
Bian sedang dalam perjalanan pulang dari Bogor menuju Jakarta saat tiba-tiba saja beberapa mobil menyalipnya dan memblokir jalan agar tidak bisa ia lalui.
Tck, sebenarnya Bian sudah memperkirakan hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Tua bangka itu pasti sudah kebakaran jenggot karena proposal kerjasamanya dengan EHC ditolak mentah-mentah.
"Ke luar!" teriak beberapa orang bertubuh kekar sambil mengetuk kaca mobilnya tidak sabaran.
Bian menghela napas sebelum memutuskan untuk turun. Belum sempat menutup pintu, seseorang orang sudah menyerangnya dari belakang. Tubuhnya ditendang hingga tersungkur ke aspal.
"Brengsek!" geram Bian kemudian bangkit berdiri dan memberikan serangan balasan pada orang itu.
Satu lawan lima, sekuat apapun Bian melayangkan tinju dan tendangan, tetap saja dia akan kalah. Sekarang tubuh Bian sudah berhasil dikunci dan beberapa kali mereka memberikan pukulan di wajah dan perut pria itu.
"Cukup."
Seseorang baru saja datang dan memberikan interuksi pada mereka untuk berhenti memukul.
Cuih, ingin sekali Bian meludahi orang itu.
"Kenapa harus berhenti, Atma? Bukankah ini yang sedang kau tunggu-tunggu?" ujar Bian sarkas.
Pria setengah baya di depannya memberikan tatapan tajam. Tatapan yang belasan tahun lalu selalu mampu membuatnya bungkam dan tidak bisa memberontak.
"Untuk terakhir kalinya aku ingatkan, jauhi Fallen, Bian!"
Fallen?
Ah ... Bian baru ingat lagi nama itu. Kalau tidak salah hitung, sudah hampir 3 minggu ini Bian tidak bertemu dengan si pemilik nama.
"Bagaimana keadaannya? Apa dia masuk rumah sakit jiwa karena terlalu merindukanku?" ejek Bian dengan seringainya.
"Stephan!" pria itu menggeram marah, ia melayangkan sebuah tamparan yang cukup keras. Berharap tamparan itu bisa membuat Bian sadar atas apa yang dilakukannya. "Fallen adalah adikmu. Dia sama sekali tidak bersalah, jadi jangan libatkan dia dalam permainan kotor kita."
Bian tergelak, "Adik? Aku tidak punya adik." ucap Bian tegas, sorot matanya menunjukkan betapa rasa benci tumbuh subur dalam dirinya. "Kau lupa? Kau yang sudah membuat Adik perempuanku meregang nyawa!"
Oh, sial!
Ingatan itu kembali memburunya. Hujan, rumah, api dan dua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya.
Bian mendongak ke atas, ia memejamkan mata untuk menghalau air matanya agar tidak keluar. Bian tidak ingin terlihat lemah dihadapan Ayahnya yang bajingan itu.
"Fallen itu anakmu, anak yang lahir dari wanita simpananmu, jadi dia bukan adikku." suara Bian parau, sarat akan rasa sakit dan kecewa.
Sebuh tamparan kembali melayang. Lagi, Bian merasakan panas yang menjalar di pipinya, tetapi panas yang membakar hatinya jauh lebih menyakitkan daripada yang pipinya rasakan.
"Jaga ucapanmu!" geram Atmaja, "Kau adalah anakku dan begitu pula dengan Fallen, jadi kalian adalah-"
Untuk kedua kalinya Bian tertawa, "Aku tidak punya Ayah, Atma. Saat kau memilih untuk meninggalkan kami 10 tahun lalu, aku sudah menganggapmu mati. Lihat saja Atma, jika nyawa tidak bisa dibayar dengan nyawa, setidaknya aku akan membuat putrimu gila."
__ADS_1
Wajah Atmaja terlihat mengeras dan hal itu justru membuat tingkat kesenangan Bian semakin bermegah-megah. Ya, tidak ada kebahagiaan yang sebanding dengan melihat sosok di depannya hancur.
"Tidakkah Ayah ingin memberikan selamat atas kesuksesanku? EHC, mereka mempercayakan proyek besar mereka padaku."
Estan Holding Company, jadi ini alasan perusahaan itu telah menolak kerjasamanya mentah-mentah? Mereka lebih memilih perusahaan kecil tak berpengalaman milik Bian daripada perusahaannya yang sudah mempunyai nama besar?
Atmaja memilih pergi tanpa mengatakan apapun pada Bian, bahkan pria itu mengabaikan uluran tangan putranya tersebut.
"Aku pastikan kau kembali ke tempat asalmu, Ayah!"
.
.
.
Berendam di air hangat dengan sabun aroma terapi membuat tubuh dan juga pikiran Lera menjadi rileks. Lera menyandarkan kepalanya pada sandaran bath tube, iris cokelatnya menatap atap kamar mandi nyalang. Lera sedang berusaha untuk mendapatkan siluet Kenan, sudah satu minggu ini ia tidak bertemu ataupun melihat sosok itu di kampus.
"Bagaimana kabarnya? Apa dia juga sedang memikirkan aku seperti yang aku lakukan saat ini? Hehe ... kau benar-benar konyol, Lera!"
Ya, bagaimana bisa lelaki itu memikirkannya kan? Mungkin saja perasaan Kenan sudah luntur karena ketidak jelasan perasaan maupun respon darinya.
Lucu memang. Mereka sama-sama tahu perasaan masing-masing namun sama-sama diam, sama-sama memendam. Bukan Lera tak mau mengambil langkah, hanya saja keegoisan wanita lebih mendominasi. Lera ingin Kenan lah yang menyatakan dan mengajaknya kencan.
Suara denting ponsel membuat gambaran sosok Kenan yang sedang tersenyum lenyap seketika. Ada satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
'Cepat buka pintu!'
'Lera, sampai 5 menit kau tidak buka pintu maka lihatlah bagaimana aku akan merusaknya!'
Baiklah, jadi ini memang bukan sms nyasar atau sms dari orang iseng. Lera segera mengambil jubah mandinya sebelum memutuskan untuk ke luar dari kamar mandi. Dia harus melihat bajingan mana yang sudah mengusik ketenangannya.
Kalau orang di balik pintu itu adalah Emo, maka sepupunya itu harus siap untuk masuk rumah sakit! Sungguh, Lera tidak bohong!
Namun ...
Saat pintu terayun terbuka, saat itulah Lera merasa jantungnya meluruh ke perut. Sosok yang dia lihat bukan Emo, melainkan Bian.
"Le, syukurlah ...." gumamnya sebelum ambruk ke dalam dekapan Lera.
"Bian, apa yang terjadi padamu?" Lera tentu saja meracau panik, ia segera membawa tubuh pria itu menuju sofa.
Penampilan pria menyebalkan itu sangat berantakan, kemeja putih yang dipakainya terdapat noda darah yang sudah mengering. Satu hal yang membuat perut Lera seakan diremas, yaitu saat meneliti wajahnya yang babak belur.
"Kau benar-benar membuatku sakit kepala!" ucapnya sebelum memutuskan untuk pergi mencari sesuatu yang bisa membuat pria itu lebih baik.
"Apa sih yang kau lakukannya sampai babak belur begitu? Menggoda istri orang hah?"
__ADS_1
Suara Lera terdengar menggema di suatu ruangan, Bian hanya menyunggingkan senyum mendengar omelan dan kecerewetan gadis itu. Pada momen seperti ini ia merasa dipedulikan, merasa ada sosok yang mengkhawatirkannya.
Lera kembali dengan baju yang tersampir di bahunya dan membawa sebuah baskom berisi air hangat dan juga handuk kecil, ia meletakkan baskom itu di atas meja.
Bian menyeringai saat Lera mulai membuka kemeja bernodanya dengan gemas, "Nafsu boleh Le, tapi pelan-pelan, sakit." goda pria itu bersamaan dengan ringisan di wajahnya.
"Tutup mulut kotormu, Bian!" jawab Lera sebal sambil melemparkan baju ke arah pria di depannya. "Itu baju Emo, kau bisa memakainya."
Oh, sial!
Wajah yang memerah itu selalu sukses membuat perasaan Bian membuncah senang.
"Kedua tanganku sakit, bisa bantu aku memakainya?"
Lera berdecak sebal, namun begitu ia tetap membantu Bian memakai baju. Setelah selesai, Lera mulai memeras handuk kecil yang sudah ia celupkan ke dalam baskom lalu mulai memompres luka lebam di wajah Bian.
"Aaaakh ... pelan-pelan Le!"
"Kalau tahu ini sakit, lalu kenapa kau berkelahi hah?"
"Aku tidak akan berkelahi kalau mereka tak memulai."
Gerak tangan Lera terhenti seketika, "Mereka siapa?" ia bertanya penasaran. Jika dilihat dari bagaimana kondisi Bian saat ini, Lera yakin bahwa si pelaku tidak hanya satu atau dua orang.
"Bukan siapa-siapa, hanya seorang bajingan yang harus aku lenyapkan."
Hanya itu?
Ah ... Lera merasa kecewa karena Bian tidak berniat memuskan rasa ingin tahunya.
"Kenapa kau datang ke sini? Harusnya kau pergi ke klinik atau rumah sakit!"
Bian menyunggingkan senyum, "Di sana bayar."
"Lalu kau pikir rumahku ini panti sosial?" gerutu Lera sambil memasang plester di dahi Bian.
Bian mengubah posisinya menjadi duduk, tangannya mengambil tangan Lera yang baru selesai memasang plester, "Mungkin tidak hanya sekali aku akan pulang dengan keadaan seperti ini. Jadi, berapa yang kau minta untuk 1 kali pengobatan?" ia bertanya dengan menggunakan seluruh egonya.
Memutar mata sebal, Lera mengentakkan tangannya yang sebelumnya digenggam Bian. "500 ribu untuk 1 kali pengobatan," tantangnya.
"Fine, tapi bonus cium sekali," ucapnya seraya menyeringai, "Aaw!"
"Makan tuh cium!" seru Lera setelah menendang dan mencubit lengan tangan Bian yang memar.
"Mau ke mana?" Bian bertanya saat melihat gadis di depannya beranjak berdiri.
"Mau tidur! Besok aku ada janji sama dosen pembimbing!"
__ADS_1
"Aku tidur di mana?" Bian kembali bertanya.
"Kamar mandi masih kosong." jawab Lera dengan gelak tawanya seraya pergi menuju kamarnya, sebelum melemparkan diri ke atas ranjang, ia mematikan lampu kamar terlebih dahulu. Ia tidak bisa tidur kalau lampunya tetap menyala.