
Hari pertama menjadi Nyonya Atmaja. Cih, Lera mendecih mengingat status barunya itu. Saat ini Lera sedang duduk di meja makan seraya menunggu suaminya selesai membuat sarapan untuk mereka berdua.
Hey, jangan memberinya pandangan jahat itu, okay? Lera sudah berusaha membuat sarapan tadi, tapi apa yang dia buat tidaklah seindah gambar di majalah yang menjadi panduan memasaknya, jadilah Bian yang turun tangan sekarang.
“Kau masak apa sih? Lama sekali.” tanya Lera, dia sudah berdiri di samping Bian sekarang.
“Nasi goreng.” sahut Bian dengan seringai terbaiknya.
Lera mencebikkan bibirnya, dia merasa tersinggung dengan seringai jelek suaminya tadi.
“Kau tidak memasukkan racun di dalamnya, kan?” ejeknya balik dan hal itu sukses membuat tubuh suaminya menegang seketika.
“Maaf saja, aku belum mau menjadi duda secepat itu.”
Lera memasang wajah terkejutnya. “Oh, kenapa?”
Bian tidak langsung memberikan jawaban karena saat ini dia sedang menuang nasi yang telah ia masak ke piring mereka berdua kemudian membawanya ke meja makan. Bian sudah duduk di kursinya, “Apa?” tanyanya saat melihat Lera yang sedang menatapnya penasaran.
“Aku masih menunggu jawabanmu, bodoh.”
“Jawaban apa?” tanya Bian polos.
“Kenapa kau tidak mau menjadi duda padahal kau memiliki peluang besar untuk bisa menikah lagi dengan wanita yang kau cintai.”
Bian tersenyum miring, “Karena aku belum mendapat malam pertamaku.”
Mulut sialan! Lera sudah menunggu lama dan setengah penasaran, namun jawaban dari mulut si brengsek Bian hanya itu? Rasanya Lera ingin menampar wajah penuh kesombongan suaminya itu dengan piring di depannya.
“Kau tidak suka masakanku?” Bian bertanya karena sedari tadi Lera hanya diam memandang makanan di depannya tidak berminat.
__ADS_1
Lera tak menggubris pertanyaan Bian, ia justru sedang sibuk mencari kertas dan juga pena di dalam tasnya. “Aku akan membuat kode etik untuk kita berdua.” ucapnya setelah apa yang ia cari telah ia dapatkan.
Wajah Bian merengut, “Kode etik?”
Lera mengangguk, ia sama sekali tidak menoleh pada Bian karena saat ini ia sedang sibuk menarikan pena di atas kertas putih. Setelah berkutat cukup lama, akhirnya Lera selesai juga.
“Dengar ini baik-baik, jika ada yang tidak dimengerti kau boleh bertanya padaku-—
1.Masing-masing dari kita diperbolehkan membawa teman atau pacar ke apartemen tapi tidak boleh membawanya masuk ke dalam kamar.
2.Tidak boleh pulang lebih dari jam 10 malam, lewat dari jam yang sudah ditentukan maka tidak akan mendapat pintu.
3 Jangan ikut campur dengan urusan pribadi orang lain.
4 Berlaku romantis hanya di depan Omah, Papa dan juga kolega saja.
5.Tidak boleh melakukan kontak fisik sebelum mendapat persetujuan dari pihak wanita.
Bian membersihkan tenggorokannya sebentar sebelum membuka suara, “Bisa kau bacakan kode etik nomor lima?”
“Kode etik nomor lima yaitu tidak boleh melakukan kontak fisik sebelum mendapat persetujuan dari pihak wanita.”
Fix, telinga Bian memang tidak salah dengar.
"Masa ada peraturan seperti itu?” protesnya kemudian.
“Tentu saja ada, barusan aku yang membuatnya.”
“Lera, aku akan menuruti semua peraturan tapi tolong hapus peraturan nomor 5 itu.”
__ADS_1
“Tidak, keputusanku sudah bulat.” final Lera, ia meraih susu paginya yang kemudian ia teguk hingga tak bersisa, setelah itu ia mengambil tas selempangnya kemudian berdiri dari kursi makan.
“Kau mau ke mana?”
“Kampus, aku ada jadwal bimbingan hari ini.“
“Biar aku antar.”
Lera menggeleng cepat, “Tidak usah repot-repot, suamiku, karena aku sudah dijemput oleh Kenan. Lebih baik kau langsung pergi ke kantor saja. Sudah ya, aku pergi dulu. Sampai jumpa nanti malam.” ucap Lera seraya melambaikan tangan pada Bian yang sedang mematung di tempatnya.
Suara pintu yang ditutup membuat kewarasan Bian kembali. Ia berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menggeram kesal. Tanpa membuang banyak waktu, ia segera mengambil jas dan juga kunci mobilnya di kamar.
.
.
.
Menjadi seorang penguntit adalah salah satu pekerjaan yang tidak pernah terlintas dikepala Bian sebelum ini, lebih menggelikan lagi karena yang sedang ia untit adalah sang istri. Bian sedikit kwalahan dalam aksi penguntitannya karena Kenan mengendarai motor sedangkan dia mengendarai mobil. Aksi selip menyelip pemuda itu sangat lincah dan beberapa kali Bian tertinggal di belakang.
Bian mengambil jalur kanan saat melihat lampu sen milik Kenan berkedip kemudian memasuki pelataran parkir. Bian memarkirkan mobilnya agak jauh dari tempat Kenan memarkirkan motornya namun begitu ia tetap bisa memantau apa yang dilakukan mereka berdua.
Lera terlihat berbeda saat bersama Kenan, dia terlihat lebih bahagia, lebih ekspresif dan juga lebih manis.
“Brengsek!” umpat Bian seraya memukul stir saat melihat bagaimana Kenan memperlakukan Lera seolah-olah gadis itu adalah miliknya, bagaimana cara pemuda itu membereskan rambut Lera yang berantakan dan menguncirkannya lagi.
Satu hal yang membuat Bian ingin keluar dari persembunyiannya dan melayangkan tinju pada Kenan saat pemuda itu dengan sengaja memberi tiupan pada telinga Lera hingga wajah istrinya itu memerah dan kemudian bibir pemuda itu mendarat dengan lembut pada pipi mulus Lera.
Demi Tuhan, Bian sendiri sama sekali belum mendaratkan bibirnya di sana dan sekarang malah didahului oleh Kenan?
__ADS_1
“Lihat saja hukuman apa yang akan kau dapatkan saat pulang nanti, love.” ucap Bian sebelum mengemudikan mobilnya pergi dari sana.