Love My Enemy

Love My Enemy
Episode 64


__ADS_3

Didalam mobil Junior beberapa kali melayangkan senyuman kepada Lea. Lea yang duduk disampingnya dikursi penumpang hanya bisa membalas senyuman tanpa tahu apa arti sebuah senyuman yang Junior berikan kepadanya. Setibanya dikampus bersamaan dengan kedatangan mobil Juna, Junior berhenti. Junior lagi-lagi tersenyum dengan manis dihadapan Lea.


"Maaf kak, apa kak Junior sedang sakit? Atau aku ada salah?" Lea mengangkat alisnya menunggu jawaban dari Junior.


Junior keluar dari mobil lalu membukakan Lea pintu mobil. Juna yang berdiri tidak jauh dari mereka menghampiri Lea yang baru saja keluar dari dalam mobil. Sama-sama kebingungan melihat Junior, Juna hanya bisa melihat aneh sikap kakaknya.


"Aku akan menjemputmu selepas pulang kampus." Kata Junior.


"Ngga usah dijemput kak, Lea akan pulang bersama aku." Dengan cepat Juna mengambil alih pembicaraan. Junior tidak menyahut lalu masuk kedalam mobil.


"Tunggu aku menjemputmu. Jangan berani pulang bersama orang lain!" Teriak Junior dari dalam mobil. Lea lagi-lagi melongo dengan sikap Junior. Junior telah pergi dengan melambaikan tangannya kepada Lea. Lea membalas lambaian tangan Junior dengan terpaksa.


"Apa kakakmu sudah gila?" Lea menoleh ke arah Juna masih dengan eskpresi yang sama.


"Dia menyukaimu atau dia benar-benar sudah gila." Jawab Juna.


"Hah? Suka sama aku? Hahaha sumpah ini lelucon." Jelas Lea sambil tertawa.


Juna dan Lea berjalan bersamaan. Seorang wanita datang menghampiri mereka dengan memberikan pelukan kepada Lea. Juna terdiam gugup.


"Lea aku.. aku akan." Ucap Juna terbata-bata.

__ADS_1


"Hai Juna." Sapa Ayu dengan senyuman manisnya. Juna semakin gugup dan salah tingkah membuat Lea menahan tawanya sejak tadi.


"Dah aku duluan yah!" Belum sempat Juna menjawab Ayu telah berlari dari tempat mereka berdiri.


"Jika suka katakan saja Jun. Bagaimana Ayu mau tahu perasaan kamu jika kamunya hanya diam tak berdaya jika berada didekatnya." Lea meledek.


"Jadi perempuan itu enak. Tinggal tunggu pria menembaknya tapi kalau nggak suka yah tinggal nolak. Coba kamu ada diposisi aku pastinya punya pertimbangan yang matang jika ditolak mentah-mentah."


"Ada aku yang menerima kamu." Lea memasang wajah serius. Juna juga memperlihatkan wajah serius.


"Hehehe bercanda Jun."


"Bolehkah aku jadi pacarmu Lea?" Juna memasang wajah serius. Lea terdiam sejenak.


"Dasar kau!" Lea langsung meninggalkan Juna yang masih saja terus tertawa.


****


Dilain tempat Jeni masih saja memasang wajah kesal dihadapan Pras.


"Kak nggak usah jeput aku selepas pulang sekolah. Aku akan pulang bareng teman aku." Katanya dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Kakak tetap tunggu kamu didepan sekolah. Pekerjaan kakak banyak bukan hanya ngurusin bayi gede seperti kamu. Jika bukan karena menolong kakakmu kakak juga nggak mau nggangguin hidupmu Jen."


Jeni menhentakkan kakinya dihadapan Pras.


Dasar jahat!


"Ya sudah sana pulang aku mau masuk kedalam kelas." Ucap Jeni ketus.


"Kamu masuk dulu biar kakak tahu jika kamu benar-benar berada dalam kelas. Jangan bikin onar jika pengawalanmu dilonggarkan."


"Iya.. iya aku tau kak Pras yang ganteng dan menyebalkan." Jeni langsung masuk dalam kelas. Pras tersenyum dengan puas.


"Anak yang manis dan penurut." Jawab Pras dengan puas.


"Ahhh mengapa dia selalu menganggap aku anak kecil sih? Brengsek! " Kesal Jeni lalu duduk dengan menyandarkan badannya dikursi. Pras masih berdiri didepan pintu melihat Jeni yang masih mendengus kesal.


"Jen pengawal kamu ganteng juga yah, romantis lagi sampai ngantarin kamu didepan pintu kelas. Boleh dong sampaikan salamku kepada pengawalmu." Kata seorang temannya. Jeni dengan sinis menatap temannya itu.


"Kamu mau mati ya? Dia itu calon suamiku! Jangan berani memandangnya lebih dari satu menit." Jawabnya dengan keras. Pras tertawa didepan pintu mendengar perkataan Jeni lalu pergi dengan senyuman.


Teman Jeni langsung terdiam takut dengan ancaman Jeni. Jeni berjalan ke depan kelasnya lalu berdiri dengan tegap.

__ADS_1


"Untuk para perempuan didalam kelas ini ataupun yang ada diluar kelas jangan berani melihat calon suamiku atau berani menyukainya. Jika kalian melakukan itu awas saja aku akan menjambak rambut kalian satu persatu!" Ucapnya dengan lantang. Jeni mendapati teriakan dari teman-temannya karena ulah konyolnya.


"Huuuuuuuu." Teriak mereka secara bersamaan.


__ADS_2