Love My Enemy

Love My Enemy
Episode 50


__ADS_3

Luna sedang duduk mengantri di dokter kandungan. Ken tidak bisa mengantarnya karena sedang sibuk. Dia datang bersama sopir yang kini sedang menunggunya dimobil. Matanya tertuju pada lelaki yang sedang duduk agak jauh darinya. Tangan lelaki tersebut menggenggam erat tangan wanita yang ada disampingnya. Wanita yang sedang mengandung sama sepertinya tengah bersandar dibahunya.


Mata lelaki tersebut kini sedang beradu pandang dengannya. Luna melambaikan tangannya dengan memberikan senyuman. Tak lama berselang dia bersama wanita tersebut berjalan menghampirinya. Masih ada tempat duduk kosong disampingnya dan lelaki tersebut mempersilahkan wanita itu duduk terlebih dahulu. Wanitanya itu terlihat kebingungan menatap Luna.


"Dia sahabatku sayang." Ucap lelaki tersebut.


"Dia istrimu Bryan?" Tanya Luna.


"Hemm baru dua minggu nikah. Namanya Tyas." Sahut Bryan.


"Luna." Luna memperkenalkan diri dengan menyodorkan tangannya kepada Tyas tapi matanya juga tertuju kepada perut Tyas yang sama besarnya dengan perutnya.


"Tyas mba." Sahutnya pelan. Tyas terlihat masih sangat muda dari usianya dan Bryan.


"Tyas masih kuliah Lun." Kata Bryan kembali.


"Jadilah suami yang baik, Tyas jika dia menyakitimu katakan padamu aku akan membantumu untuk menggamparnya!" Ujar Luna tegas.


"Hei.. hahaha jangan dengarkan dia sayang." Jawab Bryan dengan terpingkal.


"Kalian terlihat sangat dekat mas." Timpal Tyas.

__ADS_1


"Hemm begitulah..eh nama Tyas udah dipanggil tuh!" Kata Luna. Bryan berdiri membantu Tyas tetapi matanya melirik Luna sejenak. Luna juga sama menatapnya dengan dalam.


"Aku menyesal telah melepasmu Lun, andai waktu bisa diputar kembali aku ingin kembali bersamamu. Aku sangat berantakan sekarang, bodohnya aku hingga bisa kehilanganmu. Ken telah memberikan aku kesempatan begitu banyak untuk bersamamu tetapi apa dayaku sebagai lelaki yang bodoh." Batin Bryan.


"Pergilah itu panggilan yang kedua Bryan." Sambung Luna.


"Dah..aku pergi Lun. Sampaikan salamku kepada Ken." Ucap Bryan.


Luna mengangguk. "Aku tidak menyangka kita akan menjadi sedingin ini saat bertemu. Semoga kamu bahagia Bryan, aku tidak akan pernah melupakanmu sebagai teman dan mantan pacarku. Terlalu berat melupakanmu walaupun dadaku terkadang terasa sakit jika bertemu denganmu." Ucap Luna lirih.


Tak lama dari kepergian Bryan, Ken memeluknya dari belakang. "Kamu masih melihatnya walaupun dia telah menghilang dari pandanganmu." Ucap Ken. Dengan seketika Luna terkejut membalikkan wajahnya menoleh kepada Ken.


"Kau mau mati hah? Aku baru saja memergokimu selingkuh! Andai ini bukan ditempat ramai aku akan menonjok matanya yang genit menatapmu tadi." Ucap Ken pelan. Beberapa pasien menoleh ke arahnya karena sedikit mendengar pembicaraan dengan Luna.


"Aisss.. kau." Luna melotot ke arah Ken.


"Nyonya Luna Aurora?" Terdengar suara panggilan dari asisten dokter kandungan.


"Ayo Ken!" Luna menarik tangan Ken. Ken menepisnya dengan pelan.


Tanpa peduli lagi Luna meninggalkan Ken yang tengah terduduk dengan cemburu. "Lihat dia, astaga aku ingin menerkamnya disini!" Jelas Ken lalu berlari mengejar Luna. Luna tersenyum saat Ken tengah meraih tangannya berjalan masuk keruang dokter.

__ADS_1


Saat mereka masuk, Bryan dan istrinya keluar dari ruangan tersebut. Ken menerkam bahu Bryan dengan kuat. "Jangan pernah menatapnya lagi seperti itu!" Ancam Ken. Bryan melepaskan tangan Ken dari bahunya. Tyas dan Luna saling tatap karena suami mereka sedang bersitegang ditempat umum.


"Ken.. ayo masuk!" Luna menarik tangan Ken sedangkan Bryan telah melangkah pergi.


"Mas ada apa dengan kalian?" Tanya Tyas sambil berjalan.


"Ada kenangan dimasa lalu yang belum sempat kami selesaikan sayang. Kamu tidak perlu khawatir karena kami sering terlihat seperti musuh jika bertemu tetapi sebenarnya kami saling merindukan kebersamaan yang indah seperti dulu." Jawab Bryan. Didalam pikirannya terus terbayang akan kebersamaannya bersama Luna dan Ken.


"Aku harap kalian bisa berbahagia selamanya Ken, Luna." Batin Bryan.


Melepaskan itu tidak mudah, membuat kembali indah seperti sedia kala itu tidak mudah. Terkadang kita melepaskan seseorang yang berharga untuk mendapatkan seseorang yang baru tapi tanpa kita sadari kita telah menggali lubang yang dalam untuk kerinduan dan penyesalan pada akhirnya. Belajarnya untuk bersyukur dalam hidup karena sesuatu yang dipaksakan akan ada tangisan pada akhirnya.


Sambut yang datang


Ikhlaskan yang pergi


Hargai yang berjuang


Lupakan yang menyakiti


Sayangi yang ada sisimu

__ADS_1


__ADS_2