Love My Enemy

Love My Enemy
Episode 53


__ADS_3

Tiga bulan kemudian suara tangisan bayi terus menggema dirumah itu. Kelahiran anak ketiga mereka Jeni Putri Ken kedunia terjadi tiga hari yang lalu. Ken terus memandangi Jeni yang wajahnya campuran antara Luna dan Ken. Ken memeluknya seraya mendiamkan Jeni yang rewel.


"Ken.. berikan Jeni padaku, kasian dia."


"Owe..owe..owe.." Tangisan Jeni.


"Anak Daddy ternyata udah banyak yah." Ucap Ken memindahkan Jeni dari tangannya kepada Luna.


"Papa..papa.." Suara Juna memanggil Ken.


Ken menoleh kebelakang.


"Junaku sini nak?" Bi Nensi memberikan Juna ketangan Ken.


"Papa..papa..papa.." Ucap Juna sambil menarik hidung Ken.


"Daddy aku mau main bola dengan Daddy, ayo daddy, ayo temanin Junior.


"Kamu main bola sama om Kris aja nak, daddy lagi sibuk bantu mommy jaga Juna dan Jeni."


"Pokoknya Junior tidak mau lagi punya adik, Junior benci adik..Junior benci daddy!" Ucap Junior lalu berlari.


"Sana bujuk Junior, berikan Juna kepada bi Nensi kembali." Pinta Luna sambil menyusui Jeni.

__ADS_1


"Sayang aku punya permintaan dan kamu wajib kabulkan." Kata Ken.


"Papa..papa..papa.." Ucap Juna sambil menarik rambut Ken kali ini.


"Apa?"


"Aku mohon jangan tambah anak lagi!" Teriak Ken dengan sangat stres.


"Hahaha makanya kamu jangan minta jatah terus setiap malam." Sahut Luna seraya tertawa.


Ken mengejar Junior dan memberikan kembali Juna kepada bi Nensi.


"Ahhh... aku akan gila jika berurusan dengan anak." Gerutu Ken sambil berjalan.


Season satu tamat yah!


Akan ada cerita tentang anak-anak mereka. Nih sepenggal cerita tentang season dua.


Sebuah kecelakan pesawat terjadi pada akhir tahun itu. Ken dan Luna yang sedang menumpangi pesawat sampai sekarang belum ada kabar tentang keberadaan mereka. Junior, Juna dan Jeni tengah duduk syok didepan televisi pagi itu. Sejak semalam mereka terus menghubungi nomor orang tua mereka tetapi belum ada jawaban dari pihak Ken dan Luna.


Tangisan mereka begitu sendu apalagi Jeni sebagai anak bungsu merasa kehilangan rohnya sesaat. Jeni terus meraung sedangkan Junior dan Juna masih terduduk lesu. Satya dan kedua ART mereka juga ikut menangis mendengar kabar buruk pagi itu.


"Kak lakukan sesuatu." Teriak Jeni dengan histeris.

__ADS_1


"Diamlah Jen, kakak semakin tidak bisa berpikir jika kamu terus berteriak." Sahut Junior.


"Kak Juna tolong lakukan sesuatu, bagaimana ini bisa terjadi? Aku tidak ingin menjadi anak yatim piatu kak, bagaimana kabar daddy dan mommy? Kak aku mohon selamatkan orang tua kita hiks..hiks..hiks.." Suara Jeni begitu keras meraung dirumah mewah itu.


Juna dan Junior hanya bisa terdiam .


"Non, mari bibi antar kekamar." Ucap bi Vanya seraya mengelus belakang Jeni.


"Hikss..hiks..hiks.. Bibi..bibi..hiks..hiks..hiks.. Aku menyesal sering membantah mommy dan daddy.. Bi aku takut mereka tidak kembali lagi."


"Diamlah Jen! Mommy dan daddy pasti kembali." Kata Juna tenang tetapi air matanya bisa membuktikan jika dia juga berada dalam ketakutan yang besar.


"Daddy? mom? Aku mohon kembalilah kepadaku. Aku tidak akan jadi anak bandel lagi, aku akan menuruti semua keinginan kalian, aku tidak akan keluyuran malam lagi diklub malam, aku akan rajin belajar, aku tidak akan diam-diam merokok dan minun alkohol lagi." Ucap Jeni tanpa sadar.


Junior dan Juna bersamaan menoleh kearahnya.


"Anak nakal! Dasar kau!" Prak..prak..prak.. Junior melayangkan pukulan beberapa kali dibelakang Jeni.


"Tn.Junior hentikan! Kasihan non Jeni." Teriak bi Nensi sambil melindungi Jeni dari amukan Junior.


"Hiks..hiks..hiks.. Aku minta maaf kak, aku akan berubah jika orang tua kita kembali. Aku akan menjadi gadis yang baik!" Sahut Jeni sambil menangis.


Jenny sekarang duduk dibangku SMA kelas 12, usia Jeni saat ini adalah 17 tahun, Juna kuliah semester awal berusia 18 tahun, dan Junior sementara ini duduk disemester akhir Kuliah S2 dibidang Manajemen. Junior kini berusia 25 tahun.

__ADS_1


Tiga hari pasca kecelakaan itu terdengar kabar duka tengah menghampiri mereka bertiga. Orang tua mereka dinyatakan telah meninggal dunia tetapi mayat mereka belum ditemukan hingga sekarang. Junior, Juna dan Jeni begitu sedih hingga Jeni beberapa kali terjatuh tidak sadarkan diri. Junior dan Juna hanya bisa pasrah tanpa mampu lagi berteriak hanya air mata yang bisa menyatakan bahwa mereka tidak dalam kondisi baik saat ini.


__ADS_2