Love My Enemy

Love My Enemy
BAB 3 Sudah jatuh, tertimpa tangga


__ADS_3

"Emo! Pokoknya aku tidak mau bekerja di perusahaan si brengsek itu!" sungut Lera, amarah begitu menguasainya saat ia tahu bahwa dirinya tidaklah bekerja untuk perusahaan keluarganya, "demi Tuhan, lebih baik aku bekerja di sini tanpa upah ketimbang bekerja untuknya!"


Suasana kantor di pagi hari sudah seperti area perang, dan suara Lera sudah mirip dengan petasan di tahun baru. Demon hanya mendengus dan memutar mata saat melihat sikap kekanakan sepupunya tersebut.


"Bian akan memberimu upah 2 kali lipat." ujar Emo, seolah iming-iming itu dapat membuat hati sang Sepupu luluh seketika.


"Aku tidak mau!" sungut Lera, ia memberi penolakan keras pada sang Sepupu. Harga dirinya jauh lebih berharga daripada uang.


Lera masih merasakan asap mengepul keluar dari kepalanya. Dia masih tidak percaya bahwa keluarganya bisa setega ini!


Awalnya hari ini Lera ingin bekerja, dia ingin menunjukkan pada Nenek, Ayah dan juga Emo kalau dia benar-benar bisa diandalkan dalam mengurus perusahaan. Tapi saat ia datang, Emo malah menyuruhnya untuk pergi ke perusahaan milik Bian. Hal yang membuat Lera semakin sedih karena posisinya bukanlah sebagai sekertaris ataupun menejer perusahaan, melainkan sebagai office girl.


Emo bilang, bekerja itu harus secara bertahap. Sebelum berada di atas, maka harus memulai dari bawah lebih dulu.


Cih, apa-apaan!


Selain itu, Lera tidak mengerti kenapa Bian begitu terobsesi untuk membuatnya berada dalam jarak pandang pria itu disaat dirinya berusaha untuk menjauh.


Masa gara-gara sebuah tendangan yang tak seberapa keras dua hari lalu sampai membuat pria itu bersikap setega ini?!


"Daripada bekerja untuk Bian, lebih baik aku mengamen di jalan!" Lera kembali bersungut.


Melihat sebuah kaleng di jalanan, Lera dengan sekuat tenaga menendang kaleng itu tanpa ampun. "Lihat saja, aku akan membuktikan pada kalian semua kalau aku, Lera Neurasasta Aditama, bisa bertahan hidup tanpa kemewahan Estan!" teriak Lera sebagai penutup. Lera merasa lega, setidaknya sebelum ia mendengar suara KRACK dari sebuah mobil yang terparkir di sisi jalan.


"Apa yang kau lakukan pada mobilku?"


Lera menahan napas sesaat.


Sial!


Masalah kali ini akan menjadi 2 kali lipat lebih besar saat mengetahui siapa pemilik mobil naas tersebut. Sudah jatuh, sekarang tertimpa tangga pula. Entah mengapa perumpamaan itu terdengar pas untuk situasinya saat ini.


Seseorang yang ia benci, seseorang yang tidak ingin ia temui, pria itu baru saja keluar dari sebuah toko bunga. Seorang pria yang Lera yakin itu adalah kaki tangannya berdiri tepat di belakang Bian, tatapannya seperti sinar laser mematikan.


Astaga, rasanya Lera ingin meleleh ke aspal dan menghilang daripada harus berhadapan dengan Bian.


"Mau kabur kemana hah?" Bian berhasil menarik baju belakang Lera saat gadis itu berusaha kabur.


Lera cemberut, dia menabok tangan Bian agar melepaskan cengkeramannya pada baju belakang yang ia kenakan. "Siapa juga yang mau kabur! Lepaskan tanganmu dari bajuku!"


Bian menyeringai, "Oh, benarkah? Lalu tadi itu apa? ancang-ancang mau balap lari?" ejek Bian tanpa berniat melepaskan targetnya begitu saja.


Demi Tuhan, ada apa dengan nasibnya? Kenapa ia harus dipertemukan dengan orang seperti Bian?


"Jaga mulutmu, Bian! Kau pikir aku tidak bisa mengganti kaca mobil jelekmu itu hah?"


Bian, pria itu tergelak. Gadis satu ini memang patut diacungi jempol. Sekali tarik, kini tubuh Lera sudah ada dihadapannya, tepat di depan wajahnya. "Dengan apa? Kau yakin kalau kau punya uang?" seolah tidak puas dengan ejekannya, Bian kembali bicara. "Hmmm ... kalau telingaku masih berfungsi dengan baik, sepupumu bilang kau hanya mendapat uang saku 100 ribu per minggu. Jadi, Lera, bagaimana caramu untuk mengganti kaca mobil jelekku itu?"


Lera menggeram bersamaan dengan kaki yang ia hentak-hentakkan. "Fine, apa yang kau mau dariku?"


Terkutuklah senyum di wajah tampannya itu.


"Kau harus membayar ganti rugi kaca mobil jelekku dengan cara bekerja di kantorku."


"You wish!" sungut Lera tak terima.


Bian pikir bisa semudah itu melumpuhkannya?


Jangan harap!


Lera berbalik, ia hendak melangkah pergi sampai sebuah tangan lebih dulu menariknya menuju sebuah mobil, mobil yang menjadi sasaran tendangan kalengnya beberapa menit lalu.

__ADS_1


Enak saja main seret anak orang tanpa alasan yang jelas mau dibawa ke mana, dia kira aku wanita apa?! Lera meruntuk dalam hati, saat ini ia tengah memberontak agar bisa lepas dari cengkraman tangan Bian pada lengannya.


"Masuk!" ujar Bian dengan nada memerintah.


"Tidak mau! Kau pikir aku wanita murahan yang mau saja dibawa oleh laki-laki ke tempat yang tidak jelas!"


"Kau ikut denganku atau mau aku adukan ke pihak berwajib karena ulahmu ini? Aku yakin nenekmu pasti akan marah besar melihat cucu perempuannya bertingkah hingga menginap di kantor kepolisian." Bian kembali mengancam, kali ini ancamannya benar-benar membuat Lera menyerah.


Demi Tuhan, Lera tidak sudi menghabiskan seluruh sisa hidupnya di penjara hanya karena sebuh kaleng dan kaca mobil.


"Baiklah, tapi ... kau jangan macam-macam denganku atau nanti kutinju sampai pingsan 7 hari!"


Bian menyeringai, "Kau bisa pilih sendiri bagian mana yang ingin menjadi sasaran empuk tinjumu," ejeknya dengan tatapan yang menurut Lera sangat menjengkelkan, "pipi? perut? atau bibirku?" ujarnya lagi, hal itu membuat Lera marah bercampur malu.


Sial!


Bian kembali mengingatkannya pada kejadian siang itu, saat dia menciumnya di taman.


Sebagai aksi rasa kesalnya, Lera memberikan cubitan maut pada lengan Bian yang dibalut jas hitam yang dikenakannya.


"Aaaaakh..." Bian mengerang sambil memelototi Lera, namun hal itu justru membuat Lera tersenyum lebar.


"Rasain! Makanya jangan macem-macem deh."


Lera duduk di jok penumpang masih dengan senyum puas. Sedangkan Bian, dia hanya bisa menghela napas. Asalkan gadis itu mau duduk tenang dan tidak kabur, ia bisa menerima rasa sakit atas cubitannya yang masih terasa sampai saat ini.


Bian kembali melirik gadis itu, mengamati bagaimana penampilannya saat ini yang tentu berbeda dengan saat mereka bertemu pertama kali di sebuah taman. Saat itu Lera terlihat begitu elegan dengan memakai sebuah dress creamy dengan wajah berbalut make-up natural yang membuatnya terlihat cantik. Namun sekarang, dia hanya memakai kaos yang sudah tidak terlihat baru dengan celana jins belel dan wajah tanpa make-up. Pasti sangat berat untuk menjalani hidup yang 180 derajat berbeda dari biasanya.


Bian teringat ucapan orang suruhannya yang saat itu ia tugaskan untuk mencari tahu latarbelakang Lera.


"Namanya Lera Neurasasta Aditama. Dia anak dari Andrew Aditama, sejak kecil dia hanya tinggal dengan Ayahnya di Australi, dan pindah ke Jakarta pada usia 13 tahun, saat itu hingga sekarang dia tinggal dengan Neneknya, Nyonya besar dari keluarga Estan yang sering dipanggil Omah Sinta." ujar David panjang lebar.


"Ibunya?" tanya Bian penasaran karena sedari tadi informasi tentang ibu Lera sama sekali belum di singgung.


Bian terhenyak, senyum miris terlukis disudut bibirnya. "Pantas dia bertingkah seperti itu," gumam Bian. "Lalu, bagaimana dengan keberadaan ayahnya?"


"Tuan Aditama tidak mau kembali ke Indonesia karena masih belum bisa menerima kematian isterinya, beliau menyibukkan diri untuk mengurus perusahaan di Australi," jelas David, ekspresi wajah Bian seketika mengeras. Ia jadi teringat pada pria brengsek yang telah menelantarkan dirinya dan Ibunya*.


"Kau mau membawaku kemana?" suara Lera menyentak Bian dari ceceran pikirannya.


Menoleh ke samping, Bian melihat gadis itu sedang berpangku tangan sambil menatap keluar jendela. "Ke tempat makan, bukan ke apartemenku." ucapnya yang ditanggapi Lera dengan dengusan, "Oh, maaf kalau membuatmu kecewa, tapi akan ada waktunya kau akan kubawa ke sana. Tenang saja," sambunya bersamaan dengan satu kedipan menggoda.


"Bicaralah dengan stir mobilmu, Bian!" jawab Lera.


Bukannya tersinggung, pria itu justru tergelak. "Ayo turun," ajak Bian setelah mobil yang dikendarainya sudah sampai di sebuah tempat makan.


Lera menggeleng, "Tidak, kau saja." dia tidak mau pergi ke dalam. Bukan karena dia tidak lapar, tetapi dia tidak mau menunggu Bian yang menyantap makanan lezat sedangkan dia hanya bisa menonton.


"Lera cepat turun, aku sangat lapar."


"Tapi aku tidak lapar!"


"Kalau kau tidak lapar ya sudah, kau cukup duduk dan temani aku makan. Di rumah sangat sepi dan aku tidak suka makan sendirian." Bian kembali berujar, ia masih berdiri di depan pintu penumpang, menunggu Lera keluar.


"Kenapa tidak minta ditemani ibumu saja?"


Ups!


Ucapan Lera tersebut membuat Bian diam membeku, air mukanya berubah menegang. Tatapannya yang tadi lembut kini berubah menjadi dingin sedingin Es. Dan tanpa aba-aba pria itu langsung menggendong Lera keluar dari mobil dan membawanya pergi ke dalam restoran, ke sebuah ruangan yang privat lalu membantingnya ke atas sofa.


Apa-apaan pria ini?!

__ADS_1


Lera menggeram dalam hati, ia menatap Bian kesal. Rasanya ingin sekali menendang pria itu. Tapi, berhubung ia berada di sebuah ruangan tertutup, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, hal itu membuat nyalinya menciut. Lera tidak pernah bisa menebak apa yang ada di dalam otak Bian.


Lera memijit tangannya yang terasa sakit, saat Bian mebantingnya barusan tangannya jatuh mengenai pinggiran meja yang tak jauh dari sofa.


"Aku minta maaf." Suara Bian terdengar pecah, dia segera mendekat dan melihat tangan Lera. "Sakit?" ia kemudian memijatnya perlahan.


"Tentu saja, bodoh!"


"Aku benar-benar menyesal." ucapnya lagi, wajah tegangnya beberapa saat lalu sudah kembali rileks. "Aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi."


"Hal apa?" pancing Lera.


Entahlah, pria ini sangat tidak bisa dipahami. Emosinya sangat cepat berubah-ubah, detik lalu bersikap kejam namun detik berikutnya bersikap lembut seperti ini.


"Melampiaskan amarah pada orang lain."


Lera ingin kembali mengorek informasi namun ketukan pada pintu membuatnya mengurungkan diri. Bian berjalan untuk membuka pintu dan setelahnya beberapa orang masuk dengan membawa berbagai makanan yang membuat kelenjar liur Lera langsung bekerja dua kali lipat.


"Kau tidak makan?"


Apa boleh? Batin Lera mulai berhianat. Gadis itu meneguk ludah saat melihat bagaimana Bian memotong daging dengan sangat lebut dan memakannya dengan ekspresi nikmat.


Lera menggeleng, ia meneguk air liurnya susah payah. "Tidak, terimakasih."


Oke, Lera bohong! Dia belum makan dari tadi pagi tapi rasa menahannya untuk tidak makan dengan seseorang yang sudah membuat hidupnya semakin rumit.


Bisa jadi, di dalam makanan dihadapannya saat ini berisi obat yang bisa membuatnya hilang akal dan menandatangi sesuatu tanpa disadarinya kan?


Kekehan Bian membuat Lera mendelik kesal, "Kenyang makan hati maksudmu, heum?" sebelum Lera menyela, Bian kembali menimpali. "Sudah makan saja, tidak ada racun di sana, aku serius."


Lera terdiam. Ia sedang berusaha membaca karakter pria di depannya. Selama dia belajar psikologi, dia baru menemukan tipe orang seperti Bian. Pria ini, dia bisa tertawa, marah, dan juga bertingkah konyol dalam waktu yang bersamaan, dan bahkan Bian seperti bisa membaca pikirannya.


Lera mengambil sendok dan garpu. Kesempatan emas seperti ini tidak boleh disia-siakan, apalagi dalam keadaan sedang sengsara begini.


"Kenapa?" tanya Lera saat mendapati Bian kembali terkekeh.


Pria itu mengambil tisyu yang kemudian ia sodorkan kepada Lera. "Kau tidak makan berapa hari?" tanyanya yang lebih tepatnya mengarah pada sebuah cibiran.


"Aku sudah selesai makan, aku mau pulang." ucap Lera lalu beranjak berdiri, namun lagi-lagi aksi Bian membuat gadis itu tidak berkutik.


Dia menarik Lera hingga terduduk di pangkuannya, membuat gadis itu gugup setengah mati. Jujur, ini kali pertama mendapat tatapan intens dari seorang pria, dalam jarak sedekat ini.


Jantung Lera berolahraga di sore hari.


"Kau harus membayar ganti rugi mobilku dengan bekerja di kantorku." ujar Bian masih dengan tatapannya yang begitu mengintimidasi bersamaan dengan gerak kepalanya yang semakin memperpendek jarak di antara mereka yang memang sudah sangat pendek mengingat posisi Lera yang terduduk di pangkuannya.


"Bagaimana kalau aku tidak mau?" tantang Lera.


Demi apapun, Lera tidak ingin memuaskan ego Bian dengan bekerja di perusahaannya.


"Maka tunggulah surat pemanggilan dari pihak berwajib atas tindakan brutalmu pada mobilku."


Lera menggeretakkan gigirnya marah, "Kau tidak bisa melakukan hal itu padaku, Bian!"


"Aku tunggu kedatanganmu besok."


Gosh!


Lera memejamkan matanya untuk meredam amarah. Hidupnya tidak akan sama lagi mulai dari sekarang. Bian sudah seperti neraka baginya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2