
Terlahir menjadi anak tunggal dikeluarga kaya raya membuat hidup Lera seperti seorang puteri kerajaan. Paras yang cantik dan juga otak cerdas adalah pelengkap kesempurnaan dirinya. Selama ini apapun yang diinginkannya akan selalu dikabulkan oleh sang Ayah tercinta. Seperti apartemen, mobil mewah, dan kartu unlimited yang ia dapatkan dari sang Ayah sangat menjamin kelangsungan hidupnya.
Tapi, seperti yang pepatah katakan bahwa roda selalu berputar.
Pagi ini Lera seperti baru saja terbanggun dari mimpi indahnya dan dihadapkan dengan kenyataan terburuk dalam hidupnya.
Lera terduduk di sisi ranjang, matanya menatap lemari berisi gaun-gaun indah miliknya yang telah dirantai dan berbandul gembok besar. Tidak hanya itu, bahkan isi kamarnya sudah kosong. Tidak ada Tv, tidak ada mini kulkas, dan meja riasnya sudah bersih dari jejeran make-up mahal miliknya.
Oh, Tuhan ... cobaan macam apa ini?
Saat Lera keluar kamar, ia kembali dikagetkan dengan keberadaan beberapa pria berbadan besar yang sedang berlalu lalang menjarah semua isi apartemennya tersebut. Seingatnya, ia sama sekali tidak memiliki hutang pada rentenir manapun.
"Tunggu, apa yang sedang kalian lakukan?" Lera berseru panik saat orang-orang itu mulai mengangkut lemari berisi koleksi DVD dan juga koleksi komik miliknya.
Salah satu orang berjas hitam yang Lera yakini bahwa dialah sang atasan dari orang-orang berbadan besar lainnya, saat ini sedang berjalan ke arahnya. Pria itu memberi senyum ramah sebelum akhirnya memberikan sebuah amplop pada Lera.
"Maaf, Nona. Anda pasti kaget dengan kedatangan kami di kediaman anda. Tapi percayalah bahwa kedatangan kami di sini atas perintah Nyonya besar. Dan ini surat yang beliau titipkan untuk anda."
Nyonya besar? Itu berarti Omah! Lera langsung membuka surat itu dan membacanya.
"Omah dan Ayahmu sudah sepakat untuk menyita semua aset yang kau miliki dan kami akan mengembalikan semua aset itu jika kau sudah bisa mengubah kelakuan burukmu. Datanglah ke kantor Emo untuk meminta pekerjaan jika kau ingin tetap hidup. Kami menyayangimu."
Lera berkedip beberapa kali dan kembali membaca surat itu dengan lebih teliti. Namun setelah 10 kali membacanya, isi suratnya tetap sama. Matanya tidak mungkin salah, dan ia yakin kalau ini bukanlah mimpi.
"Cih, menyayanggi apanya! Kalau mereka menyayangiku mana mungkin mereka berlaku setega ini!" raung Lera setelah memeriksa isi dompetnya yang juga sudah kosong melompong, hanya menyisakan selembar uang seratus ribu. Padahal semalam dia sudah mengambil banyak uang dari kartu ATM sang sepupu dan barang belanjaan semalam juga telah raib.
Double sial!
.
.
.
Estan Holding Company, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bisnis jasa konstruksi dengan berfokus pada layanan kontraktor utama, layanan rancang dan bangun (Design and Build). Selain itu, EHC juga mengerjakan proyek Joint Operation untuk proyek-proyek yang besar. Pada akhirnya Lera memutuskan untuk datang ke perusahaan yang saat ini dipimpin oleh sang sepupu, Demon Estanbelt. Lera tidak memiliki pilihan lain karena menangis sampai air matanya mengering pun sang Omah tidak akan berubah pikiran.
"Nona Lera," seorang sekertaris baru saja menegur Lera saat ia hendak membuka pintu ruang kerja Emo. "Pak Estan sedang ada tamu. Kalau Nona berkenan, silakan menunggu."
Lera memberikan death glare terbaiknya pada Geffy, nama sekertaris itu. Cih, menunggu tidak pernah ada dalam kamus Lera disaat kelangsungan hidupnya sedang diujung tanduk seperti saat ini. Persetan dengan tamu di dalam sana. Lera segera menerobos masuk bersamaan dengan suara debum pintu yang cukup keras.
"Emo! Omah, Em. Omah menyita seluruh asetku. Parahnya Omah menyuruhku untuk datang kemari dan meminta pekerjaan padamu kalau aku masih mau hidup lebih lama." adu Lera tanpa repot-repot melirik siapa tamu yang saat ini sedang menatap dirinya dengan sebuah seringai dan senyum miring.
"Istrimu?" tanya orang itu. Entah mengapa Lera merasa tidak asing dengan suara orang tersebut.
Emo berdecak kesal karena perbincangan seriusnya telah terinterupsi oleh si pembuat onar manja. "Bukan, mana mau aku menikahi gadis manja sepertinya." jawab Emo sebelum menutup berkas yang telah ia tanda tangani. "Dia sepupuku, Lera. Dan Lera, dia Bian, rekan kerjaku."
'Bian?'
Sebagai bentuk kesopanan, Lera memutuskan untuk menyalami rekan kerja Emo tersebut, namun siapa sangka kalau rekan kerja sepupunya itu adalah pria kurang ajar kemarin siang. Lera menahan napas, ia mulai merasakan asap yang mengepul saat melihat pria itu sedang menyeringai ke arahnya. "Kau! Pria mesum yang mencuri-" Lera tak melanjutkan umpatannya karena di sana ada Emo. Demi Tuhan, Lera tidak mau menambah masalah di saat seperti ini.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Emo seraya menatap dua orang di depannya bergantian. Lera yang sedang mengepalkan kedua tangannya dengan wajah memerah dan Bian yang terlihat senang melihat emosi Lera tak kunjung meledak.
"Ya, kami bertemu kemarin." sahut Bian seraya mengedipkan sebelah matanya pada Lera.
__ADS_1
Emo mengangguk, "Dan Lera, apa yang sudah Bian curi darimu?"
Ciuman pertamanya. Ciuman yang telah ia jaga selama 21 tahun ia hidup. Ciuman yang akan ia persembahkan untuk Kenan sang pujaan hati telah dicuri oleh si brengsek itu!!!!
"Tidak ada." jawab Lera kemudian.
Lera tidak sudi menceritakan kejadian memalukan kemarin pada Emo. Belum lagi kejadian itu berlangsung di depan Erry, putra tersayangnya. Lera akan terkena masalah jika Emo mengetahui hal itu.
"Emo, aku ingin posisi yang bagus di perusahaan. Dan aku akan mulai bekerja besok pagi karena hari ini aku harus pergi menemui dosen pembimbingku." ucap Lera serius.
Emo menyisir rambutnya dengan jemari panjangnya. Suatu kebiasaan disaat dia sedang gugup atau tertekan. "Hn, Omah sudah memberikan rekomendasi khusus untuk posisi yang akan kau tempati."
Lera tersenyum senang. Ternyata sang Neneng tidak terlalu jahat juga. "Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu. Silakan lanjutkan rapat kalian yang tertunda." Sebelum berbalik dan melenggang pergi, Lera sekali lagi menatap Bian untuk yang terakhir kalinya.
Hatinya berdoa, semoga dia tidak lagi bertemu atau berurusan dengan pria menyebalkan itu.
"Bad impression, huh?" ujar Emo setelah kepergian Lera dari ruangannya.
"Bukankah seseorang akan selalu memikirkan kita karena keburukannya?" sanggah Bian dengan kekehan kecil. Gadis yang kemarin ia temui di taman rupanya salah satu keturunan Estanbelt. Wah, peluang yang sangat tidak terduga. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Bian menyeringai saat sebuah ide muncul dikepalanya. "Pak Estan, bagaimana kalau sepupu anda bekerja di perusahaan saya? Bukankah bekerja di perusahaan orang lain jauh lebih efektif untuk membentuk pribadinya daripada bekerja di perusahaan keluarga sendiri yang saya yakin bahwa dia akan tetap bersikap tidak dewasa?"
Emo terdiam, ia sedang memikirkan tawaran rekan bisnisnya barusan. Jika menilik sifat seenak jidat dan manjanya Lera, ucapan Bian ada benarnya juga. Emo juga bisa membayangkan apa yang akan Lera lakukan di sini, yang pasti gadis itu tidak mungkin akan bekerja, tapi merengek sepanjang waktu padanya.
"Aku akan membicarakan hal ini dengan Omah terlebih dahulu. Nanti akan kukabari lagi jika beliau setuju untuk mengirim Lera ke perusahaanmu." ungkapnya seraya menyerahkan map berisi dokumen yang telah ia tanda tangani.
Bian tersenyum, "Aku akan menunggu kabar baik itu." ucapnya kemudian menyalami Emo dan pamit undur diri. "I catch you, Lera."
.
.
.
Biar, biar saja orang-orang di halaman kantor ini menganggapnya gila. Lera sama sekali tidak peduli, kecuali mereka mau memberinya uang.
"Semua ini gara-gara pria menyebalkan itu! Coba kalau tadi dia tidak memprofokasiku, maka aku tidak akan pergi dengan tangan kosong begitu saja." Lera masih sibuk dengan acara ngedumelnya. Bahkan karena perasaan kesal yang bermegah-megah itu, ia sampai tidak sadar sudah berjalan kaki cukup jauh dari area kantor.
Tin... Tin... Suara klakson mobil dari arah belakang membuat Lera tersentak kaget, hampir saja ia jatuh ke aspal kalau saja keseimbangan tubuhnya tidak cepat ia kuasai. Tin... Tin... Lera sudah menyisih ke pinggir jalan tapi mobil sialan di belakangnya kembali membunyikan klakson.
Tin... Tin...
Demi Tuhan, apa maunya pengemudi gila di belakangnya itu. Lera bersumpah akan memuntahkan kejengkelannya, namun saat ia membalikkan badan, apa yang semula ingin ia muntahkan menguap dengan seketika. Lebih tepatnya digantikan dengan perasaan ingin membunuh.
"Butuh tumpangan?"
Dia Bian. Apa yang bisa Lera harapkan dari pria brengsek itu? Jawabannya tentu saja tidak ada. "Tidak, terimakasih." Lera lebih memilih jalan kaki sampai kampus daripada menumpang di mobil Bian. Ayolah, tidak ada jaminan bahwa dia akan sampai tujuan dengan selamat dan utuh.
Bian menyeringai. "Benarkah? Memangnya kau mau kemana?"
Lera menatap Bian malas. "Kau tidak lihat? Aku mau ke kampus!"
Ada apa dengannya?
Lera menaikkan satu alisnya saat melihat Bian yang saat ini sedang tertawa seraya mengamati dirinya dari atas sampai bawah, terus begitu selama beberapa menit.
__ADS_1
"Ke kampus dengan memakai celanan belel dan kemeja tak dikancing seperti itu?"
"Ada yang salah?"
"Tidak. Hanya saja aku pikir kau mau mengamen dengan pakaian seperti itu."
Huh?
Pengamen dia bilang? Yang benar saja! sungut Lera dalam benaknya, ia benar-benar merasa tersinggung atas tatapan dan juga ucapan pria di dalam mobil itu. Kalau saja lemarinya tidak dirantai dan digembok oleh sang Omah, Lera juga tidak sudi mengenakan pakaian yang seperti saat ini. Apa kata anak-anak kampus nanti? Lera yang biasa mengenakan baju trendy sekarang hanya memakai jins yang warnanya sudah termakan usia dengan kemeja yang sering cuci pakai. Ia hendak memberikan serangan balasan untuk Bian namun kemudian ia urungkan. Dia masih cukup waras untuk tidak meladeni Bian.
"Masuklah, aku akan mengantarmu." ucap Bian setelah membukakan pintu penumpang.
Lera menggeleng, "Terimakasih atas tawarannya, tapi akan lebih aman jalan kaki daripada duduk di dalam mobil mahalmu." setelah itu Lera mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Kenan sambil menjauh dari sana.
Kenan Dirgantara. Teman sekelasnya yang pendiam itu telah lama menjerat hati Lera, tepatnya sejak OSPEK dulu. Tapi Lera tidak pernah mengatakan perasaannya pada Kenan. Ayolah, galak-galak begitu juga Lera masih seorang gadis. Dia tidak mungkin menyatakan perasaannya lebih dulu pada seorang pria walaupun dia tahu kalau pria itu juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
"Hai, Ken. Kau sudah berangkat ke kampus?"
'Belum. Memangnya kenapa?'
Senyum di wajah Lera seketika merekah sempurna. "Errrr... aku juga ingin ke kampus, tapi pagi ini aku mendapat masalah dari nenek-ku, mobil dan yang lainnya di sita. Kalau kau tidak keberatan, bisakah kau menjemputku?"
'Oke, kau di mana?'
Lera tidak bisa menahan senyumnya saat mendengar jawaban Kenan barusan. Otaknya mulai membayangkan dirinya yang nanti akan duduk di jok belakang motor besar Kenan seraya memeluk perut pujaan hatinya itu. Akan ada berapa abs yang terbentuk di perut Kenan? Inner genitnya sedang kumat, wajahnya sudah ber-blushing ria karena imajinasinya itu.
"Aku ada di-" Lera terkesiap ketika tiba-tiba saja seseorang merebut handphone miliknya dan dengan sekejap handphone-nya itu berseluncur di trotoar. Demi Tuhan, itu satu-satunya benda yang lolos dari sitaan sang Omah. Handphone kesayangannya. "APA YANG KAU LAKUKAN, BRENGSEK!" amuk Lera, ia hendak meluncurkan tendangan mautnya namun ia kalah cepat, sekarang tubuhnya telah melayang dalam gendongan Bian. "HEY, TURUNKAN AKU!"
"Diam atau kucium!" Ancaman yang sangat ampuh. Bian tersenyum puas dengan ketidak berdayaan Lera saat ini.
Toloooong ada pria tampan yang menculikku!
.
.
.
Bian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia melirik gadis yang sedang duduk cemberut di bangku penumpang. Merasa diperhatikan, Lera segera menoleh dan melotot pada Bian. "Apa?" tanyanya galak.
"Di mana kampusmu?" tanya Bian. Bukannya menjawab, Lera justru membuang muka, ia tidak mau memberitahukan alamat kampusnya pada Bian. "Kalau kau tidak mau memberitahu kampusmu, aku akan membawamu ke apartemenku kalau begitu."
APA? Lera langsung menatap Bian horor. Kalau pria itu benar-benar membawanya ke apartemen, ia dalam masalah besar. "Dasar gila! Jalan saja, nanti akan aku beritahu jalannya!!!" teriaknya kemudian.
Bian tergelak, ia merasa terhibur dengan wajah paranoid Lera saat ini. Saat mobil yang Bian kendarai telah sampai di area kampus, Lera segera keluar dari sana. Sedangkan Bian, pria itu tengah menggerutu karena tingkah Lera barusan, padahal dia mau menanyakan jam pulang gadis itu.
Suara dering telpon di atas dasbor membuat perhatian Bian teralihkan. Ada nama Estan yang tertera di layarnya. "Ya, halo?"
"Aku sudah membicarakan dengan Nenek. Beliau setuju untuk menitipkan Lera di perusahaanmu. Tapi Nenekku berpesan kalau Lera harus bekerja dari bawah. Kau mengerti maksudku, kan?"
Bian menyeringai. "Tentu saja."
"Baiklah, dia bisa mulai bekerja besok. Aku akan memberitahunya setelah ini."
__ADS_1