
Ini sudah jam 11 malam, namun Lera tidak bisa menutup matanya sejak Bian pergi tadi. Entahlah, perasaannya saat ini sedang tidak karuan, dia merasa cemas tetapi tidak tahu sedang mencemaskan apa. Lera memutuskan bangkit dari posisi rebahnya dan mulai berjalan ke luar kamar untuk mengambil air minum.
“Memangnya rumah si jalang itu di ujung Indonesia sampai membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengantarnya?” dumel Lera seraya menuang air ke dalam gelas.
Setelah membasahi tenggorokannya, seharusnya Lera kembali ke kamar. Namun yang dilakukan kaki bodohnya saat ini malah pergi ke pintu depan dan berdiri di luar. “Aduh, Lera. Memangnya apa sih yang kau tunggu? Bian? Yang benar saja! Dia pasti tidur di rumah si jalang Fallen.” ia kemudian berbalik, tangannya terulur memegang kenop pintu dan memutarnya perlahan, baru saja ia akan melangkah masuk ke dalam namun telinganya mendengar dentingan lift di ujung koridor.
Lera membelalak tak percaya saat melihat sosok Bian keluar dari dalam lift dengan keadaan yang sama mengenaskannya seperti pertama kali pria itu datang ke apartemen miliknya beberapa waktu lalu. Bian, pria itu menyeret tubuhnya susah payah untuk sampai ke pintu. “Bian, apa yang terjadi padamu?”
Pria itu sama sekali tidak menjawab, dia hanya memandang Lera dengan senyum miris di bibirnya. “Tolong,” ucapnya sebelum benar-benar ambruk ke lantai. Lera terpekik, ia segera meraih tubuh Bian dan membawanya masuk dengan susah payah. Setelah sampai di ruang tengah, dengan satu sentakan keras kini Bian sudah terkapar di atas sofa.
“Apa yang kau lakukan di luar sana?” tanya Lera setelah kembali dari dapur, ia meletakkan baskom berisi air hangat di atas meja. Setelah mencelupkan handuk kecil dan memerasnya, barulah Lera mengompres wajah lebam Bian dan membersihkan noda darah yang sudah mengering di sana.
“Aw!” Bian mengerang kesakitan karena cara mengompres Lera yang tidak bisa dikatakan lembut. “Le, pelan-pelan!” ia kembali memprotes.
“Tidak bisakah kau berhenti menggoda istri orang Bian?” omel Lera seraya kembali menekan luka lebam milik Bian dengan brutal.
“Aku tidak – Aw! Le, sakit!”
Bukannya berhenti, Lera justru semakin gencar menyiksa Bian. “Setiap hari saja kau pulang seperti ini agar aku bisa menyiksamu, Bian.”
__ADS_1
Mata yang semula terpejam kini terbuka lebar, menatap Lera dengan death glare terbaiknya. “Apa kau bilang?”
“Aku akan sangat senang jika setiap hari kau pulang dengan keadaan- Hmmmpt... hmmpt...”
Lera mengedip beberapa kali untuk mencerna apa yang membuat suaranya tidak keluar. Oh, Tuhan... jantungnya seakan ingin meloncat keluar saat ia sadar bahwa Bian sedang menciumnya.
Desiran aneh ini kembali hadir seperti waktu itu, insiden balon jelek pembawa petaka. Tubuhnya yang semula duduk di sisi sofa kini telah berpindah di atas pangkuan Bian, entah bagaimana proses itu terjadi, ia tidak mau memikirkannya karena yang Lera pikirkan saat ini adalah melepaskan diri atau mati karena kehabisan oksigen.
“Aaargggh...” Bian mengerang dan melepaskan pagutannya karena ulah Lera, gadis itu menggigit lidahnya yang menyulup masuk.
Melihat kesempatan emas itu, Lera segera meloncat dari atas pangkuan Bian dan mengambil jarak sejauh mungkin dari jangkauan pria itu.
Belum juga lima langkah kini tubuhnya kembali ditarik oleh pria itu yang kemudian diangkatnya ala kuli panggul, hal itu sontak membuat Lera memekik dan merontak minta diturunkan. “Bian, apa yang kau lakukan, sialan!” teriak Lera panik saat tubuhnya dilempar begitu saja ke atas ranjang.
Pria itu tersenyum sinis, tangannya sibuk melepas kancing lengan kemejanya lalu menariknya hingga batas siku. “Kau pikir apa yang akan aku lakukan?” seringai itu membuat Lera meneguk ludahnya sendiri. “Tentu saja aku akan menghapus jejak si brengsek Kenan.”
Lera panik saat melihat pria itu sedang merangkak naik ke atas ranjang, matanya sama sekali tidak meninggalkan dirinya.
Hal tersebut sontak membuat tubuh Lera bergeser mundur untuk membuat jarak dengannya, “Sialan!” kamus amoral baru saja keluar dari mulutnya saat punggungnya menyentuh kepala ranjang, Lera tidak mempunyai ruang untuk kabur lagi karena Bian sudah berada tepat di depannya. “Tunggu, Bian kau salah paham!”
__ADS_1
Kedua mata pria itu semakin menyipit, “Salah paham?” tanyanya seraya memperpendek jarak dengan Lera, mengurung gadis itu dengan kedua lengan kokohnya.
Lera mengangguk, “Aku dan Kenan tidak melakukan apapun.”
“Benarkah? Lalu kenapa kau tidak berani menatap kedua mataku kalau kau memang tidak sedang berbohong?”
Lera melirik Bian dari balik bulu matanya takut-takut, hanya untuk membuktikan bahwa dirinya sedang tidak membohonginya. “Kami benar-benar tidak melakukan apapun. Seharian ini waktuku aku habiskan di perpustakaan. Memangnya apa yang bisa kami lakukan di perpustakaan yang ramai?”
“Who knows?” ucap Bian seraya mengangkat bahunya tak acuh. “Bahkan di parkiran pun kalian tidak tahu malu.”
Seketika itu kedua bola mata Lera membelalak, dadanya berdetak dua kali lipat. “Kau mengikuti kami?” tanya Lera. “Kau melanggar kode etik nomor 3, Bian. Kau tidak berhak mencampuri urusanku seperti aku yang tidak mencampuri ursanmu dengan wanita itu!”
Bugh!
Lera memejamkan mata saat Bian melayangkan tinjunya pada kepala ranjang tepat dibelakang kepalanya. “Di mana, Lera? katakan padaku di mana ******** cilik itu menyentuhmu atau kita akan terus seperti ini sampai pagi.”
“Ha-hanya punggung tangan kanan dan pi-pi sebelah kiri.” Cicit gadis itu, dia masih enggan membuka mata karena terlalu takut menghadapi kemarahan Bian.
Oh, Tuhan... Lera merasa ada ribuan tangan yang memilin perutnya saat pria itu mengambil tangannya lalu menempelkan bibir dingin miliknya di sana. Tidak lama, namun efeknya membuat otak Lera menjadi blank. Sekarang ia merasakan embusan napas pria itu berada di depan wajahnya.
__ADS_1
Bdump... Bdump... Bdump... jantungnya sedang menyanyikan yel-yel, menunggu bibir dingin pria itu untuk segera berada di pipinya.