
Juna berdiri disamping mobilnya sambil melihat jam ditangannya. Junior yang sedang berjalan menuju garasi mengerutkan dahinya lalu menoleh kebelakang melihat mata Juna sejak tadi sibuk memperhatikan pintu keluar.
"Nunggu siapa? Jeni sudah berangkat bersama Pras sejak tadi."
"Lea kak. Eh itu dia." Juna berjalan ke arah Lea dengan cepat lalu menarik tangan Lea melewati Junior. Junior begitu tenang tetapi matanya menyorot tangan Lea dan Juna yang sedang berpegangan.
"Bye kak." Teriak Juna lalu melaju meninggalkan Junior. Junior masih menatap kepergian mereka hingga dia tersadar deringan ponselnya berbunyi.
"Iya sayang. Nanti kalau sempat aku jemput yah." Kata Junior lalu mematikan panggilannya. Junior menuju garasi sambil merapikan dasinya yang sedikit miring. Langkah kakinya kembali terhenti saat pikirannya kembali memikirkan Lea yang memasang dasinya pagi tadi.
"Ada apa denganku? Bahkan kemarin tanpa sadar aku mengelap dahinya yang berkeringat? Gadis itu apa dia ada hubungan dengan Juna? Ah.. mengapa dia menghantui pikiranku." Gumamnya lalu masuk kedalam mobil. Didalam mobil, pak Tio sopir mereka telah duduk sejak tadi.
"Jalan pak." Ucap Junior.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Setibanya dikantor beberapa karyawan menyambut dengan senyuman kedatangan Junior. Saat hendak membuka pintu langkahnya terhenti mendengar suara om Kris.
"Terimakasih kasih tuan. Semua berjalan dengan lancar." suara Kris terdengar sopan. Junior membuka pintu dengan pelan lalu dengan cepat Kris menyimpan ponselnya disamping pahanya.
"Tuan? Daddy bukan?" Tanya Junior.
__ADS_1
"Oh..bukan..teman daddymu. Sudahlah tidak perlu dibahas. Duduklah tuan muda." Kris menyimpan ponselnya didalam sakunya tetapi Junior masih menatapnya dengan tajam.
"Itu daddy kan?" Lanjut Junior masih dengan tatapan yang sama. "Om kris menyembunyikan sesuatu dari kita?" Tanyanya kembali.
"Tuan muda bukan waktunya untuk membahas sesuatu yang tidak penting disaat seperti ini. Daddy tuan muda akan kecewa jika anak-anaknya tidak bisa mandiri dan bergantung secara terus menerus kepada orang tua. Bagaimana mereka akan bahagia disana jika anak-anaknya masih manja seperti ini. " Jawab Kris dengan tegas.
Junior menghela nafasnya dengan panjang. Raut kekecewaan nampak jelas diwajahnya. Pikirnya jika orang tuanya masih hidup. Kris menjelaskan beberapa pekerjaan yang akan dikerjakan oleh Junior dan dibantu oleh beberapa orang kepercayaan daddynya. Junior dengan fokus mendengarkan dan memahami hingga selesai.
"Terima kasih atas waktunya tuan muda." Ucap Kris. Bukannya menyalami Junior, Kris memberikan pelukan hangat kepada Junior dan menepuk-nepuk pundak Junior.
"Om Kris. Wanita itu datang menemui Juna."
"Bagaimana dengan Jeni? Sepertinya Pras menjaganya dengan baik?" Kris melepaskan pelukannya lalu kembali berucap.
"Hmm." Jawab Junior singkat.
Junior melangkah pergi sedangkan om Kris masih berada didalam ruangan tersebut. Saat berada dimobil ponselnya kembali berdering.
"Halo?"
__ADS_1
"Aku sudah nunggu sejam sayang!" Terdengar suara Gladis dengan manja dari balik telepon.
"Iya.. iya.. sudah menuju kesitu, bawel." Balas Junior.
Mobil mereka melaju kerumah Gladis. Gladis bukannya gadis sederhana dan terlahir dari kelurga kaya juga. Penampilannya tidak bisa diragukan lagi. Sangat modis dan berkelas. Berawal dari pertemuannya diulang tahun papa Gladis mereka mulai jatuh cinta. Gladis gadis manja dan suka bertingkah kekanak-kanakan melebihi Jeni walupun usianya sama seperti Junior.
Setibanya disana wajah Gladis dengan cemberut menyambut Junior. Gladis yang mengunakan dress pendek berwarna biru muda itu dengan sepatu high heelnya berdiri tegap dengan tangan dilingkarkan didadanya.
"Aku benci kamu!" Ucapnya didepan gerbang rumahnya.
"Masuklah jika masih ingin pergi." Jawab Junior masih tetap berada didalam mobil dengan tenang duduk bersandar dikursinya. Gladis semakin kesal lalu membuka pintu dan masuk kedalam mobil dengan mengoceh.
"Setidaknya kamu minta maaf sayang." Ucap Gladis.
"Oke.. aku minta maaf." Sambil berusaha tersenyum Junior kembali menghela nafasnya melihat tingkah Gladis.
"Bisa nggak sih kamu romantis seharian saja Junior? Aku bosan dengan sikapmu yang dingin seperti ini."
"Kamu sadar nggak sih jika ada orang lain selain kita didalam mobil ini!" Bantah Junior dengan cepat sebelum masalah semakin lebar dan panjang. Gladis melirik sopir Junior sesaat lalu menutup matanya.
__ADS_1
"Jalan pak." Ucap Junior saat keadaan mulai tenang.