Love My Enemy

Love My Enemy
Episode 57


__ADS_3

Ditempat lain Junior sedang duduk dikafe bersama temannya. Gladis juga berada ditempat itu memegang dibagian lengan Junior sambil bersandar dibahu Junior.


"Sepertinya kalian sudah pantas menikah Junior." Ucap Pras teman dekat Junior.


Junior melototkan matanya kepada Pras. Pras menahan tawanya melihat ekspresi Junior.


"Sayang kapan kamu akan melamarku?" Ucap Gladis bermanja-manja.


"Sayang lepaskan tanganmu, lihat tuh orang pada lihatin kita." Balas Junior merasa tidak nyaman.


"Pras kapan kamu punya pacar biar kalau ngumpul ada yang temanin kaya aku dan Junior selalu bersama." Ucap Gladis tanpa peduli dengan ekspresi Junior yang terlihat kesal.


"Aku lebih suka menjomblo, bebas kemana-mana. Terserah mau ngapain nggak ada yang larang, rasanya kalau punya pacar itu ribet tapi untungnya kamu punya Junior yang setia kepadamu." Sahut Pras meledek Junior.


"Oke sekarang aku fokus kepada topik pembicaraan. Pras aku ingin minta bantuanmu." Junior menyela.


"Bantuan apa?" Pras kembali menyeruput sambil menunggu Junior berbicara.


"Tolong jadilah pengawal Jeni untuk sementara waktu aku masih mencari seseorang yang bisa kupercaya saat ini."


"Hahaha Jeni? Lebih baik aku jadi pengangguran seumur hidup dari pada harus mengurusi adikmu yang satu itu Junior. Serius aku tidak mau Junior!" Jelas Pras.


"Aku bayar dua kali lipat dari gajimu mengajar ditempat bela diri itu. Hanya kamu yang bisa aku percaya Pras untuk saat ini. Aku tidak bisa terus mengawasinya karena aku akan mulai sibuk belajar beberapa bisnis Daddyku."

__ADS_1


"Kamu bakal nggak punya waktu dong sama aku lagi Junior?" Gladis menyela pembicaraan dengan cemberut.


Junior hanya meliriknya sesaat.


"Junior kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini kamu terlihat jutek sama aku? Kamu jarang menghubungiku duluan, kamu jarang nongkrong lagi sama aku, jarang ajak aku shoping." Timpal Gladis sedikit sebal.


"Gladis! Kenapa sih dalam otakmu hanya shoping? Jalan-jalan dan menghambur-hamburkan uang? Aku lagi suasana berduka, aku stres harus memulai dari mana hidupku. Kamu bisa tidak mengerti aku kali ini saja!" Bentak Junior. Beberapa pengunjung lain menoleh ke arahnya.


Gladis melepaskan tangannya. "Kamu jahat Junior." Ucap Gladis lalu berlari meninggalkan Junior dan Pras. Junior menghela nafasnya dengan kasar setelah kepergian Gladis.


"Aku hampir gila karenanya Pras, apa dia tidak bisa mengerti kondisiku sekarang? Apa diotaknya hanya bersenang-senang? Bagaimana aku akan menikah dengannya jika dia seperti itu. Bagaimana kalau aku jatuh miskin? Aku yakin seratus persen dia akan meninggalkan aku."


"Hahaha curhat bro? Baru sadar jika Gladis seperti itu?" Bukannya prihatin Pras malah tertawa.


"Pras aku mohon bantulah aku untuk saat ini. Aku janji setelah aku mendapatkan pengawal untuk Jeni aku akan memberikan bonus lebih. Kamu boleh memarahinya jika dia melawan dan boleh menyentil jidatnya tapi tidak boleh dari itu."


"Cih.. katakan saja jangan memukul adikmu. Baiklah aku akan membantumu! Jadi mulai kapan aku bekerja?" Tanya Pras. Junior melihat jam tangannya lalu tersenyum.


"Juna dan Jeni selalu bertengkar dan barusan Jeni menelfon tidak mau lagi dijemput oleh Juna. Sopir dirumah selalu kewalahan bila berurusan dengan Jeni. Mulai sekarang kamu boleh kerja dengan menjemput Jeni dan jangan biarkan dia keluyuran selepas pulang sekolah. Dah aku pergi ada beberapa urusan yang aku selesaikan!" Ujar Junior. Pras masih melongo dengan mengerutkan dahinya melihat kepergian Junior.


"Dasar kau! Jika bukan karena kamu aku tidak akan mau berurusan dengan Jeni si tukang ulah dan manja itu. Astaga Junior lagi-lagi aku yang bayar uang makan kalian." Kesal Pras.


Pras melaju dengan mobilnya menuju sekolah Jeni. Setibanya disana Pras bersandar dimobilnya sambil memperhatikan Jeni keluar dari pintu gerbang. Suara Jeni tertawa dan Pras sangat mengenalinya. Pras melambaikan tangannya kepada Jeni tetapi Jeni hanya melihatnya lalu kembali mengobrol dengan temannya tanpa peduli dengan Pras.

__ADS_1


"Dasar anak itu!" Gerutu Pras.


Pras berjalan mendekati Jeni. Tanpa peduli dengan Jeni yang masih mengobrol Pras menarik tangan Jeni.


"Cie..cie..dijemput sama pacarnya yah?" Teriak teman-teman Jeni.


"Kak Pras lepaskan!" Jeni berteriak dengan keras tetapi Pras tetap berjalan.


"Aku diberi kuasa menyakitimu jika kamu melawan!" Sahut Pras memaksa Jeni masuk kedalam mobilnya.


Jeni memanyunkan mulutnya melihat ke arah Pras. "Kesel banget lihat wajah kak Pras, kenapa sih harus dia yang dipilih kak Junior yang menjadi pengawalku. Dia nggak tahu kalau aku masih sakit hati karena dia menolak aku jadi pacarnya dua tahun lalu. Ih... sebel banget ahhhh." Gumam Jeni kesal.


"Kapan kamu merubah sikapmu jadi dewasa de. Kamu juga kelihatannya masih marah sama kakak." Ucap Pras.


"Nggak usah ngomong sama aku, fokus saja mengendarai mobil sampai dirumah." Balas Jeni masih terlihat kesal.


"Kak Pras minta maaf yah karena menarik tangan Jeni tadi dengan kasar." Ujar Pras kembali.


Jeni hanya diam sambil memandang diluar jendela. "Sampai mati aku nggak akan maafin kamu kak Pras." Ungkap Jeni.


Pras hanya bisa menghela nafasnya. "Baiklah."


Pras

__ADS_1



__ADS_2