Love My Enemy

Love My Enemy
Bab 11 Shower


__ADS_3

Sepeninggalan Fallen, Bian melangkah gontai ke kamarnya. Ia tersenyum saat melihat Lera yang sudah terkapar di atas ranjang. Bian berjalan menghampiri Lera kemudian duduk di samping ranjang, Bian merasakan jantungnya berdegup tidak normal ketika menatap garis indah di wajah Lera. Garis yang mengundang hasratnya untuk menyecap, melumat dan memberi gigitan kecil di sana.


Tangan Bian terulur, merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu sebelum akhirnya menempatkan tangannya di pipi, memberikan belaian lembut di sana cukup lama hingga ibu jarinya tergelincir menyentuh bibir tipis yang pernah dikecupnya itu. bibir rasa apel manis dan lembut, Bian ingin mencicipinya sekali lagi.


Dugh...


"Kyaaaa apa yang kau lakukan, brengsek!” pekik Lera saat dirasakan ada sesuatu yang menggelitik di atas bibirnya, Lera melayangkan tinjunya refleks.


Bian terpelanting ke bawah, kepalanya membentur kerasnya lantai. Lera mengatur napasnya, dia bangkit dan berjalan mendekati sang suami.


Pria itu tak bergerak!


Apa dia mati gara-gara ditinjunya? Tapi pukulan tadi tidak seberapa kencang. Lera mencondongkan tubuhnya untuk memastikan Bian masih hidup atau sudah mati.


Hezzz...


Hembusan hangat napas Bian cukup membuktikan bahwa dia masih bernyawa. Bau alkohol yang menguar dari napas pria itu membuat Lera mengumpat, ia lantas segera menggeret tubuh pingsan Bian menuju kamar mandi.


"Dia pernah mengataiku kerbau tapi pada kenyataannya dialah yang kerbau. Sial, tubuhnya benar-benar berat sekali!” beo Lera seraya menyeret kedua kaki Bian. “Oh, tidak!” pekiknya spontan saat melihat kepala Bian menabrak pintu kamar mandi. "Bian, walaupun kau sangat menyebalkan dan aku membencimu, tapi aku benar-benar tidak bermaksud menabrakkan kepalamu pada kusen pintu, sumpah deh!" ucap Lera seolah pria itu bisa mendengar ocehannya saja.


Setelah berhasil membawa tubuh tak sadarkan diri Bian ke dalam kamar mandi, Lera segera mendudukkan tubuh pria itu menyandar pada tembok tepat di bawah shower.

__ADS_1


Setelah itu barulah Lera menyalakan shower untuk menyadarkan Bian dari pengaruh alkohol. Sebelum Bian sadar san mengamuk, Lera segera keluar dari sana.


Bian merasakan gemericik air yang kini mulai membasahi tubuhnya. Ada rasa perih tak tertahankan yang menyerang kepala bagian belakang dan pelipisnya.


"Aaargh Leraaaaa!" teriaknya seketika.


"Ya, Bi? Kenapa?" sahut Lera dari dalam kamar. Dia terkikik membayangkan wajah Bian saat ini. Pasti sangat lucu, pikirnya.


"Kau apakan kepalaku, sialan?!" Bian mengaum marah setelah mendapati cairan merah yang berasal dari pelipisnya tersebut.


"Oh... aku tidak sengaja membenturkannya di pintu saat menggeret tubuhmu tadi."


"Iya sebentar." teriak Lera kemudian beranjak menuju lemari baju Bian. Ia mengambil piama tidur Bian dan ehem... CD Bian yang masih bersegel.


Dugh ... dugh ...


Lera menggedor pintu kamar mandi. "Bian, ini handuk dan baju gantimu!"


Lera jengkel juga karena pintunya belum terbuka. Lagi, Lera menggedor pintu di depannya."Bian, kau tuli? Kau tidak tertidur di sana kan? Bia-" ocehan Lera terhenti saat pintu terbuka dan sebuah lengan kokoh dengan cepat menariknya ke dalam dan memojokkannya ke tembok.


Kedua tangan kokoh itu mengurungnya.

__ADS_1


Lera tercekat tak bisa berkata apa-apa saat matanya bertemu pandang dengan Bian.


Pancuran air yang masih menyala dari shower mulai membasahi tubuhnya. Lekuk tubuh Lera saat ini terpampang jelas di mata Bian. Sial, tidak ada pemandangan paling indah selain pemandangan di hadapannya.


"Bian ap-apa yang akan kau lakukan? Lepaskan aku!" desis Lera, ia sedang berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan setan di depannya.


Bian menarik sudut bibirnya, tatapannya yang semula memandangi wajah Lera kini mulai turun ke bawah. Piama tidur yang berbahan tipis membuat Lera mengumpat keras dalam benaknya, sekarang Bian sedang menikmati belahan dadanya yang tercetak jelas karena basah.


Bian memejamkan matanya, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Setelah pasokan udara yang ia butuhkan dirasa cukup, Bian kembali membuka mata,"Lera..." panggilanya dengan suara yang serak.


"Bian aku mohon lepaskan ak- kyaaa..." Lera memekik saat tubuh basahnya diangkat oleh Bian hingga batas pinggang lelaki itu.


Lera yang kaget spontan mengalungkan tangannya di leher Bian. "Bian, le-lepaskan aku." desis Lera lagi. Dia memohon namun Bian tak menggubrisnya, bahkan sekarang Bian sudah menenggelamkan kepalanya pada leher jenjan Lera. “Bian, hentikan!” untuk kesekian kalinya Lera mendesis marah, ia berusaha menjauhkan kepala Bian dari aliran kehidupannya.


Awalnya Bian hanya ingin mengerjai Lera, tapi setelah melihat sikon yang eeerrr... terlalu panas, lelaki manapun pasti tidak ingin melewatkannya. Bian tersenyum menyeringai saat mendapati wajah Lera yang merona, gemetaran karena takut dan juga mendesis gugup.


Bian menundukkan wajahnya dan mulai menciumi leher lera dengan bibir dinginnya, kadang dia menjilat lembut dan membuat tanda di sana. Tatapan Bian kini beralih menatap bibir merah Lera yang begitu menggoda untuk dilumatnya.


Bian menggapai dagu gadisnya dan... LERA PINGSAN.


Shit, di saat dia sedang bergairah seperti ini Lera justru jatuh pingsan. Bian menggeram, dia lekas membawa tubuh basah Lera ke kamar dan memberinya mantel hangat setelah memberanikan diri mengganti pakaian istri galaknya itu.

__ADS_1


__ADS_2