
Mata Jeni menajam memandangi gadis yang memiliki paras cantik itu. Dia melepaskan pelukannya lalu berlari dari ruang keluarga itu. Satu tetes air matanya terhempaskan saat dia berlari. Jeni menutup pintu dengan membanting pintu kamar dengan keras. Setibanya didalam kamar Jeni kembali menangis dengan posisi tengkurap.
"Mommy? Daddy? Dimana kalian? Jeni sangat rindu hiks..hiks..hiks.." Kata Jeni kembali terisak didalam kamarnya.
Ditempat lain, Junior juga meninggalkan ruang keluarga dan masuk kedalam kamar. Juna masih berada ditempat itu bersama Lea dan Bi Vanya.
"Lea, aku nggak sangka kalau kamu ada hubungan dengan bibiku." Ungkap Juna.
"Hmm begitulah.." Kata Lea.
"Berdirilah Lea, nenek akan mulai menjelaskan satu persatu pekerjaan kamu." Jelas Bi Vanya.
"Aku ikut yah bi hehehe." Timpal Juna bergegas berdiri dari duduknya mengikuti Lea dan bi Vanya.
"Kamu terlihat sangat dekat dengan Lea." Ucap Bi Vanya menoleh dengan wajah bertanya kepada Juna.
__ADS_1
"Biasalah laki-laki.. dia suka sama teman Lea." Bisik Lea.
"Ah.. aku nggak jadi ikut.." Juna membalikkan badannya lalu berlari dengan cepat menghindari Lea dan bi Vanya.
Lea terkekeh. Bi Vanya menjelaskan beberapa pekerjaan rumah dengan teliti. Pikiran dan mata Lea sibuk mencerna dan menghafal semua yang dikatakan bi Vanya. Mata Lea terbelalak saat kaki bi Vanya berhenti didepan kamar.
"Ini termasuk tugasmu, membersihkan kamar tuan muda Junior dan merapikan barang-barangnya setiap pagi. Untuk kamar ini saja karena kamar Juna dan Jeni itu tugas bi Nensi. Junior sangat berbeda dengan Juna jika Juna terlihat lebih akrab kepada siapapun sedangkan Junior lebih banyak diam dan suka menyendiri. Jangan bertanya apapun kepadanya kecuali dia yang memulai bertanya. Jangan membuatnya marah dengan melakukan kesalahan berulang-ulang. Junior sangat rapi dengan pakaiannya, dia lebih tenang dari pada kedua adiknya."
Deg.... jantung Lea seketika berdegup cepat.
"Bekerjalah dengan baik, jangan mengecewakan nenekmu. Aku tidak ingin mendengar keluhan dari tuan muda Junior dikemudian hari. Setelah kamu lulus kuliah kamu bisa pulang kekampung dengan gelar sarjana dari hasil keringatmu sendiri. Ingatlah sangat susah mencari kerja sambil kuliah. Hanya ini kesempatan yang baik untukmu. Kamu ingin sukseskan Lea? Kuncinya adalah sabar." Ucap bi Vanya lalu melangkah lagi menuju ruangan lain.
Lea menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan perlahan seraya mengikuti kembali bi Vanya berjalan.
"Rumah yang besar tapi nampak sangat sepi, aku rasa hidupku akan penuh tantangan berada dirumah ini. Kakak yang pendiam, si Juna yang play boy, dan si Jeni yang sinis kepadaku.. oh Tuhan mereka sangat unik menurutku." Batin Lea.
__ADS_1
Setelah selesai menjelaskan semuanya bi Vanya mengantar Lea kedalam kamarnya.
"Ini kamarmu, bi Nensi sekamar dengan suaminya Satya. Satya sekarang sibuk membantu mengurus beberapa bisnis orang tua mereka. Mereka baru saja berduka karena kehilangan orang tua dalam kecelakaan pesawat. Rumah ini sangat sunyi tanpa kehadiran orang tua mereka, untung saja ketiga anak itu dikelilingi orang-orang baik." Ujar bi Vanya sedih.
"Aku tidak akan mengecewakan kepercayaan nenek." Sahut Lea sambil mengelus lembut tangan bi Vanya.
"Masukanlah bajumu didalam lemari itu, sore ini juga bibi akan berangkat kekampung. Bibi akan sampaikan salammu kepada orang tuamu Lea. "
"Baiklah." Ucap Lea.
Bersambung..
LEA
__ADS_1