
Jeni dan Junior saling pandang didepan pintu kamar Juna. Tangan Junior mengetuk pintu sebanyak tiga kali tetapi belum ada sahutan dari dalam kamar Juna. Jeni melakukannya lagi dengan cukup keras mengetuk pintu Juna tetapi masih nampak hening dari dalam sana.
"Kak Juna!!!!!" Teriak Jeni dengan keras. Junior menutup mulut Jeni dengan satu tangannya hingga mulutnya membungkam.
Tak lama kemudian, krekk... Juna berdiri didepan pintu dengan wajah lesu. "Jun, jangan dengarkan wanita itu karena aku yakin dia hanya ingin mengambil keuntungan dari kepergian orang tua kita." Kata Junior lirih.
"Yang dia katakan itu benar, aku telah menghubungi om Kris untuk memperjelas kegelisahanku ini kak." Ucap Juna. Jeni langsung memeluk Juna dengan erat. Junior juga ikut memeluk Juna dengan menghimpit Jeni dibagian tengah.
"Sampai kapanpun kita bertiga adalah saudara kandung. Walaupun kita sering bertengkar tetapi aku tahu kita saling menyayangi." Ujar Junior. Juna meneteskan air mata begitu pula dengan Junior dan Juna.
"Aku sayang kalian kak." Sahut Jeni sedih.
Setelah selesai dengan keharuan mereka kembali kekamar masing-masing. Saat Junior memasuki kamarnya dia mendapati Lea sedang merapikan baju-bajunya yang telah selesai disetrika. Lea membungkukkan badannya ke arah Junior berdiri yang sedikit terkejut dengan kehadiran Lea.
"Maaf kak, aku disuruh bi Nensi membawa baju kakak dan memasukannya kedalam lemari." Lea masih menunggu jawaban dari Junior dan menghentikan pekerjaannya. Junior berjalan mendekatinya hingga wajah mereka berjarak sangat dekat.
"Istirahatlah jika kamu lelah!" Ujar Junior dengan satu tangannya mengelap keringat yang ada didahi Lea. Lea tersentak dengan mulut membungkam dan mata melotot berdiri kaku dihadapan Junior. Junior tersenyum tipis lalu berpindah ke arah sofa dan menghidupkan televisi. Lea yang sedikit lama tersadar langsung bergegas bekerja membereskan pekerjaannyap. Setelah selesai Lea langsung berpamitan kepada Junior.
"Kak maaf aku akan keluar dari kamar kakak. Aku tidak akan datang kekamar ini besok pagi karena aku telah selesai mengerjakan tugasku didalam kamar ini." Kata Lea pelan.
__ADS_1
"Bangunkan aku besok jam 6 pagi tepat. Jangan sampai kamu lupa. Pergilah bersihkan dirimu dan istirahat." Sahut Junior tanpa menoleh kepada Lea yang berada dibelakangnya.
"Lagi? Kembali kedalam kamar ini besok pagi? Astaga aku pikir aku tidak akan bertemu dengannya setelah ini." Batin Lea.
"Iya kak." Jawab Lea lalu pergi dengan membawa keranjang pakaian ditangannya.
Lea menghentakan kakinya berjalan karena kesal. Kakinya berhenti melangkah saat tubuhnya menabrak seseorang dihadapannya.
"Aduh kak kalau jalan pakai mata dong!" Jeni mendengus kesal. Lea terkejut lalu mundur dua langkah dari hadapan Jeni.
"Maafkan aku non." Kata Lea menundukkan badannya. Jeni melihat kebelakang arah Lea berasal.
"Iya non." Sahut Lea.
"Jeni kak, nggak usah pake non." Timpal Jeni.
Senyuman Jeni terpancar dihadapan Lea.
"Ada apa lagi nih bocah senyam-senyum dihadapanku." Gumam Lea dalam hati sembari menatap Jeni.
__ADS_1
"Ayo kak." Jeni menarik tangan Lea menuju kamarnya. Didalam kamar Jeni langsung menutup pintu dan menyimpan kuncinya didalam saku celanya.
"Oke aku minta maaf karena aku telah berbuat jahat selama kakak berada disini. Aku hanya minta bantuan kakak tapi kakak nggak boleh nolak. Jawabannya iya dan tidak boleh mengatakan tidak." Ujar Jeni menggebu-gebu. Lea mengerutkan dahinya. Perasaan Lea mulai tidak enak dengan ungkapan Jeni.
"Kaka harus tahu bantu apa dulu. Kalau mengarah ke hal negatif kaka nggak mau." Sahut Lea.
"Kakak suka kak Juna atau tidak?" Tanya Jeni. Lea menggelengkan kepalanya.
"Bagus itu yang ku harapkan. Kakak ini sangat cantik hanya saja kurang berdandan tapi kak Junior suka sama wanita yang wajahnya polos seperti kakak." Timpal Jeni.
"Hehehe Junior? Jen, aku masih banyak pekerjaan didapur jadi kalau ada yang kamu inginkan kita bicarakan nanti saja. Bi Nensi akan mencariku jika aku terlalu lama berada disini." Ucap Lea.
"Aku akan memarahi bi Nensi balik jika dia memarahi calon kakak iparku." Sahut Jeni. Lea melotot lagi.
"Kakak ipar? Maksudmu?" Tanya Lea bingung.
Jeni tersenyum. "Pergilah nanti kita bicarakan lagi kak. Aku rasa ini terlalu cepat untuk dibicarakan sekarang." Jawab Jeni lalu berdiri dan membukakan Lea pintu. Lea keluar dengan wajah bingung.
"Kakak ipar? Ide gila apa lagi anak itu." Batin Lea.
__ADS_1
Bersambung...