
"Ssssst.. Frike, bisa kau diam sebentar?” tegur Bian.
"Ada apa kak?" tanya Frike heran. Bian tidak menjawabnya, dia lekas berlari begitu saja ke dalam rumah.
Matanya melebar ketika dengan mulusnya tangan besar milik sang ayah meluncur di pipi Mamanya.
"Apa yang Ayah lakukan!" teriak Bian dari ambang pintu.
"Saya akan menceraikanmu," ujar Atmaja membuat Bian membeku sesaat.
Bian menatap miris sang Ibu yang saat ini sedang bersimpuh dilantai seraya memegangi kaki pria itu, seorang suami yang sangat tidak bertanggung jawab.
"Ibu, ayo berdiri." ucap Bian seraya membantu sang Ibu bangkit namun sayangnya wanita itu tidak mau mendengarkannya. Ibunya masih keukeh memeluk kaki sang suami, berharap semuanya kembali baik-baik saja seperti semula. Berharap keluarga kecilnya tidak akan hancur berantakan seperti ini.
Bian merasakan panas menusuk begitu kuat matanya, tatapannya menyorotkan rasa benci yang begitu besar pada sang Ayah yang bergeming tanpa kata.
“Pergilah Ayah, aku yakin keluarga simpananmu sudah menunggu di rumah," ujar Bian setelah terdiam cukup lama, setelah menimbang apakah kenyataan ini harus ia bongkar dan konsekuensinya akan melukai perasaan sang Ibu.
Akan tetapi kebenaran tetap akan terungkap cepat atau lambat, bukan?
Plak!
Bian tersenyum saat merasakan panas yang kini menjalar di sekitar pipi kanannya.
"Lancang! Kau dan ibumu itu sama saja!"
"Tidak usah mengelak!" teriak Bian, dia marah, sangat marah. "Tadi sore aku melihatmu dan keluarga simpananmu sedang makan di sebuah restoran mewah sedangkan kami dibiarkan kelaparan!” Lihat, pupil sang Ayah yang melebar seolah membenarkan tuduhannya. “Kau menikah dengan Mamaku hanya karena harta, bukan?"
Atmaja mengepalkan kedua tangannya, "Tentu saja, kalau saja bukan karena harta mana mungkin aku mau menikah dengan wanita yang tidak aku cintai. Masih untung aku memberinya keturunan!"
Bian menggeram, kalau bukan karena ibunya menggelengkan kepala, dia bersumpah akan menyerang bajingan itu.
"Frike, ayo ikut Ayah!" ujar Atma, "kemasi barangmu sekarang juga!"
"Tidak mau, aku tidak mau ikut Ayah!" tolak anak gadisnya, ia segera berlari ke arah sang Ibu.
"Kau harus ikut dengan Ayah!" Atma kembali memaksa, kali ini dia menarik paksa anak gadisnya.
Sonia meringsek seketika. Sebagai seorang Ibu, dia tidak mungkin sanggup hidul terpisah dengan anak-anak yang dicintainya. "Mas Atma, saya mohon jangan bawa Frike. Jangan bawa dia dari saya Mas. Mas Atma boleh menceraikan saya dan mengambil perusahaan milik Ayah tapi saya mohon jangan bawa Frike dari saya." Sonia memohon, ia kembali memegangi kaki suaminya.
"Tidak. Kau bawa bocah brandalan itu dan aku bawa Frike bersamaku! Perusahaan memang sudah dipindahtangankan menjadi milikku, Sonia." ujar Atma lantas mengibaskan kakinya hingga ibu dua orang anak itu tersungkur.
__ADS_1
"Kak ... Kak Bian, Frike tidak mau ikut dengan Ayah! Frike mau tinggal dengan Mama dan kak Bian!" raung gadis itu menatap Bian nanar, dia berharap kalau kakaknya akan berlari dan menolongnya. Tapi sayangnya yang dilakukan Bian hanya berdiri seperti patung, menatap kepergian Frike yang diseret paksa oleh sang ayah dengan tatapan kosong.
.
.
.
2 bulan telah berlalu sejak kejadian malam itu. Sebelumnya, Bian mengira kalau semuanya akan baik-baik saja. Tapi ternyata Sonia, Ibunya, semakin hari kesehatannya semakin memburuk. Sang Ibu sangat merindukan Frike, dia enggan untuk makan dan bicara. Semua itu membuat Bian menjadi marah pada dirinya sendiri.
"Ma, makan dulu yah." bujuk Bian namun sosok yang sedang duduk di kursi itu hanya diam seperti patung. "Kalau Mama mau makan, Bian janji akan membawa Mama ke Jakarta untuk bertemu Frike." bujuk Bian lagi.
Wanita itu menoleh dan menatapnya penuh harap, "Apa itu benar? Kau akan membawa Mama menemui adikmu?" tanya Sonia.
"Iya, Bian janji. Tapi Mama harus banyak makan agar Frike tidak kaget dan menangis gara-gara melihat Mama kurusan." kata Bian seraya menyuapi ibunya.
.
.
.
"Pakai ini Ma, nanti sakit." ucap Bian seraya memakaikan mantel.
Sonia tersenyum, ia mengusap kepala anaknya penuh sayang. "Terimakasih, sayang."
Melihat senyum sang Ibu kembali terbit, itu sudah cukup membuat perasaannya ikut senang.
Bian memanggil taksi dan memberikan alamat pada supir taksi itu saat mereka sudah keluar dari area stasiun. Tepat pukul 02.00 dini hari saat mereka sampai di alamat tujuan.
"Mama yakin Frike akan terkejut melihat kita datang menjemputnya." ucap Sonia antusias.
"Bian jug—" kata-kata tertahan di tenggorokan saat mendapati kerumunan warga.
"Apa yang terjadi?" tanya Sonia pada warga yang tengah berbondong-bondong menimba air.
Salah satu dari mereka sempat berhenti, "Terjadi kebakaran di rumah keluarga Pak Atma, pihak kepolisian mengatakan penyebabnya tegangan arus pendek."
Bian menegang, rasanya udara di sekelilingnya lenyap ke dimensi lain. "Apa ada korban?" tanyanya kemudian, berharap mendapatkan kabar baik, berharap bahwa tidak ada korban jiwa di dalam rumah yang berkobar api itu.
"Keluarga Pak Atma memang sedang pergi berlibur ke Bali. Mereka berangkat tadi pagi namun salah satu anak perempuannya ada di rumah, mungkin sekarang sedang terjebak di dalam." kata warga itu lagi.
__ADS_1
Itu adalah suatu pukulan keras di hati Bian dan Sonia, ibu dan anak itu meluruh ke tanah seketika. Kedua kaki mereka seakan kehilangan kekuatan untuk menopang beratnya hidup ini.
Bian menggelengkan kepala kuat-kuat. "Tidak! Ini pasti bohong!" racau Bian sebelum memutuskan berlari ke tempat kejadian. Pemuda itu meringsek hendak menerobos masuk namun dengan cepat petugas yang ada di sana menahannya. "Lepas! Lepaskan aku! Aku harus menolong adikku! Aku mohon lepaskan aku!" Bian memberontak, dia ingin sekali masuk ke sana untuk menyelamatkan adiknya.
"Tenang Nak, kami sedang berusaha untuk memadamkan api dan menyelamatkan siapapun yang terjebak di dalam sana." kata sang petugas.
Bian *** rambutnya frustasi, ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Saat ini Ibunya sudah jatuh pingsan dan dibawa oleh salah satu petugas untuk diberi penanganan.
"Tolong bawa ambulan kemari!" teriak seseorang yang keluar dari dalam rumah yang terbakar itu setelah 30 menit lamanya, mereka membawa tandu dan di sana terdapat sosok yang sudah pucat dan kaku. Bian berlari menghampiri petugas untuk memastikan siapa yang tengah mereka bawa, matanya sudah berair sejak setengah jam lalu.
"Dia tidak apa-apa kan?" tanya Bian parau.
"Maaf, kami terlambat menyelamatkannya. Gadis ini meregang nyawa karena kehabisan oksigen." terang sang petugas yang tengah membawa tubuh kaku Frike ke ambulance.
“Tidak, ini tidak mungkin! Ini pasti salah ... dia bukan adikku kan?” racau Bian, ia menyangkali bahwa tubuh itu bukan tubuh adiknya.
.
.
.
Kejadian pahit itu terjadi 12 tahun lalu namun lukanya masih membekas hingga saat ini. Sejak kejadian itu pula Sonia berubah menjadi sosok yang tidak Bian kenal. Sonia selalu murung dan tidak pernah mau lagi menggunakan pita suaranya, dia juga tidak pernah mau melangkahkan kakinya karena menurutnya dia sudah tidak punya arah dan tujuan untuk hidup.
Bian tentu saja sangat terpukul, kehadirannya seolah-olah tidak berarti dan tidak diinginkan oleh sang Ibu.
Semenjak itu Bian sangat berambisi untuk menggulingkan Atmaja dan membuatnya jatuh miskin seperti sebelum dia bertemu dengan sang Mama. Bian ingin sang Ayah berlutut dan bersujud di kaki Mamanya untuk meminta maaf.
Dan untuk mewujudkan ambisinya itu, Bian rela melepaskan masa remajanya. Bian selalu belajar, belajar dan belajar. Ia tidak mengenal dunia luar selain buku yang ada di sekelilingnya. Usahanya tidak sia-sia karena pada akhirnya dia mendapatkan beasiswa luar negeri. Enam tahun lalu Bian kembali dari negeri Jam BigBen dan membuka usaha sendiri berbekal ilmu dan pengalaman di negeri orang. Bian tidak menyangka kalau perusahaan kecilnya berkembang pesat namun hal itu belum cukup untuk bisa membuat Atma Group jatuh.
Beberapa bulan lalu Bian bertemu dengan seorang gadis yang sedang mabuk, awalnya Bian merasa iba pada gadis itu. Ia berencana menolongnya, namun saat ia melihat kartu identitasnya dengan maksud ingin tahu di mana tempat tinggal gadis itu, hal itu justru membuatnya kaget.
Fallen Eurika Atmaja.
Kebaikan Bian seketika berubah menjadi hal lain mengingat dia adalah putri dari sosok yang Bian benci selama ini.
Keberuntungan Bian bertambah dua kali lipat saat bertemu Lera, sejak awal dia sudah tertarik pada gadis itu namun siapa sangka kalau dia adalah cucu perempuan dari Estan Holding Company yang tersohor. Mungkin dengan mendekatinya, akan menambah peluang Bian untuk bisa menggulingkan perusahaan Atma ke jurang terdalam. Ya, anggap saja Bian orang paling jahat di dunia ini, tapi mau bagaimana lagi? Bian terlanjur benci pada mereka yang sudah membuat orang-orang yang berarti dalam hidupnya hancur.
“Aku harus menikah dengan Lera, dengan begitu aku memiliki kekuasaan dan kekuatan ganda untuk membuat perusahaan Atma menjadi bangkrut."
****
__ADS_1