berada diruang operasi sekarang."
"Ken..Ken..hikss..hiks..hiks.. Ken. Aku tidak sanggup. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Bi antar aku menemui Ken, Bi!" Ucap Luna histeris. Perawat dan dokter jaga menghampirinya saat mendengar teriakan dari Luna.
"Bu.. harap tenang. Ibu tidak bisa pergi kemana-mana sebelum keadaan ibu pulih secara sempurna."
"Aku mau Ken, aku ingin melihat suamiku dok. Tolong mengertilah keadaanku dok!" Ujar Luna berteriak.
"Ken hiks..hikss." Luna kembali menangis diruang UGD.
Setelah diobservasi diUGD Luna diizinkan keluar dari UGD. Dengan berjalan pelan dibantu oleh bi Vanya menuju ruang operasi. Sudah beberapa jam Kris dan Satya begitu paniknya menunggu Ken didepan ruang operasi. Luna tak mampu menahan tangisnya dai kembali histeris memikirkan Ken.
"Ken aku sangat mencintaimu walaupun kamu telah menyakitiku beberapa kali, aku sangat membenci takdirku..aku sangat membencinya. Mengapa seperti ini jadinya, mengapa Tuhan..aku mohon selamatkan Kenku.. Ken!!" Luna terduduk dilantai. Dia tidak peduli lagi dengan kandungannya.
__ADS_1
Tak banyak yang bisa dilakukan oleh asistennya. Mereka tahu Luna sangat terpukul dengan kejadian ini. Suara langkah kaki dengar keras tersentak dilantai dari kejauhan. Dengan nafas tersengal-sengal Bryan meletakkan kedua tangannya dilutut dengan posisi membungkuk.
"Haah..haah" Suara nafas Bryan masih tidak beraturan.
"Katakan ini bohong Lun?" Timpal Bryan. Luna menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak sanggup Bryan, aku sangat tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya hiks..hiks..hiks.."
"Ken..aku menyesal dengan pertengkaran ini. Haruskah kita akan seperti ini selamanya? Kamu sahabat terbaikku yang pernah ada." Ucap Bryan.
Suara langkah kembali terdengar keras dari kejauhan. Bryan dan Luna kembali memandang siapa yang tengah berlari ke arah mereka.
"Intan?" Ucap Bryan.
"Bastian?" Ucap Luna.
__ADS_1
Bersambung...