Love My Enemy

Love My Enemy
Episode 27


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu dan benar saja Ken tidak kembali setelah pagi itu. Luna duduk lesu dimeja makan dengan banyaknya hidangan yang disiapkan bi Vanya dimeja makan tersebut. Luna belum menyentuh makanannya sehingga membuat bi Vanya dan Nensi jadi serba salah dengan tingkah istri majikan mereka tersebut. Pelayan rumah berdiri dibelakang Luna dan diujung meja ada seorang pengawal yang sedang berdiri tegap tanpa menatap Luna.


"Kalian mau membuatku sakit perut karena menghabiskan makanan ini?" Seru Luna kepada mereka bertiga.


"Maaf Nn.Luna apakah makanan ini tidak sesuai selera anda?" Tanya bi Vanya sambil membungkukkan badannya.


"Kalian sudah sarapan?" Luna malah bertanya balik.


"Maaf Nn.Luna jika anda belum sarapan maka kami tidak diperbolehkan untuk makan." Sahut bi Vanya.


"Makanlah bersamaku!" Perintah Luna.


Bi Vanya, Nensi dan pengawal tersebut saling berpandangan.


"Maaf Nn. Luna kami tidak boleh makan bersama majikan." Sahut bi Vanya sopan.


"Siapa yang kalian maksud majikan? Aku? Hahaha berhentilah bercanda ayo makan sebelum aku tidak berselera lagi makan." Ucap Luna sambil tertawa.


Mereka bertiga masih berada diposisinya seperti sangat takut duduk dimeja makan tersebut.


"Ayolah bi Vanya, Nensi dan dia aku belum mengenalnya." Luna melihat kepada pengawal yang masih terlihat muda tersebut.


"Namaku Satya Nn. Luna." Sahut Satya sopan.


"Ayolah makan bersamaku. Ken tidak berada disini jadi kalian jangan takut kepadaku." Luna masih memaksa kini dia menarik tangan mereka satu persatu. Mereka duduk dengan canggung dihadapan Luna sedangkan Satya duduk berjauhan darinya.


"Nn.dirumah ini ada CCTV jika Tn.Ken melihat pasti dia akan marah kepada kami." Kata bi Vanya seperti sedang takut.


"Makanlah!" Perintah Luna tanpa memperdulikan mereka yang terlihat ketakutan. Mereka akhirnya pasrah dengan perintah Luna.


"Biasanya berapa lama Ken pergi?" Ucapnya penasaran karena Ken tidak menghubunginya walaupun hanya sekali.


"Paling cepat dua minggu Tn. Ken kembali." Sahut Satya tegas.

__ADS_1


"Dua minggu paling cepat? Dan paling lama dia kembali berapa minggu?"


"Tiga bulan kadang juga sebulan." Sambung Satya.


"Apa? Astaga aku tidak percaya ini." Jawab Luna terkejut.


Si brengsek itu tidak pernah menghubungiku beberapa hari ini? Nomornya juga selalu sibuk jika aku menelfonnya sebenarnya pekerjaan apa? Aku pikir dia hanya mengelola sekolah dan bar tetapi dia punya pekerjaan lain diluar sana. Apa aku hanya istri simpanannya? Atau dia mempunyai banyak gadis diluar sana yang dia nikahi? Ken, jika itu terjadi aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.


"Maaf Nn.Luna kami harus mengerjakan pekerjaan didapur." Kata bi Vanya sedangkan Nensi hanya senyum-senyum sejak tadi.


"Pergilah, terima kasih telah menemaniku makan." Luna ikut menundukkan badannya ketika dua pelayan tersebut berbungkuk ke arahnya.


"Aku juga sudah kenyang Nn.Luna. Bolehkah aku berdiri?" Ujar Satya.


"Hemm terima kasih Satya. Tunggu, apa Ken menelfonmu?"


"Tn.Ken menanyakan kabar anda pagi tadi."


"Tapi Non kata Tn.Ken anda tidak boleh pergi kemana-mana jika dia tidak ada."


"Katakan padanya sekarang jika sampai malam dia tidak kembali aku akan pergi bersama teman-temanku!" Ucapnya dengan lantang lalu beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Satya yang sedang menghela nafasnya dengan panjang.


Enak saja dia datang dan pergi sesuka hatinya kepadaku. Lihat saja aku akan pergi jika sampai malam kamu belum tiba Ken. Kamu pikir aku takut untuk pergi dari sini? Cih dia menganggap aku apa setelah dia nikahi?


****


Sesampainya ditoko dengan diantar seorang sopir Luna terhenti melangkah saat Bryan sedang berdiri didepan toko yang telah terbuka tersebut. Farah berdiri dibelakang Bryan terlihat mondar-mandir. Bryan melangkah dengan senyuman kearahnya sedangkan Luna masih terpaku ditempatnya berdiri.


"Lun aku membawakan makanan kesukaanmu. Aku menyimpannya didalam tokomu." Ucap Bryan masih terlihat ganteng dimata Luna.


"Aku sudah sarapan!" Jawabnya ketus lalu berjalan meninggalkan Bryan.


Bryan mengikutinya berjalan kembali masuk kedalam toko bunga tersebut. Beberapa pengunjung mulai berdatangan sedangkan Bryan duduk manis menyaksikan Luna dan Farah melayani pembeli.

__ADS_1


"Terima kasih telah mampir." Ucap Luna pada pengunjung terakhir.


Sekitar jam sebelas pagi Bryan masih saja duduk tenang dikursi tersebut. Luna membiarkan saja dia berada disitu tanpa ada percakapan diantara mereka.


"Pulanglah sebelum orang-orang Ken melihatmu!" Perintah Luna tetapi Bryan hanya tersenyum.


"Mereka telah mengawasiku sejak tadi." Sahut Bryan santai.


"Bryan aku mohon pergilah jika kamu masih ingin melihat anakmu lahir dari wanita yang kamu cintai! Bryan mereka bisa membuatmu terluka!" Bentak Luna.


"Lun sabar." Farah mengelus belakang Luna.


"Aku tahu kamu masih mencintaiku aku akan terus mengunjungi hingga kamu bisa memaafkan aku Lun." Ucap Bryan berdiri dari tempatnya duduk.


"Aku memaafkanmu mulai sekarang tapi aku mohon jangan pernah kembali lagi ditempat ini!" Balas Luna dengan kesal.


"Aku akan tetap menemuimu hingga hubungan kita bisa kembali seperti dulu." Ujar Bryan lalu pergi tanpa rasa bersalah.


"Apa dia sudah gila karena menyesal telah meninggalkanmu?" Ucap Farah ikut kesal.


"Dia tidak menyesal Ra, dia hanya ingin membuat Ken Marah." Sahut Luna.


"Kenapa?" Farah bertanya dengan wajah binggung.


"Banyak rahasia diantara mereka yang tidak kamu ketahui Ra. Sudahlah, sejak dulu mereka memang seperti itu." Jawab Luna datar.


"Apa kamu yakin Ken tidak akan membunuh atau menyerah Bryan? Jika aku lihat-lihat, suamimu itu terlihat garang."


"Hahaha dia memang garang seperti yang kamu lihat tapi dia masih mempunyai otak untuk membunuh mantan sahabatnya sekaligus mantan saudaranya itu."


"Apa? Mantan sahabat dan mantan saudara? Mereka? Ah, mustahil jika mereka pernah bersahabat dan bersaudara." Farah lebih terkejut kali ini.


"Yah.. itulah kenyataannya Ra." Sahut Luna.

__ADS_1


__ADS_2