Love My Enemy

Love My Enemy
Bab 10 : Nikah paksa


__ADS_3

Apa yang biasanya perempuan rasakan disaat detik-detik pernikahannya? Bahagiakah? Gugupkah? Atau justru mulas-mulas seperti yang Lera rasakan saat ini?


Lera sudah bolak-balik keluar masuk toilet sejak satu jam lalu. Hatinya benar-benar gelisah karena beberapa menit lagi statusnya akan berubah. Dia akan menyandang marga baru dibelakang namanya yaitu Atmaja!


Bayangkan, dia akan menjadi Nyonya Atmaja. Perang dunia ke 3 mungkin akan terjadi setelah resepsi pernikahan selesai.


Sebelumnya Lera sudah membuat rencana besar. Seminggu lalu, tepatnya sebelum Bian kembali dari Bogor, dia berencana untuk kabur bersama Kenan dan meninggalkan Jakarta sampai Omahnya membatalkan pernikahan gila atas dirinya dan Bian. Tapi Lera tidak jadi melakukan rencana besarnya karena dia tahu akan bagaimana jadinya, kesehatan Omahnya akan drop, begitu pula dengan Ayahnya, sakit jantungnya pasti akan kambuh saat mendengar kabar dirinya yang kabur bersama laki-laki.


Lera tidak ingin hal buruk itu terjadi pada Omah dan juga Ayahnya, dia tidak mau kehilangan orang-orang yang begitu berarti dalam hidupnya lagi. Maka di sinilah ia berada, berdiri di samping Bian.


Proses sumpah pernikahan sudah dilakukan pagi tadi sekitar pukul 10.00, hanya dihadiri oleh keluarga inti saja. Sedangkan resepsi pernikahan diadakan malam ini, dari jam 7 tadi hingga jam 10 malam nanti.


Tidak banyak yang Lera undang, hanya teman-teman kelasnya saja, sedangkan Bian, dia mengundang pegawai kantor dan juga kolega bisnisnya.


“Selamat yah, Le. Semoga kalian bahagia.” ucap salah satu teman kampusnya.


Lera tersenyum kecut. “Terimakasih atas do’anya, Galih.”


“Astaga, aku kira tidak akan ada laki-laki yang melirikmu, loh...” ejek Sesil seraya menyalami Lera. “Suamimu tampan juga, kau dapat dari mana?” bisik Sesil kemudian.


Lera berniat membalas cibiran Sesil saat matanya lebih dulu menangkap siluet seorang pria yang disukainya baru saja masuk ke dalam ruangan, berjalan ke arahnya tanpa memutuskan kontak mata mereka. Malam ini Kenan terlihat begitu tampan dalam balutan jas caramel dengan kaos putih polos di dalamya. ‘Bawa aku, Kenan. Bawa aku pergi dari sini!’


“Selamat, Le. Semoga kau bahagia,”


Lera tidak bisa berkata apa-apa karena saat ini tenggorokannya terasa mengecil. Selain itu ada rasa panas yang menusuk di kedua sudut matanya. God, Lera tidak mau menangis. Kenan tersenyum miris, ia mengambil satu langkah maju untuk bisa menggapai Lera-nya, gadis yang telah lama ia kagumi, gadis yang telah lama ia cintai diam-diam, gadis yang bahkan belum sempat ia nyatai cinta dan sekarang sudah menjadi milik orang lain.


“Jangan menangis,” bisik Kenan setelah membawa Lera ke dalam pelukannya.


Dilain sisi, Bian tengah berdiri menatap dua orang yang sedang berbagi kehangatan itu dengan senyum miring, “Peluklah dia untuk yang terakhir kalinya, Lera. Karena setelah ini tidak akan aku biarkan dia menyentuhmu walau hanya sehelai rambut sekalipun.” gumam Bian sebelum meneguk habis minuman di tangannya.

__ADS_1


.


.


.


Pulang ke apartemen Bian bukanlah keinginan Lera, tapi dengan keadaannya yang lelah dan juga kepala yang seperti dibantai ribuan batu tidak memungkinkan dirinya untuk pulang ke apartemennya sendiri. Sesampainya di apartemen Bian, Lera segera menyita kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan juga mengganti baju dengan piama tidur, ia lekas meringsek ke atas ranjang dan memejamkan matanya.


Entah pada pukul berapa Lera terbangun. Tenggorokannya terasa sangat kering, ia membutuhkan air putih dan juga obat yang bisa membuat degungan menyebalkan di kepalanya berhenti. Lera turun dari ranjang dan berjalan ke luar kamar.


Bian, Lera melihat pria itu sedang asik berciuman dengan seorang gadis seumurannya di sofa ruang tengah. Lera berdecak, pantas saja dia tidak mendapati pria itu tidur di sampingnya tadi.


Ternyata dia sedang menghabiskan malam dengan wanita lain.


Tidak, Lera sama sekali tidak cemburu, atau bahkan menginginkan malam pertama. Lera justru bersyukur kalau Bian tidak menyentuhnya.


Mengabaikan kegiatan tak senonoh yang sedang berlangsunh, Lera melanjutkan langkahnya, melewati Bian dan gadis itu menuju pantry.


“Hm... aku terbangun karena mendengar suara seseorang yang sedang mendesah. Aku kira ada orang yang numpang berbuat mesum di apartemenmu, tapi ternyata itu kau.” ejek Lera bersamaan dengan tatapan jijiknya yang ia tuju pada pria yang baru saja menjadi suaminya tersebut. “Lanjutkan saja, aku akan kembali tidur setelah merasa tenggorokanku tidak kering lagi.” Sambungnya kemudian.


Bian menggeram. Bukan ini reaksi yang ingin ia lihat dari Lera saat memergokinya bercumbu dengan Fallen. Dia ingin Lera merasakan apa yang ia rasakan saat melihat wanitanya itu berpelukan dengan pemuda ingusan saat di pesta tadi. Dengan sigap Bian mencekal pergelangan tangan Lera yang hendak masuk ke dalam kamar.


Lera menoleh seraya mengernyitkan keningnya. “Apa?” tanyanya malas.


“Kenapa kau tidak marah?”


Alis Lera membuat garis kurva, “Kenapa aku harus marah?” tanyanya bingung.


“Kebanyakan wanita akan marah saat melihat suaminya sedang bersama wanita lain, apalagi ini malam pertama mereka.”

__ADS_1


Oh, Tuhan... Lera tidak bisa untuk tidak terbahak saat mendengar ocehan suaminya tersebut.


"Dengar, bagiku malam ini, malam berikutnya dan malam-malam lainnya sama sekali tidak ada bedanya. Dan apa kau bilang? Seorang wanita akan marah saat melihat suaminya bersama dengan wanita lain? Itu hanya berlaku bagi mereka yang mencintai suaminya, Bian. Sedangkan aku tidak sama sekali, aku tidak mencintaimu sama halnya dengan kau yang tidak mencintaiku.”


Lera menarik napas sedalam-dalamnya. Ia harus bisa mengontrol emosi, kalau dia marah maka dia kalah. “Kau terlalu percaya diri kalau mengira aku mau menikah denganmu karena aku mencintaimu. Satu hal yang perlu kau tahu di sini, aku menikah denganmu karena aku ingin melindungi keluargaku dari segala rencana licik yang kau buat Bian. Kau ingin balas dendam kan? Maka bermimpilah, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”


Setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan, Lera melepaskan cengkeraman Bian kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.


“Lera, urusan kita belum selesai!” geram Bian.


“Urusan kita atau urusan kau dengannya?” Lera kembali mengejek. “Ah, benar. Kalau kalian ingin pindah ke kamar, maka aku yang akan tidur di sofa kalau begitu.”


Bian memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut kemudian ia mengusap wajanya.


"Tidurlah...” ucapnya sebelum menarik diri dari hadapan Lera dan kembali ke ruang tengah.


Shit! umpat Bian. Ia duduk di sofa dengan perasaan tidak tenang, rasa panas membakar hatinya tanpa ampun. Bian menuangkan wine ke dalam gelas kemudian ditenggaknya tak bersisa. Satu gelas, dua gelas, tiga gelas.... dan sekarang sudah sampai hitugan gelas ke sepuluh.


“Bian.” panggil Fallen, bibirnya mengerucut karena merasa diabaikan oleh pria itu.


“Pulang lah..."


“Tidak.” tolak Fallen. Bian baru saja akan membuka mulutnya saat Fallen kembali menyela, “Tidak Bi. Aku tidak masalah dengan statusmu yang telah menikah. Lagipula istrimu juga bilang kalau dia tidak mencintamu, jadi kita-“


“Pulang lah.” kali ini suara Bian terasa lebih tajam dari sebelumnya, Fallen menundukkan kepala seraya meremas kedua tangannya gugup. Bian menghela napas, ia tidak boleh mengacaukan semua ini. “Aku bilang pulang, Fallen. Masih ada hari esok untuk bertemu denganku. Sekarang aku sangat lelah dan ingin istirahat, kau mengerti maksudku kan?”


Fallen tersenyum, “Kau janji tidak akan meninggalkanku kan?”


“Hm... tentu.” ucap Bian kemudian menarik wajah Fallen dan memberikan satu kecupan terakhir di bibirnya.

__ADS_1


Fallen merasa begitu senang karena Bian tidak akan meninggalkannya, “Baiklah kalau begitu. Sampai ketemu nanti, honey.”


__ADS_2