
Sore itu juga Junior berlari kekamar mommynya karena mendengar suara tangisan bayi. Matanya melotot senyumannya terpancar dari bibirnya saat bayi itu berada dalam dekapan Luna. Ken yang tidak berani mendekat hanya mengamati dari sudut ruangan itu nampak sangat khawatir dengan keadaan rumah tangganya.
"Mommy ini dede siapa?" Tanya Junior berdiri disamping Luna.
"Adik kamu sayang, namanya Juna. Wajahnya mirip kamu kan? Namanya juga mirip kamu." Sahut Luna. Juna mulai tertidur didalam dekapan Luna.
"Mommy sudah melahirkan? Kenapa dengan daddy mom? Kenapa daddy tidak mendekati dede Juna?" Ucap Junior polos.
"Daddy? Sini donk.." panggil Luna tetapi Ken tak bergeming.
"Sana tarik tangan daddymu mendekat Junior." Sambung Luna. Senyumannya mulai dia perlihatkan kepada Ken. Ken tidak bisa mengartikan arti senyuman yang Luna berikan kepadanya.
"Apa yang sedang dia rencanakan? Apa dia akan meninggalkan aku bersama bayi itu? Mengapa dia terlihat begitu bahagia menggendong bayi itu?" Batin Ken.
"Ayo daddy! Ayo lihat adik aku!" Junior menarik tangan Ken hingga mendekati Luna.
__ADS_1
"Duduklah! Mengapa wajahmu seperti itu daddy?" Tanya Luna. Ken menatapnya sesaat sambil menghela nafasnya.
"Apa yang sedang kamu rencanakan sayang? Aku takut kamu akan pergi lagi? Apa kamu akan meninggalkan aku bersama bayi itu?" Ucap Ken penuh tanya. Luna hanya tersenyum dan meletakkan bayi itu di diatas tempat tidur. Junior ikut berbaring disamping bayi Juna dan memeluknya. Luna dan Ken duduk agak menjauh dari tempat tidur.
"Ken? Aku akan tetap disisimu. Dia anakku sekarang. Kita akan merawatnya bersama. Bagaimana mungkin aku tidak menyayangi dia? Juna adalah darah dagingmu, kamu tidak bisa memungkiri itu walaupun seribu kali kamu mengatakan tidak. Kita tidak muda lagi Ken, suatu saat mereka yang akan mengurus kita di akhir usia kita. Apa kamu bisa mengerti? Gendonglah Juna, dia ingin merasakan pelukan hangatmu." Ujar Luna sembari mengelus tangan Ken. Satu tetes air mata lolos membasahi kedua pipi Ken. Bibirnya bergetar menatap Luna dengan sedih. Mulutnya membungkam hingga sebuah tarikan dari Ken membuat Luna berada dalam dekapan Ken.
"Aku tidak bisa mengatakan apa lagi untuk kebaikanmu sayang, aku terlalu hina berada disisimu." Sahut Ken seraya tersedu mendekap Luna.
"Cukup jadilah ayah dan suami yang baik untuk aku dan anak-anakmu Ken." Balas Luna sambil mengelus belakang Ken.
"We love you daddy." Sahut Luna. Ken melepaskan pelukannya lalu berjalan mendekati Juna yang sedang tertidur. Disampingnya Junior juga sedang tertidur. Ken menatap anak-anaknya secara bergantian. Luna juga ikut berjalan mengikuti Ken. Ken kembali terisak menatap Juna.
"Aku bukan ayah yang baik, aku tidak ada saat ibu kalian mengandung. Maafkan ayah Junior, maafkan ayah Juna hiks..hiks..hiks.." Kata Ken dengan lirih.
Luna mendekatkan wajahnya lalu berbisik kepada Ken. "Ternyata laki-laki tegar dan menyebalkan itu bisa menangis juga yah?"
__ADS_1
Ken dengan segera menyeka air matanya. Dia meletakkan tangannya diperut Luna yang sedang membuncit.
"Bayinya perempuankan? Beri nama dia Jeni Putri Ken. Junior, Juna dan Jeni. Itu terdengar sangat serasi sayang, apa kita akan program lagi setelah ini?"
Luna menggeleng. "Stop Ken, aku sudah puas punya tiga orang malaikat. Eittss jangan menambahnya lagi dari wanita lain!" Kata Luna tegas.
"Hahaha kamu tahu saja pikiranku sayang." Jawab Ken bercanda.
"Kau mau mati yah?" Teriak Luna. Ken dengan cepat melayangkan kecupan dibibir Luna. Setelah dibibir dia mulai mencium disekitar leher dan tiba-tiba saja suara tangisan Juna kembali terdengar.
"Owee..owee..owee.." Juna terus menangis tetapi
Ken belum menghentikan ciumannya.
"Stop Ken!" Luna menolak paksa tubuh Ken.
__ADS_1
"Ahhh setelah Junior kini Juna yang menghalangi waktuku bersama mommy mereka." Kata Ken pasrah.