
Luna duduk ditaman yang menjadi tempat favoritnya sejak dulu.
"Belum banyak yang berubah dari tempat ini. Pohon ini menjadi saksi jika aku pernah bahagia dan tersakiti ditempat ini. Rasanya baru kemarin aku duduk dibangku sekolah dan sekarang aku telah mempunyai anak. siapa yang sangka jika Ken akan menjadi ayah dari anakku. Hemm harusnya ayah dari anakku adalah orang lain agar aku bisa terus membenci Ken seumur hidupku. Haaah... aku sangat menyukainya saat ini bahkan jika dia terus melukaiku aku akan tetap menyukainya." Ucapnya dengan lirih.
"Sampai kapan kamu akan menghindariku seperti ini?" Ucap Ken dari belakang.
Luna tak menoleh ke arah suara yang ada dibelakangnya.
"Sejak kapan kamu berdiri disitu?"
"Aku mengikuti sejak tadi, aku sangat khawatir dengan keadaanmu Lun." Sahut Ken kini dia duduk disamping Luna.
"Pergilah aku hanya ingin sendiri saat ini. Aku tidak akan pergi jauh karena aku akan bertahan demi Junior." Timpal Luna.
"Bisakah kamu mengatakan jika kamu bertahan karena sangat mencintaiku? Aku rasa sejak dulu hingga sekarang jarak kita semakin jauh. Kita tidak bisa saling mengerti satu sama lain sehingga kita saling menyakiti. Tolong maafkan aku sayang." Timpal Ken. Mata mereka tidak saling menatap tapi rasa sakit itu seperti sedang mengejar mereka.
"Aku hanya butuh waktu untuk menerima ini jadi aku mohon berhentilah memohon maaf dariku karena aku tidak bisa memaafkanmu untuk saat ini. Junior butuh orang tua yang utuh jadi aku mohon berpura-puralah tidak terjadi apa- apa diantara kita jika berada didepannya." Sahut Luna dengan lirih.
"Jangan kembali kepada Bryan walaupun dia memintamu. Mungkin kamu pikir aku egois karena memiliki dua wanita tetapi aku tidak pernah bisa untuk melepasmu dari hidupku sejak dulu Lun. Kamu cinta pertamaku dan sampai sekarang kamu masih sangat spesial didalam hatiku."
"Aku akan menjemput Junior." Ucap Luna telah beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
Ken menarik tangannya hingga Luna terhenti sejenak.
"Kita akan menjemputnya bersama. Mobilmu akan dibawa oleh Kris." Ucap Ken.
"Ken aku benar-benar terluka saat ini aku mohon jangan memaksakan aku untuk pergi bersamamu." Sahut Luna.
"Aku mohon ini demi Junior Lun."
"Baiklah." Ucap Luna pasrah.
Ken mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Tangannya meraih tangan Luna yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Maafkan aku Lun, aku benar-benar tidak tahu jika kamu sedang mengandung saat itu." Ucap Ken.
"Sampai kapan ini akan berakhir Tuhan." Gumam Luna didalam hatinya.
Mereka tiba disekolah. Junior tersenyum melihat kedua orang tuanya berjalan bersama.
"Semalam aku lihat mommy nangis lagi didalam kamarku dad." Ucap Junior polos.
Ken langsung melingkarkan tangannya ditubuh Luna dan mencium Luna di pipi.
__ADS_1
"Daddy akan tidur bersama kalian malam ini agar mommy mu tidak sedih lagi." Sahut Ken.
Luna melirik Ken dengan sinis.
"Demi Junior sayang." Bisik Ken setelah melihat ekspresi Luna.
Ken menggendong Junior masuk kedalam mobil. Junior terus tersenyum dan menceritakan kegiatannya selama disekolah. Luna kembali meneteskan air mata lagi saat melihat senyuman Junior saat Ken terus berbicara kepada Junior yang sedang duduk dibelakang.
"Bagaimana aku bisa melewati ini, aku tidak tahu akan kapan derita ini berlalu. Bagaimana dengan Bella dan Ken? Bagaimana dengan Junior saat dia tahu jika dia akan mempunyai adik dari ibu yang lain?" Batin Luna.
"Luna." Ken berhenti bercanda bersama Junior kini dia begitu sedih saat melihat air mata Luna kembali menetes.
Saat malam tiba mereka telah selesai makan malam. Luna menggendong Junior setelah mata Junior hampir tertutup dimeja makan. Di dalam kamar Luna menidurkan Junior dengan menepuk-nepuk bokong Junior dengan pelan. Tidak butuh waktu lama untuk Junior tertidur dan Luna juga ikut berbaring disampingnya. Saat Luna memeluk Junior Ken membuka pintu dengan pelan lalu menutupnya. Ken berjalan ke arah mereka yang sedang tertidur lalu dia ikut berbaring disamping Luna. Ken memeluk Luna dari belakang tetapi Luna dengan cepat menjatuhkan tangan Ken.
"Pergi dari sini Ken." Ucap Luna dengan ketus tanpa menoleh ke arah Ken yang sedang berbaring.
Bukannya pergi Ken kembali memeluk Luna dengan erat. Luna berusaha melepaskan tangan Ken tetapi tangan itu terlalu erat berada ditubuhnya.
"Jangan bergerak karena anak kita bisa terbangun jika kamu terus merontak." Bisik Ken.
"Cih, kamu mengambil kesempatan didalam kesempitan." Sahut Luna kesal.
__ADS_1
Ken tersenyum sedangkan Luna hanya bisa pasrah berada dalam dekapan Ken.