
Saat Farah sedang membuatkan minuman Luna menatap Bastian dengan sinis. Bastian berusaha menghindar tetapi dia terlalu takut untuk menghindari Luna.
"Sejak kapan kamu dekat dengan Farah." Tanya Luna dengan nada ketus.
"Hehehe Lun jangan menatapku seperti itu." Sahut Bastian masih terlihat gugup.
"Aku bertanya Bastian." Timpal Luna.
"Aku serius akan menikahi Farah, aku tidak main-main Luna dan aku tidak akan bermain dengan wanita lain lagi." Jawab Bastian terburu-buru.
"Cih.. Jika kamu menyakitinya aku akan membunuhmu!" Kata Luna tegas.
"Luna ponselmu berdering." Kata Bastian.
"Angkatlah katakan aku bersamamu!" Luna memberikan ponselnya kepada Bastian.
"Tapikan Ken akan marah." Jawab Bastian.
"Angkat atau Farah akan tahu jika kamu mempunyai banyak wanita diluar sana." ancam Luna. Bastian dengan cepatnya mengangkat telfon dari Ken.
"Halo Ken." Sapa Bastian.
"Siapa ini?" Tanya Ken pada panggilan telfonnya.
"Bastian." Sahutnya Bastian nampak ragu dengan jawabannya.
"Hei jika sampai mulutmu membocorkan rahasia ini aku akan membunuhmu!" Kini Ken yang mengancamnya dari telfon.
"Dasar suami istri selalu membuatku dalam masalah." Batin Bastian.
"Hemm iya Ken." Jawab Bastian lalu menutup telfonnya.
Tiba-tiba Farah datang.
__ADS_1
"Kalian bicara dulu ya aku akan menyiapkan makanan untuk kalian." Kata Farah dengan membawa dua gelas minuman hangat dan meletakan diatas meja.
"Pergilah aku rindu masakanmu Ra." seru Luna lalu tersenyum. Bastian dan Luna kini kembali berdua diruang tamu tersebut. Luna mulai menyeruput minumannya dengan pelan tapi tatapannya tidak berpaling dari Bastian. Luna menyimpan kembali minumannya dimeja sedangkan Bastian menyibukkan diri dengan menyeruput minumannya secara perlahan.
"Sejak kapan mereka bersama?"
"Uhuk..uhuk..uhuk.." Bastian terbatuk dan hampir menumpahkan minumannya.
"Apa yang kamu sedang bicarakan Lun? Aku sungguh tidak mengerti." Bastian bertambah gugup.
"Aku tidak suka berbasa basi Bastian. Aku sedang tidak mood hari ini jadi tolonglah untuk bersikap jujur padaku hari ini." Bentak Luna.
"Luna aku..."
"Farah akan membatalkan pernikahanmu jika dia tahu begitu banyak wanita yang kamu tiduri!"
"Baiklah! Lima tahun mereka menjalani hubungan tanpa status dan Bella telah mengandung anak Ken."
Luna menghela nafasnya dengan panjang. Matanya kini kembali berkaca-kaca dihadapan Bastian.
"Aku yang salah." Ucap Luna kini dia tidak mampu menahan lagi air matanya jatuh dihadapan Bastian.
"Bukan begitu maksudku Lun." Timpal Bastian merasa bersalah.
"Katakan pada Farah aku pergi Bastian, terima kasih atas kejujuranmu. Aku akan merahasiakan ini dari Ken jadi kamu tenang saja dia tidak akan curiga." Luna beranjak dari tempat duduknya sedangkan Bastian hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi kedepannya.
Luna melaju dengan kecepatan sedang sedangkan ponselnya kembali berdering.
"Halo." Ucap Luna sambil mengendarai mobilnya dengan satu tangan.
"Kamu dimana? Aku baru tiba dikediaman Farah." Ucap Ken.
"Hmm pulanglah!" Jawab Luna lalu mematikan panggilannya.
__ADS_1
Sementara itu Luna telah tiba dirumahnya disambut oleh Junior dengan pelukan hangat.
"Mom aku dan daddy sepulang sekolah pergi jalan-jalan. Mom ada dimana padahal daddy terus menelfon mommy tadi." Ucap Junior.
"Mommy ada urusan nak, maafkan mommy tidak menemanimu seharian ini." Luna terus memandangi Junior dengan perasaan sedih.
"Mommy sini deh daddy membelikan aku mainan baru lagi." Ucap Junior menarik tangan Luna masuk kedalam kamarnya.
"Lihatkan ini permainan model terbaru kata daddy. Daddy sayangkan sama aku mom." Sambung Junior dengan polosnya menceritakan pengalamannya bersama Ken seharian. Luna tidak begitu fokus hingga dia tidak menyimak perkataan Junior dengan baik.
"Mom itu daddy sudah datang." Luna berusaha menenangkan dirinya sebelum dia menoleh ke arah Ken yang sedang berada dipintu. Luna berusaha tenang tetapi hatinya tidak bisa menerima itu dengan cepat. Dia tidak mampu untuk menatap Ken dan hanya menatap Junior yang mulai kebingungan dengan sikap mommynya.
"Mengapa kamu tidak mengangkat telfon dariku sayang?" Ucap Ken, kini tangannya melingkar ditubuh Luna dengar erat dari belakang.
"Terima kasih telah membawa Junior jalan-jalan hari ini."
"Mengapa kamu mengucapkan terima kasih? Dia anakku sayang jadi sudah sewajarnya aku memberikan kasih sayangku kepadanya."
"Mommy kok nangis?" Ujar Junior melihat tetesan air mata membasahi kedua pipinya.
Ken berpindah tempat duduk, kini dia berhadapan dengan Luna.
"Mommy bahagia nak, akhirnya kamu bisa bertemu dengan daddymu. Maaf mommy mau mandi dulu kamu bersama daddy dulu yah." Luna dengan cepat membalikkan wajahnya menyembunyikan kesedihannya dari Ken.
Luna masuk kedalam kamar mandi dengan membasahi tubuhnya dibawah air yang berjatuhan dari shower. Luna menangis bersamaan dengan jatuhnya air hingga tidak terlihat cairan yang keluar dari kedua matanya.
"Sayang kamu baik-baik saja." Ujar Ken sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Aku baik-baik saja. Istirahatlah aku akan lama berada didalam sini." Jawab Luna.
"Baiklah!" Ken belum beranjak dari pintu kamar mandi sambil menyandarkan dirinya.
"Luna aku sangat takut kehilanganmu lagi. Aku sangat bingung saat ini." Batin Ken.
__ADS_1
"Mengapa hatiku semakin perih berada dirumah ini." Batin Luna.