
Suara jam weker yang menjerit-jerit berhasil mengusik alam bawah sadar Lera. Gadis itu menggeliat malas di dalam selimut tebalnya, matanya sedikit terbuka untuk mengintip posisi jarum jam.
"Sial!" ia mengumpat saat mendapati jarum panjang berada angka 7 dan jarum pendek yang ternyata sudah menyentuh angka 7 yang artinya lebih 45 menit.
Kalau saja hari ini Lera tidak memiliki janji dengan dosen pembimbingnya, ia lebih memilih untuk melanjutkan mimpi indahnya.
Tunggu, ada yang aneh di sini. Lera sudah mencoba bangun dari posisinya namun lagi-lagi kembali terjatuh ke posisi semula. Merasa penasaran, ia lekas menyingkap selimut tebalnya dan terpampanglah sebuah lengan kokoh yang melingkar di perut dan juga kaki panjang yang mengunci kakinya.
“Oh, tidak. Jangan katakan kalau ini ...?”
Meneguk ludah sebentar, kemudian Lera memberanikan diri untuk menolehkan kepalanya ke kebelakang. Harapannya tidak terkabul karena pria itu benar-benar tidur di sana, melilitkan kedua tangan dan kaki pada tubuhnya, seakan dia adalah guling paling nyaman di dunia ini.
“BIAN! APA YANG KAU LAKUKAN DI RANJANGKU?”
Lera mengaum marah, tangannya sibuk melepaskan tangan dan kaki Bian dari tubuhnya susah payah. Ini lebih seperti dililit ular piton.
Bian, pria itu bukannya bangun malah semakin mengeratkan pelukannya. “Di luar sangat dingin dan Lera, leherku bisa patah kalau tidur di sofa sampai pagi.” suaranya terdengar parau dan seksi secara bersamaan.
Oh, siapa yang peduli!
“Bian, cepat menyingkir dariku!”
“Lima menit lagi, pliiiis.” ucapnya tanpa membuka mata sedikitpun.
Apa katanya?
"Benar-benar yah Bian!" Lera mengulurkan tangannya ke belakang dan sekuat tenaga dia menarik rambut lebat pria tidak tahu diri itu.
Tck, sudah di tolong malah jadi ngelunjak!
Lagipula bagaimana bisa ia tidak sadar bahwa ada orang lain yang masuk dan tidur di ranjangya. Kebiasaannya yang tidak pernah mengunci pintu sekarang menjadi petaka.
"AW!" Bian menjerit, ia merasakan panas pada kulit kepalanya. "Lera lepaskan tanganmu!" sekarang Bian sudah membuka mata sepenuhnya, bahkan tangannya sudah lepas dari perut gadis itu. "Astaga ... Lera kau bisa membuat rambutku lepas dari kulit kepala!"
Lera sudah tidak peduli. Dia sudah habis kesabaran karena sudah banyak yang pria ini curi darinya. Ciuman pertama, pekerjaan, dan sekarang harga dirinya sebagai wanita pun sudah dinodai. Maaf, Bian memang tidak melakukan apapun selain tidur, baju mereka berdua bahkan masih lengkap. Tapi tetap saja ... tindakan Bian kali ini tidak bisa dimaafkan, jika ada orang yang harus tidur satu ranjang dengannya maka orang itu adalah Kenan, bukan bajingan ini!
"Dengar, aku tidak suka bermain kasar. Tapi jika itu maumu, aku bisa apa?" ujar Bian sebelum membalikkan tubuh Lera menjadi tengkurap, sekarang dirinya sudah ada di atas punggung gadis itu.
Melihat tengkuk di depannya yang putih mulus, Bian tersenyum sebelum menundukkan kepalanya dan mulai menggigit.
"Biaaaan!"
"Ya, sayang?" jawab Bian dengan suara khas bangun tidurnya. "Bagaimana? Mau menyerah atau mau diteruskan?"
Lera baru akan kembali mengaum marah dan menendang tubuh Bian dari atas pungungnya sampai ketika pintu kamarnya lebih dulu dibuka oleh seseorang.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN!”
__ADS_1
Oh, tidak!
Lera tahu suara dan intonasi ini. Saat matanya mengintip ke ambang pintu, saat itulah Lera merasa seluruh udara menghilang dalam sekejap. Hal yang paling ditakutkannya sekarang ada di depan mata, terlebih lagi dengan posisi mereka yang terlihat ekstrem.
Bunuh aku, Tuhan!
“O-Omah.”
“Kalian berdua, temui saya di kantor setelah kalian membersihkan diri!” perintah Sinta pada sang cucu dan lelaki yang tak dikenalnya.
Ajalmu datang, Lera. Sebelum kau mati, maka bunuhlah pria disampingmu terlebih dahulu karena dialah penyebab dari kehancuran hidupmu.
“Semua ini karenamu, Bian! Aku akan-"
“Aku akan bertanggung jawab.” potong Bian cepat, ia kemudian bangkit dari posisinya dan lekas melenggang ke kamar mandi.
Lera melotot hebat.
Itu kamar mandinya dan sebelum ini tidak ada seorang pun yang berani memakai kamar mandinya, tidak Ery maupun Emo. Lera baru saja akan berlari untuk menyelamatkan kesucian kamar mandinya namun kemudian ia urungkan.
“Tidak, Lera, jangan pikirkan masalah kamar mandi karena ada hal yang lebih mengerikan dari itu. Ya, yang harus kau pikirkan saat ini adalah alasan paling brilian untuk kau jelaskan pada Omah atau kau akan didepak dari daftar waris keluarga Estan maupun Aditama.”
.
.
.
Lera merasa jantungnya akan meloncat ke luar dari balik tulang rusuknya karena dipompa terlalu kencang.
Bukan, Lera gugup bukan karena Bian yang sedang duduk di sampingnya. Kegugupannya melainkan karena wanita yang sedang duduk di depan mereka, menatap antara dirinya dan Bian bergantian dengan pandangan yang tidak bisa Lera tebak apa artinya itu.
Lera memijat kepalanya yang terasa berdenyut. Ia tidak mengerti kenapa semua hal buruk bertubi-tubi datang padanya setelah ia bertemu dengan Bian. Kalau saja hari itu ia tidak menjemput Erry, mungkin ia tidak berakhir seperti ini. Mungkin dia sedang duduk di salon seraya menunggu cat kukunya kering.
"Siapa namamu, Nak?"
Setelah 30 menit menunggu, itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut Sinta.
Lera terkekeh, "Omah ini lucu deh, masa nama cucu sendiri tidak ingat. Aku Lera, Omah. Cucu Omah yang paling cantik."
"Omah tidak bertanya padamu, Omah sedang bicara padanya." omel Sinta, "jadi, siapa namamu, Nak?" ia kembali bertanya pada Bian.
"Bian, Stephano Bian Atmaja, Nyonya." Jawab Bian seraya tersenyum ramah.
Sinta mengibaskan tangannya tanda dia tidak setuju, "Tolong jangan panggil saya seperti itu. Panggil Omah saja seperti yang lainnya." ungkap Sinta, "jadi, apa kalian pacaran?" wanita tua itu kembali bertanya dan anggukan kepala Bian membuat pipi keriputnya menyembang. "Sudah berapa lama?"
Lera melotot hebat, ia hendak menyuarakan aksi protesnya namun Bian tidak mau memberikan kesempatan itu sama sekali. "Tiga tahun, Omah."
__ADS_1
"Heeey, kau gila yah?"
"Lera, duduk! Jaga sikapmu." tegur Sinta. "Cukup lama juga hubungan kalian. Lalu kenapa kalian tidak pernah datang menemuiku?"
Bian melirik Lera sejenak, "Oh kalau masalah itu karena Lera melarangku, dia malu mengenalkanku karena dulu aku belum mapan."
Lera melongo saat mendengar semua omong kosong yang dikarang Bian saat ini.
"Benar begitu, Lera?" tanya Sinta, Lera menggeleng dengan cepat.
"Bu-bukan seperti itu cerita sebenarnya, Omah." ujar Lera seraya menatap Bian sengit.
"Kau pikir Omah orang yang seperti itu Lera? Dengar, Omah bukan tipe orang yang terlalu memandang sebuah hubungan dari strata sosial. Jika pasanganmu adalah orang yang baik dan bertanggung jawab, Omah akan merestui walaupun dia adalah seorang kuli bangunan sekalipun!" omel Sinta pada cucu perempuannya yang saat ini sedang mengerucutkan bibir.
"Omah dengarkan penjelasan Lera dulu ...."
Tangan yang terangkat mengisyaratkan bahwa Lera harus berhenti membantah. "Omah tidak mau tahu, kalian berdua harus segera menikah sebelum menyebarkan aib."
Apa Neneknya sudah gila?
Tolong, siapapun tolong tampar Lera saat ini juga agar dia sadar bahwa ini masih di dalam mimpi.
"Aku setuju," sahut Bian dan hal itu membuat binar di mata wanita tua itu terpancar.
"Baiklah, kalau begitu Omah akan mempersiapkan semuanya sesegera mungkin."
Ada apa dengan mereka? Ada apa dengan kehidupan indahnya?
Bagaimana bisa mereka memutuskan kehidupan seseorang dengan mudahnya? Mereka pikir pernikahan adalah permainan?
"Omah!" Lera berteriak, ia ingin menyerukan protes keras namun nyatanya tetap tidak dipedulikan oleh mereka berdua. Suaranya benar-benar tidak dibutuhkan di sini.
"Tapi tidak bisa dalam waktu dekat ini mengingat aku harus menangani proyek yang sedang berjalan di daerah Bogor, Omah. Mungkin acaranya baru bisa dilakukan minggu depan." sela Bian lagi.
"Tidak masalah, karena Omah yang akan mempersiapkan semmuanya untuk kalian. Sekarang kembalilah bekerja, saya yakin kau sangat sibuk."
Bian tersenyum, "Baiklah, kami pamit Omah."
Ya ampun!
Lera benar-benar tidak percaya kalau Omahnya membuat keputusan besar atas hidupnya tanpa mau mendengarkan pembelaannya. Setelah keluar dari ruangan sang presdir, Lera segera menghentikan langkahnya dan menatap Bian.
"Ada apa?" tanya pria itu dengan kedua alisnya yang bertautan. "Kau marah karena pernikahan kita diundur?" sabungnya kemudian.
"Bukan! Justru aku marah karena harus menikah denganmu!" amuknya, "demi Tuhan, apa maumu Bian? Kenapa kau membuat hidupku seperti ini?"
Bian menatap Lera lekat-lekat kemudian dia mulai berjalan mendekati gadis itu. Bian mencondongkan tubuhnya dan berbisik. "Kau tahu? Aku mau menikah denganmu karena ingin balas dendam." ucapnya, membuat seluruh syaraf Lera menegang seketika. "Hahahahaha..." dan sekarang pria itu tergelak, Lera semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Bian.
__ADS_1
"Lihat wajahmu, kau telihat lucu sekali. Dan apa kau percaya kalau aku akan melakukan itu?" Bian kembali bertanya, Lera menggelengkan kepalanya skeptis. "Baguslah kalau kau tidak mempercayainya."
Bian pergi setelah mengatakan hal aneh itu, meninggalkan Lera yang masih berusaha mencerna kata-kata yang syarat akan rahasia itu.