
hari kencan pun tiba. Daru memakai setelan jas berwarna silver dan sepatu kulit berwarna hitam. sebenarnya apapun yang di pakai olehnya Daru akan terlihat tampan. dia menyisir poninya ke belakang sehingga terlihat dewasa, dia memakai soflens nya. Daru memakai parfum beraroma maskulin. meski ini bukan keinginannya tapi Daru tidak ingin mempermalukan nama ShabiL.
Daru berniat untuk turun melalui jendela namun dia berfikir pasti akan merusak penampilannya jadi mau tidak mau Daru harus turun secara normal melalui tangga.
di bawah bi Inah yang tengah berbicara dengan Bagas terkejut melihat tuan mudanya turun memalui tangga, bi Inah bersyukur bahwa tembok yang di bangun Daru perlahan menipis.
"BI tolong pakai kan dasiku" ucap Daru seraya menyerahkan dasi berwarna senada kepada bi Inah .
BI Inah tersenyum lalu buru-buru menghampiri Daru dan memakaikan nya dasi.
"tuan muda hari ini begitu tampan" ucap BI Inah
"begitulah?"
"ramput tuan muda juga sangat rapih"
"BI Inah berapa kali aku bilang jangan panggil aku tuan muda, aku sudah menganggap BI Inah keluarga ku sendiri. panggil saja Daru"
"mana mungkin saya berani, anda tuan muda saya"
"tidak apa-apa, ini permintaan ku bi" ucap Daru.
meski wajahnya terlihat datar tapi BI Inah dapat merasakan ketulusan Daru. BI Inah tersenyum meski dia mendapatkan perlakuan baik dari tuan mudanya BI Inah tidak ingin berprilaku kurang ajar.
"saya akan berusaha menyesuaikan diri sesuai permintaan tuan muda"
Daru menghela napas pelan lalu berjalan menghampiri Bagas yang sudah menunggu di depan pintu.
"ayo kita berangkat!"
Bagas membukakan pintu belakang, Daru pun duduk di kursi itu. mobil BMW seri X5 berwarna biru metal melaju meninggalkan rumah bak istana itu. mereka menuju hotel carsilion yang berada di pusat kota. hotel berbintang lima dengan fasilitas setiap kamar yang begitu fantastik.
mobil mereka sampai di tempat tujuan. bagas mengendarai mobil sampai parkiran yang berada di belakang hotel. mereka berdua berjalan memasuki lobi hotel. Bagas menanyakan letak kamar Irene kepada resepsionis.
"kamar 4201 pak" ucap resepsionis
bagaspun kembali kepada Daru yang tengah duduk di kursi lobi seraya memainkan hpnya dan memberitahukan dimana kamar Irene.
"kamu tidak perlu ikut kesana bagas"
"tapi pak saya harus mengawal anda kemanapun!"
"aku tidak akan kenapa-kenapa, meski aku memang punya prasaan tidak enak tapi tidak akan terjadi apa-apa"
__ADS_1
"tapi pak!"
"hah.. baiklah ternyata kamu lebih keras kepala di banding si Devan. kemarikan ponselmu!"
meski bingung, Bagas memberikan ponselnya. Daru memasukan nomernya ke ponsel Daru dan mengcallnya. telpon mereka saling terhubung.
"panggilan ini tidak akan aku matikan, jadi kamu bisa mendengar semua pembicaraan aku dan Irene. jika ada apa-apa kamu bisa langsung kesana"
Daru memberikan ponsel Bagas, Bagas mengambilnya. dia masih terlihat khawatir
"tapi pak.."
"jangan membantahku! tunggu saja disini!"
Darupun pergi meninggalkan Bagas. Bagas ingin mengikuti Daru tapi apa boleh buat dia harus menuruti semua perintah tuannya itu. Bagas duduk dengan gelisah di kursi lobi, dia memakai handset dan mendengar semuanya melalui ponsel itu.
Daru berjalan menaiki lift, lift melantun kan lagu its you dari Ali Gatie. Daru memasuki kedua tangannya ke dalam saku celananya. Daru menatap dirinya di cermin yang berada di lift tersebut. dia sempat berfikir untuk menurunkan poninya, tapi dia urungkan karena gaya itu membuatnya terlihat seperti bad-boy. di kencan politik nya yang pertama ini dia harus memberikan kesan baik.
'ting!' liftpun terbuka, Daru berjalan keluar mencari nomer kamar Irene. dan menemukannya di pintu yang paling pojok. Daru berdiri sesaat di depan pintu itu, dia tidak mengetuk pintu dan hanya menatap pintu itu. namun pada akhirnya Daru mengetuk pintu itu
'tok-tok!' pintupun di ketuk, selama beberapa detik tidak ada jawaban. Daru berpikir untuk kembali namun pintupun terbuka.
"anda pak Daru kan?" tanya perempuan itu dengan lembut.
"anda Irene?"
"benar pak Daru, mari masuk!"
Daru tidak percaya dengan wanita kurang ajar yang ada di hadapannya ini. meski memang Irene terkenal seksi tapi dia tidak menyangka bahwa wanita ini benar-benar gila. memakai pakaian yang seminim itu untuk menemui lelaki dan itu di sebuah hotel. Irene melihat ke belakang, Daru tidak kunjung masuk ke kamarnya. dengan sigap Irene menarik Daru dan segera menutup pintu kamarnya.
Daru terkejut dia celingak-celinguk tidak sadar bahwa dia sudah masuk kamar Irene. Daru mengatur nafasnya, dia harus profesional, dia harus terlihat tenang. Daru duduk di kursi yang telah di sediakan oleh Irene. Irene menuangkan sebuah minuman kepada Daru
"saya tidak minum alkohol" ucap Daru
"begitukah? maafkan saya pak" sahut Irene dengan tertawa renyah.
diapun kembali ke dapurnya dan membawa jus jeruk. Irene duduk di hadapan Daru, dia menatap Daru dengan tatapan tertarik
"benar seperti gosipnya, anda begitu tampan"
"terimakasih atas pujiannya" sahut Daru
Irene tersenyum dan terus menatap Daru menantikan Daru mengatakan sesuatu
__ADS_1
"anda juga begitu ca-cantik" lanjut Daru dengan enggan.
"terimakasih atas pujiannya" sahut Irene dengan senyum merekah menghiasi wajahnya.
waktu pun berlalu, Daru tidak menyentuh minuman yang di berikan Irene, Irene terus memperhatikan. menatap Daru dari atas sampai bawah, dia merasa Daru adalah tipenya. dulu Irene pernah mendekati Rizal, segala cara dia lakukan tapi Rizal tidak pernah tertarik kepada Irene. meski Irene dan Rizal pernah menghabiskan malam bersama tapi itu semua hanya demi kontrak yang di inginkan ayah Irene, setelah habis kontrak Irene pun di buang begitu saja oleh Rizal. Irene memiliki ambisi yang begitu besar, dia ingin menjadi mantu dari ShabiL grup. hidup bergelimangan harta adalah tujuannya, dia sudah muak hidup di bawah kaki ayahnya yang tidak berkompeten. perusahaan kosmetik ayahnya pun maju berkat jasanya menjadi wanita bayaran, jika bukan karena itu perekonomian keluarganya akan menjadi bangkrut. Irene berusaha mendekati kembali keluarga ShabiL dengan meminta kencan dengan tuan muda kedua yaitu Daru. Irene yang begitu licik merasa kali ini dapat menjebak tuan muda itu.
Irene berfikir jika dia tidak bisa memiliki Rizal, dia harus memiliki Daru. melihat Daru yang masih kecil dan sangat polos itu, Irene merasa inilah peluangnya untuk menjadi salah satu menantu ShabiL grup.
"saya dengar anda belum memiliki pacar"
"iya benar" jawab Daru singkat
"apa anda tidak berfikir untuk memiliki kekasih?"
"saya tidak tertarik"
Irene hanya tersenyum mendengar jawaban Daru yang begitu dingin. dalam hatinya dia sudah kesal atas cueknya Daru. dia harus segera melancarkan aksinya.
"anda begitu tampan, pasti banyak wanita yang ingin menjadi kekasih anda" ucap irene kembali memuji.
Daru melihat ke arah lain, dia merasa tatapan Irene begitu berbahaya. dia harus segera pergi dari tempat ini. dia melihat jam tangannya sudah satu jam lebih dia berada di kamar itu.
"saya rasa kita harus mengakhiri pertemuan kita. saya memiliki janji dengan seseorang. saya akan bilang ke pak Presdir saya sudah menemui anda dan akan menyetujui kontrak antara ShabiL grup dengan perusahaan anda"
sahut Daru seraya membenarkan jasnya dan mulai berdiri.
Irene tidak ingin Daru pergi. kontrak itu hanya berlaku satu tahun, dia ingin memiliki ShabiL grup seumur hidupnya.
"tidak! tunggu sebentar! kita baru bertemu sebentar. saya belum berbicara tentang kontrak kita!"
"saya yakin pak presdir sudah mendengar semua permintaan anda. dia hanya meminta saya untuk menemui anda saja bukan untuk membicarakan kontrak" sahut Daru dengan dingin dan segera berdiri lalu berjalan menuju pintu
"anda setidaknya minumlah dulu! anda tahu bahwa tidak meminum hidangan dari tuan rumah adalah perbuatan yang tidak sopan" Irene mencoba kembali menahan Daru.
Daru terdiam dan kembali duduk di kursinya lalu meminum jus jeruk buatan Irene. Irene tersenyum licik
"baiklah kalau begitu saya-" ucapan Daru terhenti, dia merasa kepalanya berputar hebat.
Daru kembali duduk di kursinya dan menekan kepalanya yang sakit
"apa yang anda berikan kepada saya?!" tanya Daru setengah teriak
Irene berdiri dan menghampiri Daru. dia menyentuh Dagu Daru mengangkatnya agar Daru melihat wajahnya.
__ADS_1
"sudah lama saya ingi memiliki anda pak Daru" sahut Irene dengan senyum licik bagaikan ular