Love My Enemy

Love My Enemy
BAB 5 : Gamang


__ADS_3

"Lera masih belum masuk kerja sampai hari ini?" Bian bertanya dari balik dokumen yang sedang dibacanya.


David, dia hanya bisa tersenyum. Pasalnya, bosnya tersebut tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, marah-marah tidak jelas hanya karena seorang wanita.


"Saya belum mendapat kabar. Sepertinya memang tidak masuk karena saat lewat ruangan staff, saya tidak melihat keberadaan nona Lera."


Suara kertas yang diremas membuat David meneguk ludah gugup. Oh, Tuhan, jarum jam bahkan belum menyentuh angka 9 yang artinya masih terlalu pagi untuk menghadapi amukan bosnya tersebut.


"Brengsek!" Bian mengumpat.


Demon Estanbelt, pria itu bisa-bisanya membawa Lera tanpa bicara sepatah katapun padanya? Tanpa basa-basi? Tanpa izin darinya?


Bian tahu, sangat tahu kalau gadis itu adalah sepupunya, tapi tetap saja Demon tidak bisa bertindak seenaknya terlebih lagi saat ini Lera adalah kariyawannya.


Apakah Lera mengadukan kejadian dua hari lalu pada Demon sehingga pria itu kembali membawa gadis itu pergi?


Tidak bisa dibiarkan!


"Dav-" Bian baru saja akan berbicara namun sosok yang diajaknya bicara sudah menghilang dari ruangan kerjanya. "Daviiiid!" teriak Bian kesal.


Kenapa semua orang suka sekali meninggalkannya diam-diam?!


Bian menghempaskan dirinya pada sandaran kursi sambil menghela napas dalam-dalam. Dia harus bisa mengontrol emosinya, marah-marah tidak akan membuahkan apa-apa.


Apa sikapku pada Lera begitu keterlaluan? Pertanyaan itu begitu saja melintas dalam otaknya.


Tidak, tidak!


Bian kemudian menggelengkan kepalanya cepat. Gadis manja itu memang sudah sepantasnya diberi pelajaran hidup. Bahwa, tidak selamanya dia akan selalu berada di atas. Bahwa, ada saatnya dia harus belajar untuk bertahan dengan tangan dan kakinya sendiri, tidak melulu bergantung pada orang lain.


Suara pintu yang diketuk mengalihkan atensi Bian dari foto yang terpajang di atas mejanya, "Masuk." titahnya kemudian.


Seorang gadis muda berjalan masuk hati-hati dengan sebuah nampan di tangannya. "Ini kopi Anda Pak." ucap gadis itu gugup.


"Bawa kemari."


.


.


.


Bian sedang berbaring di sofa dengan nyaman. Bekerja lembur selama beberapa hari dan memikirkan Lera yang kabur membuat waktu tidurnya tersita begitu banyak. Bian baru saja akan menutup mata sampai seseorang membanting pintu ruang kerjanya cukup keras.


Apa ini semacam halusinasi?


Tapi sepertinya tidak, karena objek di depan pintu terlihat marah. Lera, gadis manja keturunan Estan itu sedang menatapnya bengis. Deru napasnya terdengar memburu di telinga Bian.


"Ah, akhirnya kau datang juga. Aku kira kau masih menangisi kukumu yang jelek." ejek Bian seraya menyunggingkan senyum terbaiknya.


Melihat senyum pria itu tiba-tiba saja membuat perutnya terasa mual. Apa alasan Tuhan menciptakan pria seperti Bian ke dunia ini? Pikir Lera sarkas.


Ingatan Lera terlempar kembali pada beberapa menit lalu. Langkah riangnya saat menuju ruang ganti terhenti seketika saat mendengar banyak karyawan yang berbisik-bisik membicarakan atasan mereka. Ada banyak pertanyaan yang mulai bermunculan di kepalanya saat itu. Rasa ingin tahunya yang begitu besar membuat jiwa penggosipnya seketika terpanggil.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Siapa yang dipecat?" tanyanya pada salah satu pegawai yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Biasa, Pak Bian berbuat seenak jidatnya." jawab salah satu dari kerumunan orang itu, "Kasihan Dea. Dia dipecat oleh Pak Bian setelah selesai melayaninya." sambung wanita itu lagi.


"Iya, benar! Padahal ini adalah pekerjaan yang sangat Dea butuhkan. Aku dengar Ibunya sedang dirawat di rumah sakit, Ayahnya sudah meninggal dan dia harus mengurusi dua adiknya yang masih sekolah dasar. Pak Bian benar-benar tega sudah melakukan itu pada Dea." timpal pegawai wanita lainnya.


Lera menatap merasa iba, perasaannya sebagai sesama perempuan merasa ikut tersakiti. Mungkin dia akan menangis histeris jika dirinya dalam posisi Dea.


Dengan segenap rasa simpati, Lera menghampiri seorang gadis yang lebih muda darinya dia masih terisak. "Tenanglah, aku akan menendang bokong Bian dan menyeretnya kehadapanmu." ujar Lera sarat akan janji, empat sudut siku-siku imajiner sudah muncul di kedua pelipisnya.


Dan di sinilah dia berada, di sebuah ruangan suci pria itu.


Lera tidak menggubris ejekan Bian karena ada hal yang jauh lebih membuatnya marah saat ini. "Kau benar-benar pria brengsek Bian!" ia melangkah dengan pasti menuju tempat di mana Bian tengah berbaring. "Berbuat tidak senonoh pada pegawaimu dan setelah itu kau buang begitu saja seperti sampah-"


Bian mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu?" kali ini dia sudah duduk tegak, iris hitamnya menatap Lera yang sudah berdiri di hadapannya dengan pandangan bingung.


"Tidak usah pura-pura bodoh! Dia tulang punggung keluarganya, Bian. Dia mempunyai dua adik yang masih kecil, Ayahnya sudah tiada dan Ibunya sedang sakit-sakitan." Lera mengambil napas sebelum kembali melanjutkan, "pekerjaan ini adalah satu-satunya mata pencaharian untuk menghidupi keluarganya, tapi kau sudah mengambil hal paling berharga dari hidupnya kemudian membuangnya begitu saja." omel Lera tanpa mengindahkan bentuk protes yang hendak Bian layangkan, "kau harus menikahinya!" lanjut Lera dan hal itu membuat kerutan di dahi Bian semakin berlipat.


"Menikahi siapa?" kerut bingung semakin kentara di wajah Bian saat ini. "Aaargh, apa yang kau lalukan?" Bian mengerang saat sebuah tendangan mendarat bebas pada tulang keringnya.

__ADS_1


"Tentu saja menikahi pegawaimu yang sudah kau hamili!"


Belum sempat bereaksi atas tuduhan gila itu, tubuh Bian sudah diseret paksa menuju ruangan di mana seorang gadis masih terisak di tempatnya.


Brengsek!


Berani-beraninya gadis ini mempermalukannya dihadapan semua pegawainya.


"Lera, lepaskan aku sekarang atau kau akan tahu hukuman apa yang akan kau dapatkan untuk semua ini?"


"You Wish!" tantang Lera.


Pintu bertuliskan "Hanya untuk Staff" dibuka Lera cukup kasar, membuat semua orang yang ada di dalam sana menoleh secara serentak. Melihat sang atasan yang masuk, wajah mereka berubah pucat pasi.


"Cepat minta maaf dan bertanggung jawablah atas perbuatanmu padanya." Lera mendorong tubuh Bian ke hadapan seorang gadis muda yang sebelumnya dikerumuni banyak orang.


Dea, nama gadis itu Dea. Gadis muda itu bekerja di divisi yang sama dengan Lera saat ini, Office Girl.


"APA YANG KAU LAKUKAN?" Bian berteriak marah, hal itu tentu saja membuat orang di ruangan tersebut berjengit ngeri. "Aku sudah bertanggung jawab dengan memberinya pesangon yang lebih dari cukup."


"Mana bisa begitu! Pesangon saja tidak akan pernah cukup karena sosok seorang Ayah jauh lebih dibutuhkan oleh anak yang ada di dalam perutnya saat ini."


Gadis muda yang semula tengah menangis kini berhenti seketika, ia menatap Lera dan juga bosnya dengan kerut bingung. "Anak siapa?"


"Anak setan!" jawab Bian kesal.


Lera melotot marah, "Jelas anakmu dengan dia, Dea, memangnya anak siapa lagi!"


Bian memutar bola matanya jengah. Menyangkal sampai mulutnya berbusa pun tidak akan membuat Lera puas. Jadilah dia bersidekap dada seraya menatap Lera yang sedang menceramahi Dea.


"Tapi saya tidak punya anak maupun sedang hamil."


"Bagaimana bisa? Bukankah tadi kau menangis karena-"


Dea menyunggingkan senyum gugup, "Oh, itu karena saya dipecat oleh Pak Bian hanya karena saya lupa menaruh gula di dalam kopinya. Padahal ini pekerjaan satu-satunya yang saya bisa mengingat saya tidak memiliki keahlian dan juga ijazah yang tinggi."


Haaaaah?


Kalau ada hal yang Lera inginkan saat ini yaitu hanya lenyap dari hadapan Bian.


"Dea, kau tidak jadi dipecat." ucap Bian pada Dea tanpa mengalihkan atensinya yang berpusat pada Lera. Tck, gadis nakal ini tidak ada jeranya membuat masalah. "Kau sudah siap dengan hukumanmu?" ia lantas menggapai tangan Lera.


"Uang pesangon ini bagaimana, Pak?" tanya Dea sebelum sang atasan pergi dari ruangan.


"Pakai saja untuk berobat Ibumu." setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya seraya menyeret Lera seperti yang gadis itu lakukan padanya beberapa saat lalu.


Rasa panik langsung saja menyerang Lera saat pria itu mendorongnya masuk ke dalam ruang kerjanya kemudian mengunci pintu.


Oh, Tuhan ... tamatlah riwayatku!


Sekarang Bian sedang menatapnya seperti binatang pemburu.


"Bi-Bian ... apa yang akan kau lakukan padaku?"


Garis kurva terukir di bibir Bian saat melihat Lera yang semula seperti banteng betina kini berubah seperti seekor kelinci yang terperangkap di kandang singa yang lapar.


Bian membiat ekspresi sedang berpikir, "Errr ... sepertinya aku akan melakukan pekerjaan yang bisa membuatku menikah dan memiliki keturunan dengan cepat."  ujarnya sembari berjalan mendekat.


Lera membelalak, rasa panik semakin menyerang dirinya. "Jangan mendekat, selangkah saja kau melangkah aku akan menendangmu, Bian!" Bian tak mengindahkan ancamannya, pria itu tetap melangkah. Sekarang Lera bukan hanya panik, dia sudah gemetaran, belum lagi tubuhnya sudah tersudut karena meja sialan yang entah bagaimana bisa ada di belakangnya. "Kyaaaa..." ia memekik saat tubuhnya tiba-tiba saja diangkat ke atas meja oleh Bian. 'Oh, Tuhan... apa yang akan dia lakukan?'


Bian menyunggingkan senyumnya saat gadis manja di depannya tersebut sedang menutup mata dengan ekspresi wajah yang teramat sangat lucu.


"Bereskan ruanganku, aku akan pergi ke Bogor untuk memantau proyek yang sedang berjalan di sana." bisiknya sensual tepat di telinga Lera, membuat darah gadis itu berdesir karena embusan napas yang menyapa daun telinganya. "Dan Lera, aku tidak akan menciummu. Setidaknya, tidak untuk sekarang." setelah mengatakan hal menjengkelkan itu dia berbalik dan pergi, meninggalkan Lera yang masih mencerna ucapannya.


"Dasar gila! Lagipula siapa yang mau dicium olehmu!" ia berteriak seraya memegangi wajahnya yang terasa panas.


.


.


.


Selalu berada pada zona nyaman dan aman membuat Lera tidak pernah merasa khawatir pada kejamnya kehidupan. Setidaknya sebelum ia mendapatkan surat terkutuk dari sang Nenek seminggu yang lalu.

__ADS_1


Namun sekarang ... Lera bahkan tidak yakin kalau dia bisa bertahan walau hanya satu bulan saja. Antara bertahan hidup dari kemiskinan dan bertahan dari kekejaman si bos psikopat bernama Bian.


Huft ....


Hari ini adalah hari yang panjang. Mungkin dia harus sering olahraga agar jantungnya kuat dan tidak kaget saat menghadapi tingkah Bian yang sulit diprediksi.


"Mbak Lera?"


Seseorang menggumamkan namanya tepat disamping telinga. Lera membuka matanya dan ia mendapati sosok gadis yang sedang tersenyum padanya.


"Dea, ada apa?" Lera mengubah posisi duduknya dan sedikit bergeser agar gadis itu bisa duduk di sebelahnya.


Dea menggeleng, senyum manis masih terpatri di bibirnya yang merah. "Urrm ... aku hanya ingin mengucapkan terimakasih pada Mbak Lera yang sudah menyelamatkan hidupku."


Duh, Lera jadi malu.


Selama 21 tahun dia hidup baru kali ini Lera melakukan sesuatu yang berarti bagi hidup orang lain. Oh, tidak, sebelumnya cukup sering, karena pada dasarnya Lera tipe orang yang suka membantu, namun bukan ucapan terimakasih yang selalu Lera dengar dari teman-temannya. Mereka justru sering mengoloknya sok peduli, dan tukang cari perhatian.


"Buat Mbak Lera, Dea tahu Mbak belum makan siang kan?" ujar Dea seraya menyodorkan nasi bungkus dan sebotol air mineral.


Lera terkekeh.


Oh Tuhan ....


Jujur, Lera merasa cukup tersentuh dengan perlakuan Dea padanya.


"Wah, makasih De, tahu saja kalau aku sedang lapar."


Kalau dihirup dari baunya, Lera bisa menebak kalau makanan yang Dea belikan untuknya ini adalah nasi padang. Nasi sejuta umat, terutama untuk dirinya yang sedang kere tapi ingin makan super kenyang.


"Mbak Lera tidak dipecat gara-gara menolongku, kan?" tanya Dea, menghentikan imaji Lera akan lezatnya rendang daging di dalam bungkusan itu.


"Asal kau tahu saja, aku justru akan merasa senang kalau Bian memecatku."


Dea melongo dibuatnya. Dikala semua karyawan memohon pada Bian agar tidak dipecat, beda lagi dengan sosok di sampingnya yang malah memohon untuk dipecat.


"Tadi pagi Mbak Lera tidak diapa-apakan oleh Pak Bian, kan?" Dea kembali bertanya, namun pertanyaan itu membuat Lera tersedak.


Wajah Lera bersemu merah karena kejadian memalukan tadi pagi. Mengingat wajah songong Bian yang merasa puas karena berhasil mempermainkannya membuat Lera ingin memberikan sebuah tinju. Sungguh!


"Mbak, malah melamun?"


"Apa, Dea?"


"Mbak Lera tidak dipukul gara-gara belain aku, kan?" tanya Dea cemas. Dia merasa bersalah kalau bosnya yang keras kepala itu benar-benar melampiaskan kekesalannya pada orang yang tidak bersalah.


"Oh itu, aku baik-baik saja kok. Memangnya Bian suka main tangan yah pada pegawainya?"


Dea menggeleng cepat, "Pak Bian bukan orang yang seperti itu. Tetapi Pak Bian juga bukan tipe orang yang lembut, dia sangat keras kepala. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya tidak bisa ditarik kembali. Tapi tadi pagi berbeda, dia melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya dan itu karena Mbak Lera."


"Hahaha ada-ada saja. Bukan karena aku, mungkin saja setan dalam tubuh Bian sedang bubar makanya dia berubah baik." gurau Lera, dia tidak mau merasa GR, dia tidak sudi harus bersemu merah untuk Bian.


"Tapi sikap Pak Bian tadi pagi sangat berbeda. Aku merasa Pak Bian mempunyai perasaan untuk Mbak Lera." Dea mulai berasumsi sambil memandang gadis di sampingnya curiga.


"Dea, jangan gila!" Lera mengelak, "seorang playboy sepertinya mana mungkin mengenal kata jatuh cinta!"


Dea mengangkat satu alisnya, "Memangnya Pak Bian playboy?"


"Ya ampun, Dea ... kau tidak tahu? Lihat saja dari tingkahnya, kentara sekali kalau dia itu playboy! Kau harus hati-hati, jangan sampai jadi mangsanya."


"Aku baru tahu, kalau Pak Bian seperti itu,"


Dea menggeleng tak percaya. Bos-nya yang tidak pernah terlihat dekat dengan wanita ternyata seorang playboy.


"Dea, dengar, kau ini masih polos, kau tidak tahu ada berapa jenis tipe laki-laki di dunia ini. Jangan mudah pecaya dengan laki-laki pendiam karena kau tidak pernah tahu apa yang bisa dia lakukan suatu waktu!" Saran Lera.


"Ih ngeri juga yah Mbak."


Lera tersenyum, ia kemudian menepuk bahu Dea penuh simpati. "Yap, kau harus hati-hati dengan orang semacam Bian."


 


 

__ADS_1


__ADS_2