
Lera menggeliat malas saat cahaya matahari menerobos celah-celah jendela. Ruang gerak wanita itu terbatasi karena ada lengan kokoh yang melingkari perutnya.
"Biaaan apa yang kau lakukan? Dasar brengsek, lepaskan aku!" teriaknya saat melihat lengan Bian lah yang asik melingkar seperti ular di perutnya.
Bukannya mengendur, lilitan tangan Bian justru semakin mengerat. Lera bisa merasakan hawa panas yang menguar dari dada suaminya yang menyengat punggungnya.
"Ini bukan apartemen jadi jangan berisik, kau akan membangunkan Mama!" gumam Bian lantas membenamkan kepalanya pada perpotongan leher Lera.
"Bian, hentikan!" Lera menahan diri untuk tidak memberikan tendangan mautnya pada sang suami.
Apa kata ibu mertuanya kalau tahu menantunya bersikap kasar pada anak lelakinya. Ya, Lera tidak mau menodai reputasinya.
"Biiii ...." Lera merengek minta dilepaskan. Kandung kemihnya terasa penuh dan dia tidak ingin mengompol di kasur.
Bian membalikkan tubuh Lera yang semuka memunggunginya menjadi menghadapnya. "Beri morning kiss lalu kau akan aku lepaskan."
Morning kiss?
Ini masih pagi, bahkan Lera baru saja bangun yang artinya dirinya belum cuci muka dan gosok gigi. Iuuuh ... bukankah sangat menjijikan?
"Aku tidak mau!" sungut Lera.
Bian mendengkus, "Ya sudah, kalau begitu kita akan tetap seperti ini sampai siang."
Hah? Apa otak Bian waras?
"Tapi aku mau pipis, sungguh." rajuk Lera.
"Then give me a kiss."
__ADS_1
Lera mengerucutkan bibirnya. Berat rasanya namun ia harus melakukan hal itu atau dirinya akan benar-benar pipis di celana.
Cup!
Satu kecupan mendarat dengan mulus di pipi sang suami.
"Sudah."
"Di pipi?" Bian menatap Lera tak percaya. Namun walaupun begitu dia tetap menepati janjinya untuk melepasan istrinya tersebut.
Tidak mau melewatkan kesempatan, Lera segera turun dari ranjang kemudian berlari ke arah kamar mandi. "Oh, leganya ... " ia mengerang saat kandung kemihnya berhasil dikosongkan.
Selesai menguras isi kandung kemihnya, Lera tidak langsung ke luar. Dia sedang berdiri di depan cermin untuk mengamati dirinya sendiri.
Lehernya banyak jejak ruam merah hasil karya gigi Bian. Mengecek ke bawah, ia menemukan bra miliknya sudah tidak terpasang dan ada ruam merah lain di sekitar dadanya. "Oh, Tuhan ... apa semalam kami melakukan itu?"
Pintu kamar mandi terbuka. Sosok Bian melangkah masuk ke dalam. Lera merasakan dadanya mulai mengacau, degup jantungnya sudah meningkat sejak pertama kali matanya bersirobok dengan mata Bian.
"Wajahku tetap tampan walaupun baru bangun tidur, jadi jangan menatapku syok seperti itu." goda Bian, dia sudah berdiri tepat di samping Lera.
"Semalam kau tidak melakukan apapun padaku kan?" Lera bertanya tak yakin.
"Memangnya melakukan apa? Semalam kau menipuku, berpura-pura kegerahan efek wedang jahe!" dengus lelaki itu masih dengan mata yang mengawasi dari pantulan cermin.
"Kau serius?" Lera memberikan tatapan tak percaya.
"Saat kau buang air kecil tadi apa kau menemukan bercak darah? Apa kau kesakitan saat mengeluarkan air kencing?"
Oh, sangat sarkas!
__ADS_1
Lera baru saja akan menyanggah saat suara benda berbahan kaca yang jatuh menginterupsinya.
PRANG!!!
Mereka berdua saling berpandangan, "Mama!" seru keduanya lantas bergegas ke luar.
Bian terlihat sangat panik bukan main. "Ada apa?" tanya lelaki itu pada pembantunya saat ia sampai di dapur.
Bian mengedarkan pandangannya ke penjuru dapur rumahnya namun ia tidak menemukan sosok Mamanya, yang ada hanya Bik Ijah yang sedang membereskan pecahan mangkuk.
"Maaf mas Bian, Bibik kurang hati-hati." ujar pembantunya seraya menunjuk kekacauan yang ada.
"Mama di mana?" tanya Bian dengan pandangan yang sedikit melunak.
"Nyonya masih tidur di kamarnya."
Dan kali ini Bian menghela napas lega karena hal buruk yang sempat terlintas di otaknya tidak benar-benar terjadi.
"Bagaimana?" tanya Lera pada Bian yang baru saja ke luar dari dapur.
Bian mengusap wajahnya frustasi. Bagaimana tidak? Mamanya masih belum mau berbicara padanya, Bian sangat tahu kalau Mamanya masih marah dan menyalahkan dirinya atas kematian Frike karena kebodohan dan ketakutannya kala untuk melawan sang ayah untuk mencegahnya membawa frike pergi.
Bibir itu memang tak pernah berucap membenci maupun menyalahkannya, namun semua perubahan sikapnya sudah menjadi bukti nyata bahwa sang Mama marah padanya.
"Mungkin butuh waktu lama untuk menyembuhkan lukanya." ucap Lera lalu memeluk Bian dan memberikan tepukan dipundak suaminya itu.
"Ck, harus berapa lama lagi?" balasnya seraya menghirup harum tubuh Lera yang selalu membuatnya merasa nyaman.
"Asalkan kau tetap ada di sampingku, aku tidak akan takut menghadapi semua ini Le. Tidak apa-apa jika kau tidak mencintaiku, dan tidak tahu harus berapa lama lagi untuk membuatmu jatuh cinta padaku, namun saat ini biarkan aku yang mencintaimu."
__ADS_1