Love My Enemy

Love My Enemy
Bab 4 : Potong Kuku


__ADS_3

"Demi Tuhan, ini akhir pekan! Hanya orang gila yang menuntut karyawan untuk bekerja pada akhir pekan begini?!"


Kain lap dan botol semprot menjadi sasaran kekesalan Lera. Gadis itu membuang semua alat kebersihan ke lantai cukup brutal. Ia kemudian menatap pantulan dirinya di cermin. Lera benci ketika dirinya tidak berdaya, tidak bisa berkutik apalagi harus membuat pemberontakan. "Aku benci Emo! Aku benci Omah! Aku benci Ayaaaaah!" teriak Lera, seakan apa yang dilakukannya dapat meredam sedikit amarahnya. "Dan aku juga benci Bian!" sambungnya lagi.


Akhir pekan, biasanya Lera menghabiskan akhir pekannya dengan berbelanja atau nongkrong di salon. Tapi untuk pertama kali dalam hidupnya, Lera menghabiskan akhir pekannya dengan sapu dan juga pelan lantai. Sang Nenek dan juga sepupunya benar-benar tega melakukan ini padanya, seolah tidak ada jabatan yang lebih cocok lagi selain menjadi office girl. Parahnya, ia bekerja untuk Bian.


Pria itu seperti mempunyai banyak mata dan telinga. Sungguh, Lera sama sekali tidak bisa bekerja santai. Para seniornya selalu mengawasi dan mengomel saat melihat menemukan dirinya duduk barang sejenak.


"Kalau saja si brengsek itu tidak mengancam ingin melaporkanku ke polisi karena sudah membuat kaca mobilnya retak, aku tidak akan mungkin berakhir di sini!" keluh Lera, iris cokelatnya berpindah menatap jari-jarinya yang terasa dingin dan juga ... "Hiks, kukuku ... astaga, kukuku yang malang." tangis Lera akhirnya pecah juga saat mendapati kuku yang telah lama ia rawat dan ia panjangkan patah di depan matanya. "Kau akan membayar mahal untuk semua ini Bian! Hueeee ....."


Bian yang semula diam-diam mengamati Lera di ambang pintu pada akhirnya tidak bisa lagi untuk bersembunyi karena saat ini dia sedang meledakkan tawanya. Oh, Tuhan, Gadis manja itu berhasil membuat harinya yang selalu monoton jadi sedikit berwarna. Lihat, betapa menggemaskannya Lera saat menangisi kukunya seperti menangisi setumpuk emas yang hilang.


"Tck, Tck, aku membayarmu mahal untuk bekerja bukan untuk menangis, Lera." tegur Bian disela kekehannya.


Lera berbalik, dengan kedua mata penuh air mata ia menatap Bian yang tengah bersandar pada kusen pintu.


Bisa-bisanya si brengsek itu tertawa!


"Kau tidak lihat? Kuku kesayangnku baru saja patah, brengsek!"


Kepala Bian mengangguk, rasa geli masih menggelitik dirinya. "Ya, aku bisa melihatnya dari sini." ucapnya dengan santai.


Astaga, apa yang Aku harapkan dari seorang pria brengsek seperti Bian?


Bagi para lelaki mungkin ini terlihat sepele, kuku yang patah sudah pasti bisa tumbuh lagi. Tapi ... tidak untuk perempuan, memanjangkan mereka selama berbulan-bulan dan membawanya ke salon untuk perawatan sama halnya seperti membesarkan seorang anak.


Tangisan Lera kembali tedengar, kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Lera sedih karena tidak satupun dari mereka yang memahami dirinya, tidak nenek maupun sang Ayah yang mendadak hilang dari peredaran.


"Kemarikan tanganmu."


Lera terkesiap dari pikirannya sendiri. Dia bahkan tidak menyadari langkah kaki Bian yang mendekat karena terlalu sedih memikirkan nasib kukunya yang malang.


"Kau mau apa?" Lera bertanya waspada saat melihat gelagat mencurigakan pria di depannya.


Bian memutar bola matanya, "Berikan tanganmu, Lera."


Apa yang akan dia lakukan? Pikir Lera dalam benaknya sambil mengamati Bian dengan tatapan menyelidik, tangan pria itu sibuk mencari sesuatu dibalik kantong jas yang dikenakannya.


Sangat mencurigakan, bukan?


"Kau mau aku bantu atau tidak?"


Seriously? Seorang Bian?

__ADS_1


"Tidak, terimakasih!" tolak Lera tegas.


Tck, hanya orang bodoh yang akan masuk dalam perangkap Bian. Pria ini ... Pria di depannya ini bukan pria berhati lembut, jangan pernah mengharapkan sesuatu yang mustahil untuk terjadi.


"Bian, apa yang kau lakukan?!" Lera terpekik saat pria itu membalikkan tubuhnya dengan cepat dan mengunci kedua tangannya ke belakang tubuh. "Oh, tidak! Bian jangan lakukan ituuu!!!"


.


 


.


 


.


 


 


"Bian brengsek!"


Umpatan yang sama kembali terdengar untuk yang ke 100 kali dalam satu jam ini.


"Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa melindungi kalian dari si lucifer itu, hueee ...." isak tangis kembali terdengar, "aku harap kalian bisa tenang di dalam sana. Ke tempat yang lebih baik."


Ingatan 1 jam lalu kembali terlintas di kepala Lera. Bagaimana kejamnya Bian memotong 8 kukunya yang tersisa hingga pendek.


"Nah, begini lebih rapi. Sekarang kerjamu akan lebih cepat dan leluasa saat menggosok kaca ataupun kloset, seperti ini" Bian mengambil lap pembersih kemudian dia genggamkan ada tangan Lera. "Gosok dengan kencang seperti ini tanpa harus khawatir kukumu akan patah lagi."


"Dasar brengs-" ucapan Lera tidak sempat terucapkan karena Bian kembali menyela.


"Kau bisa memanjangkan kukumu lagi saat kau sudah kembali menjadi tuan puteri manja, Lera. Tapi saat ini, kau harus belajar untuk menjadi rakyat jelata karena bagaimanapun kau tidak akan mampu pergi ke salon untuk memanjakan kukumu itu." setelah mengatakan hal kejam itu dengan tanpa perasaan, Bian pergi begitu saja. Tanpa rasa bersalah maupun meminta maaf padanya.*


"Lihat nanti Bian, kau akan merasakan pembalasan dariku!" sungut Lera sambil meratakan tanah di depannya seperti semula.


"Di sini kau rupanya?"


Suara ini?


Lera segera membalikkan tubuhnya dan benar saja kalau orang yang saat ini berdiri di belakangnya adalah Emo.


Bagus! Setelah menelantarkan dirinya lebih dari satu minggu, dia baru menunjukkan batang hidungnya!

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di sini, brengsek?!" sungut Lera bersamaan dengan sendok penggali tanah yang melayang. Dalam benaknya Lera berharap sendok itu tidak benar-benar mengenai sepupunya tersebut.


Walaupun kesal, tapi Lera sangat menyayangi Emo lebih dari apapun. Karena dia satu-satunya keluarga Lera selain nenek dan sang Ayah.


"Kau marah?"


Lera mendengkus, "Apa aku kelihatan bahagia dengan mengenakan pakaian kotor dan mengerjakan hal menjijikan di toilet?" jawabnya sarkastik.


Emo memutar bola matanya. Sungguh, Lera dan keahlian drama Queenya membuat pria itu jengah. "Aku tidak bermaksud kejam, Omah membuatku tidak punya pilihan. Kau tahu itu, Lera."


Gadis di depannya menunduk, suara sesegukan mulai terdengar samar-samar.


"Kau menangis?" tanya Emo hati-hati.


"Bawa aku pulang Emo, Oma pasti mau mendengarkan ucapanmu."


Emo mundur satu langkah, "Tidak bisa Lera. Kali ini Omah tidak bisa dibujuk, aku sudah mencobanya sejak awal." jawab Emo jujur, "Tiga bulan, Le. Tunjukkan kalau kau bisa berubah maka Omah akan mengembalikan semuanya padamu. Hanya tiga bulan saja aku mohon."


Lera menyeka pipinya, dia menggeleng. Tiga bulan, Lera tidak mungkin bisa bertahan selama itu. Tidak, Lera tidak mau lebih lama lagi berurusan dengan Bian.


"Kalian tidak tahu bagaimana sulitannya aku di sini, dengan seorang bos gila seperti Bian!" adu Lera, berharap air matanya bisa membuat hati Emo luluh. "Lihat, pria gila itu bahkan memotong kuku indah yang sudah lama aku rawat tanpa perasaan!" ia menjulurkan kedua tangannya ke hadapan Emo.


"Lera, sebenarnya itu hal yang ingin aku lakukan sejak bertahun-tahun lalu pada kuku-mu kalau kau mau aku jujur. Tapi syukurlah karena Bian sudah melakukannya untukku." aku Emo dengan cengiran jail.


"EMO!!!"


"Well, kukumu itu banyak menghabiskan uangku, tahu!"


Lera menganga tak percaya. Ini adalah penghianatan ganda!


Memijit kepalanya yang mulai berdenyut, Lera kemudian mengatakan, "Pergilah Em, aku tidak mau melihat wajahmu mulai sekarang!"


"Kau yakin?" tanya Demon, satu alisnya yang terangkat seakan menantang keteguhan hati Lera. "Ya sudah kalau begitu, aku pamit. Well, sekedar informasi, tadinya aku mau mengajakmu ke luar untuk membeli sesuatu di mall berama Erry. Tapi sayang sekali tante Lera sedang tidak mau digangg-"


"Kau dan Erry mau beli apa? Aku tahu tempat yang bagus!" Lera memotong dengan cepat, saat ini dia sedang membersihkan tanah yang menempel pada bajunya. "Katakan padaku kau mau beli apa? Perlengkapan sekolah Erry atau kau butuh pakaian formal untuk acara perjamuan kantor?"


Emo hanya bisa menghela napas saat tangannya ditarik Lera menjauh dari halaman kantor menuju tempat di mana kendaraannya terparkir manis.


Astaga, kenapa marahku hanya seharga jalan-jalan dan belanja di mall? Keluh Lera dalam hati.


 


 

__ADS_1


__ADS_2