
Luna telah tertidur pulas disamping Ken dibungkus oleh selimut tebal setelah mereka menyatukan diri mereka. Ken menatapnya dengan sedih hingga air matanya jatuh menatap Luna.
-Ken POV-
Aku terlalu jahat kepadamu Lun, aku memang menjebak Bryan dengan mendatangkan Intan. Aku pikir Bryan tidak akan tergoda waktu itu dan tetap bertahan denganmu tetapi aku salah, Bryan lebih memilih Intan dari pada kamu. Itu membuatmu jatuh dalam kesedihan yang mendalam. Saat bersamamu aku selalu membuatmu sakit dan kecewa. Sebenarnya aku ingin berhenti tetapi kini aku kembali menyakitimu dengan keberadaan Bella. Aku takut kamu dan Junior akan pergi lagi Lun, aku takut itu terjadi karena bukan hanya kamu yang aku sayangi sekarang ini tetapi aku juga sayang kepada Junior. Haruskah kita berpisah lagi Lun? Haruskah takdir kita seperti ini? Haruskah kamu selalu kecewa karenaku? Apa memang kita ditakdirkan saling bertengkar? Aku bingung Lun. Aku telah menghabiskan waktu bersama Bella selama lima tahun. Aku juga mencintainya walupun cintaku tidak sebesar cintaku padamu. Dia juga sedang mengandung anakku, aku bingung... sangat bingung.
Pagi harinya Luna terbangun tetapi Ken tidak berada lagi disampingnya. Dia kembali merasakan kegundahan didalam hatinya melihat perubahan sikap Ken. Luna menelfon nomor Ken tetapi nomornya selalu sibuk. Dia beranjak dari tempat tidurnya menatap dirinya dicermin.
"Semoga perasaan ini salah menilaimu Ken." Ucapnya dengan lirih.
Setelah berganti pakaian Luna keluar dari kamar untuk menemui Junior.
"Selamat pagi Non Luna. Tn.muda Junior telah pergi kesekolah bersama Tn.Ken dan Satya." Ucap Nensi.
"Oh Ken mengantarnya?" Tanya Luna kembali.
"Iya non." Sahut Nensi.
__ADS_1
"Ken maafkan aku telah berprasangka buruk." Gumam Luna dalam hatinya.
"Nensi jika Tn.Ken menelfonku katakan aku pergi jalan-jalan kesupermarket." Ucap Luna.
"Tapikan non sopir dirumah ini lagi pulang kampung." Sahut Nensi.
"Aku akan mengendarai mobil sendiri Nensi. Jangan khawatirkan aku, oke." Seru Luna meninggalkan Nensi dengan wajah takut.
"Pasti tuan Ken akan marah jika tahu non Luna pergi tanpa sepengetahuannya. Bodoh ah.. semoga aja Tn.Ken tidak mengetahuinya." Batin Nensi.
Luna mengendarai mobil seorang diri. Tujuannya ke supermarket untuk membelikan beberapa oleh-oleh untuk Farah. Luna ingin berkunjung kerumah Farah sesudah dari supermarket. Setibanya disana Luna mendapati mobil Ken terparkir disupermarket tersebut.
Saat dia hendak turun dari mobil Ken berjalan bersama Bella sedang berpelukan sedangkan Kris berjalan dibelakang mereka sambil membawa belanjaan.
"Bella? Ken?" Luna tersandar pucat duduk didalam mobil. Air matanya begitu deras mengalir hingga kepergian Ken. Dia masih duduk didalam mobil dengan isak tangisnya.
"Mengapa ini bisa terjadi? Harusnya aku tidak kembali dan menyaksikan ini! Hiks..hiks...hiks.. Mengapa hatiku sangat sakit kali ini? Mengapa ini bisa terjadi kepadaku Tuhan. Bagaimana dengan Junior? Bagaimana hidupku bisa berantakan seperti ini? Aku telah memberikan hatiku sepenuhnya kepadamu Ken tetapi malah ini yang aku dapatkan sekarang. Junior terlalu bahagia bersamamu Ken, dia merindukan sosok ayah sejak dulu dan sangat tidak mungkin aku pergi lagi hiks..hiks..hiks..Ken? Mengapa hatiku sangat sakit, ini lebih sakit daripada saat Bryan meninggalkan aku." Luna menyandarkan wajahnya disetir mobil dengan terus menangis diparkiran tersebut.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian, seakan sangat lesu Luna masih berada diparkiran mobil sedangkan ponselnya terus berdering. Luna melihat kelayar ponselnya tertera nama Ken. Dia membiarkannya terus berbunyi dan mulai pergi meninggalkan supermarket tersebut. Luna menuju rumah Farah dengan terus meneteskan air matanya sepanjang jalan. Setibanya disana sebuah mobil mewah memasuki rumah Farah bersamaan dengan mobilnya.
Luna menyeka air matanya dan menghapus jejak-jejak kesedihannya agar tidak terlihat oleh orang lain. Saat Luna keluar dari mobil seorang pria juga keluar dari mobil dengan menggunakan kemeja hitam dilengkapi dengan kacamata hitam. Pria tersebut melepas kaca matanya saat melihat Luna berdiri dihadapannya.
"Luna?" Sapanya lalu mendekati Luna.
Luna terdiam menatap Bastian sesaat.
Cih..Bastian pasti tahu apa yang terjadi dengan Ken dan Bella. Batin Luna.
"Hai Bastian. Kamu ada urusan apa datang kesini?" Sahut Luna berpura-pura tidak terjadi sesuatu pada dirinya.
"Kamu terlalu lama pergi Lun hingga kamu tidak tahu jika sahabatmu Farah akan menikah denganku." Ujar Bastian.
Menikah dengan Farah? Si brengsek ini bisa-bisanya dia menikahi sahabatku? Aku tidak percaya jika keadaan telah berubah secepat ini setelah kepergianku.
"Luna?" Suara teriakan dari teras rumah membuat Bastian dan Farah sama sama menoleh ke arah teriakan tersebut.
__ADS_1
"Ra?" Sahut Luna sambil berlari memeluk Farah.
"Dan akhirnya aku akan menjadi obat nyamuk karena kedua sahabat ini akan menghabiskan waktu yang panjang untuk bercerita." Ujar Bastian sambil menghela nafasnya.