
Seharian ini Lera menghabiskan waktunya untuk merevisi skripsi di perpustakaan, beruntung sekali karena Kenan mau menemani dan juga membantunya mencari buku-buku referensi.
Seharusnya jam tujuh tadi dia sudah pulang, namun Kenan memaksanya untuk makan malam lebih dulu sebelum mengantarnya pulang.
Seperti De’javu, lagi-lagi Lera melihat pemandangan menyebalkan di ruang tengah. Ya, benar, Bian sedang bercumbu dengan wanita yang sama dengan sebelumnya. Lera memutar bola mata sebelum melangkahkan kakinya melewati mereka.
“Kau baru pulang?” tanya Bian saat melihat Lera melintasi ruang tengah.
“Hm... seperti yang kau lihat.” jawab Lera malas, ia sama sekali tidak ingin berlama-lama di sana atau dia akan muntah.
“Memangnya kau dari mana saja?” Bian kembali bertanya.
Kali ini Lera harus menghentikan langkahnya sejenak dan menatap Bian, “Aku rasa apa yang aku lakukan bukanlah urusanmu sama halnya dengan aku yang tidak ingin mengurusi urusanmu dengan jalang itu, Bian.”
“Benar, tapi apa salahnya jika seorang suami bertanya pada istrinya, apalagi dia sampai pulang malam.”
“Aku habis makan malam dengan Kenan, ada masalah?” kata Lera, ia menghela napas sejenak sebelum kembali bicara. “Seharusnya kau juga memikirkan bagaimana perasaan orang tua kekasihmu, Bian. Mereka pasti mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum pulang sampai selarut ini.”
__ADS_1
Telak!
Lera tersenyum bangga karena berhasil membuat Bian kehabisan kata-katanya. Ia kemudian pergi ke kamar setelah meraih kemenangannya itu. Lera memutuskan untuk berendam di bathtub setelah melihat pantulan dirinya di cermin yang errr... dia terlihat jelek, rambutnya seperti habis di tampar angin ribut, dan oh, Tuhan... Lera mengerang saat mendapati kulitnya berubah kecokelatan karena sinar matahari.
Sudahkah Lera memuji apartemen suaminya ini? Jika belum, maka dia akan mengatakannya sekarang. Apartemen Bian memang bukanlah apartemen kelas satu seperti miliknya, tapi apartemen ini cukup nyaman.
Bian tipe pria bersih dan juga rapi, bisa Lera lihat dari segala tata letak barang yang teratur dan juga tidak ditemukannya baju-baju kotor yang bergelantungan di kapstok. Jika Lera pecinta memasak, maka dia telah dianugerahi dapur idaman setiap wanita, selain kitchen set keren yang menyerupai mini bar, peralatan dapurnya pun sangat lengkap. Lera jadi berpikir bahwa Bian seharusnya menjadi koki, bukan seorang kontraktor.
Apartemen Bian memiliki dua kamar, satu kamar sudah disulap sebagai tempat kerjanya dan satu kamar utama yang digunakan untuk tidur.
Hm, benar... Lera tidur di kamar utama dengan Bian karena dia tidak akan memilih opsi untuk tidur di sofa. Kamar mandi juga ada dua, satu kamar mandi untuk tamu yang terletak di sebelah pantry dan kamar mandi utama berada di dalam kamar.
Lera sedang menikmati waktu berendamnya yang menyenangkan, menenangkan sampai suara pintu yang dibuka seseorang membuatnya segera membuka mata.
“Kyaaa... apa yang kau lakukan?” ia memekik saat melihat sosok Bian yang saat ini sedang tersenyum ke arahnya seraya berjalan mendekat. Tak mau aset berharganya dilihat oleh Bian, Lera segera mengumpulkan busa sabun untuk menutupi tubuhnya itu.
“Aku ingin mengambil ini,” ucap Bian seraya mengambil dompetnya yang tertinggal di pinggiran bathtub.
__ADS_1
“Ke luar!” omel Lera setelahnya.
Bian menyeringai, “Aku memang akan ke luar, tapi kalau kau berubah pikiran dan memintaku untuk menggosok punggungmu-“
Bugh! Sebuah botol sampo berhasil mendarat tepat sasaran di perut pria ity. “Ke luar, Bian!” Lera kembali mengaum.
“Oke, oke, aku akan ke luar sekarang juga, Nyonya Atma.” ucap Bian seraya mengangkat kedua tangannya ke atas. Lera manyun saat mendapat panggilan itu.
Nyonya Atmaja. Ugh... seharusnya nama belakang dirinya bukan Atmaja, tapi Yogantara.
Lera meraih kimono towel-nya setelah memastikan bahwa Bian sudah benar-benar keluar dari kamar mandi. Lera kira Bian sudah pergi namun saat ia membuka pintu, ia melihat Bian sedang duduk di pinggir ranjang.
“Apa?” tanya Lera galak, kakinya berjalan ke arah lemari baju dengan perasaan was-was.
Bian memainkan kunci mobil di tangannya, “Aku akan pergi mengantar Fallen sebentar.” Ia memberi tahu Lera.
“Kenapa kau harus memberitahu aku? Seolah aku peduli saja.” ungkap Lera seraya mendengus geli.
__ADS_1
“Kalau sampai pagi aku tidak kembali, mungkin aku sudah mati.”
Suara pintu yang ditutup dengan keras membuat tubuh Lera berjengit. Apa-apaan ucapan Bian tadi? Pikirnya nyalang.