Love My Enemy

Love My Enemy
Episode 56


__ADS_3

Sore itu juga bi Vanya berangkat kekampung halamannya diantar oleh sopir pribadi keluarga Ken. Kepergian bi Vanya penuh haru, satu persatu mereka memeluk bi Vanya dengan meneteskan air mata. Jeni yang terakhir kali memeluk bi Vanya sambil terisak. Jeni tidak mau melepaskan pelukan bi Vanya tetapi Junior berusaha melepaskan pelukan Jeni dengan paksa.


******


Keesokan harinya setelah selesai membantu menyiapkan makanan untuk tuan rumah, Lea bergegas menuju kamar Junior. Lea mengetuk pintu sebanyak tiga kali dengan gugup.


"Masuklah!" Terdengar sahutan dari dalam kamar. Lea membuka pintu dengan pelan dengan membawa serbet dan beberapa alat kebersihan lainya.


Junior tengah duduk dengan berkutat dengan laptopnya ditempat tidur. Lea berjalan tanpa menoleh kepada Junior. Lea mulai merapikan beberapa sisa makanan yang berada diatas meja.


"Rasanya aku ingin pekerjaan ini berakhir." Gumam Lea dalam hatinya.


"Siapa namamu?" Tanya Junior tanpa menatap Lea.


"Aku?" Tanya Lea kembali karena Junior tidak melihatnya dan hanya sibuk dengan laptopnya.


"Memangnya ada orang selain kita berdua dikamar ini?" Balas Junior sinis.


"Ihhh jutek amat sih nih orang." Batin Lea.


"Namaku Juleha kak, tapi biasa dipanggil Lea." Sahut Lea tetapi tangannya sibuk membersihkan meja dengan posisi duduk.


"Kau sekampus dengan Juna kan? Apakah dia sering berbuat masalah dikampus?" Tanya Junior lagi.


Apa? Sumpah aku benci banget harus mengatakan ini. Apa aku harus kukatakan jika adikmu itu menjadi idola para gadis-gadis? Apakah aku harus katakan jika adikmu adalah play boy kampus?


"Lea? Apa kamu tidak mendengarkan aku?" Timpal Junior karena Lea hanya berdiam.

__ADS_1


"Iya kak, aku dengar kok. Juna tergolong pintar dikampus. Dia juga banyak ikut kegiatan yang bermanfaat dikampus." Sahut Lea menunduk.


"Baguslah." Kata Junior. Junior melepaskan bajunya lalu melempar ke keranjang pakaian. Lea seketika terkejut dengan membalikkan badannya membelakangi Junior.


Apa dia sudah gila? Mengapa dia seenaknya membuka bajunya didepanku.


Saat Junior berada didalam kamar mandi Lea dengan cepat membersihkan kamar Junior agar tidak bertemu dengan Junior lagi. Lea keluar dari kamar melewati ruang makan. Juna dan Jeni tengah duduk tetapi ada satu wanita yang baru dilihatnya sedang makan bersama mereka. Lea hanya meliriknya sesaat lalu berjalan lagi untuk menyimpan beberapa alat kebersihan yang ada ditangannya.


"Siapa dia?" Tanya wanita itu kepada Juna.


"Wanita asing dilarang bertanya didalam rumah ini." Sahut Jeni ketus.


"Kapan kamu akan menerima kenyataan bahwa aku adalah pacar kakakmu Jen." Kata Gladis melingkarkan tangannya didadanya.


"Sudah-sudah kenapa sih kalian selalu bertengkar?" Juna menyela pertengkaran yang ada dimeja makan.


"Perempuan tidak tahu malu, kenapa juga kak Junior memilih wanita kecentilan seperti dia. Dia pikir dia cantik apa? Make upnya terlihat sangat tebal setiap saat membuatku sangat jijik memandangnya." Gerutu Jeni berjalan menuju mobil.


Saat Juna selesai makan Lea lewat diruang makan dengan telah berganti pakaian. Junior baru tiba dimeja makan sehingga Lea dan Junior kembali saling menatap.


"Lea kamu belum makan? Berangkat sama aku saja." Kata Juna. Lea belum sempat menjawab tangan Lea ditarik oleh Juna


meninggalkan ruang makan tersebut.


"Apalagi ini kak Juna?" Kata Jeni sedikit keras berbicara. Satu alisnya diangkat ketika melihat tangan Lea digenggam erat oleh Juna.


"Juna lepaskan tanganku! Aku akan naik ojek online saja." Lea melepaskan tangannya tetapi Juna malah mendorong masuk tubuhnya kedalam mobil.

__ADS_1


"Naiklah! Kita akan berangkat bersama Lea setiap pagi." Ucap Juna.


Jeni menghentakan kakinya berulang kali sebelum masuk kedalam mobil.


"Aku benci wanita yang mendekati mereka!" Jelas Jeni kesal.


Selama perjalanan Jeni memasang wajah cemberut membuat Lea yang duduk dibagian belakang menjadi tidak nyaman.


"Pembantu rasa nyonya!" Kata Jeni kesal menyindir Lea. Juna menepi dipinggir jalan secara tiba-tiba.


"Jeni sekali lagi kamu mengatakan itu kakak akan turunkan kamu sebelum tiba disekolahmu!" Ucap Juna melototi Jeni.


"Jalan kak, aku akan terlambat!" Sahut Jeni tanpa peduli dengan ucapan Juna.


"Berjanji dulu baru kita jalan!" Juna juga tidak mengalah.


"Aku tidak akan berjanji!" Teriak Jeni lebih keras dari Juna.


Mereka masih sibuk bertengkar tanpa mereka sadari Lea telah keluar dari dalam mobil.


"Dah Juna." Lea melambaikan tangannya dari dalam angkot.


"Lea? Itukan semua karna kamu gadis nakal." Juna menarik rambut Jeni. Jeni tak mau kalah dengan membalas menjambak rambut Juna.


"Ahh.... Hentikan!" Teriak Juna kesakitan.


Juna dan Jeni selalu bertengkar tanpa peduli mereka ada dimana.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2