Love Of Passion

Love Of Passion
tertarik


__ADS_3

keesokan harinya. Bagas sudah pergi meninggalkan rumah subuh sekali. Nurul sedang bersiap untuk pergi ke sebuah acara kondangan karena dia salah satu crew sebuah MUA. sedangkan Nafa sedang berfikir bagaimana menghasilkan uang tanpa mengganggu kuliahnya.


"mah Nurul pergi dulu yah!" teriak kakanya dengan tergesa, karena kakanya sudah di jemput oleh teman sesama crew.


Nafa hanya menatap langit kamar dengan wajah yang belum cuci muka sama sekali. dia hanya menghela nafas. diapun membuka sosial media dan melihat beberapa lowongan kerja paruh waktu.


tidak ada yang cocok dengan jadwal kuliahnya. hanya ada satu pekerjaan yang sesuai dengan jadwalnya yaitu sebagai pemandu lagu.


"wah, kalau aku kerja disini ka Bagas akan langsung memenggal leherku" gumam Nafa bergidik membayangkan apa yang akan di lakukan Bagas.


diapun kembali melihat yang lain, dan ada sebuah ide yang terlintas saat dia membaca nama tempat les terkemuka.


"ah aku coba aja jadi guru les privat, cocok tuh kayanya" ucapnya dengan semangat


Nafa melihat beberapa referensi, dia tidak menemukan yang cocok. dan ide pun terlintas tiba-tiba.


dia ingat kepala sekolah pernah merekomendasikan dia untuk menjadi guru privat salah satu muridnya yang jarang sekali masuk. tawaran itu setahun yang lalu, tapi mungkin saja tawaran itu masih berlaku.


Nafa kembali mendapatkan semangatnya, dia pun turun dan segera mandi. dengan dandanan yang sederhana Nafa dengan percaya diri menuju sekolah nya saat SMA dulu.


"mah Nafa pergi dulu yah"


"kemana?"


"Nafa mau cari kerjaan tapi gak ganggu aktifitas kuliah ko"


"hati-hati nak"


dengan semangat 45 Nafa mengendarai motor maticnya.


***


mata pelajaran ke duapun di mulai, pelajaran biologi yang di sukai semua murid tidak begitu menarik untuk Daru.


pelajaran itu menjelaskan tentang alat reproduksi, tidak jarang beberapa murid lelaki dengan sengaja menanyakan adengan 21+. semua murid bersorak dan cekikikan tidak karuan.


Daru hanya sibuk dengan hpnya, memantau perkembangan perusahaan nya. sesekali dia mendapatkan pesan dari Devan mengingatkannya untuk makan.


'kekanakan sekali' pikirnya dan bergidik. tidak terasa pelajaran pun selesai. sebelum guru meninggalkan ruangan, guru itu menyampaikan agar Daru datang ke ruang kepala sekolah.


dengan santai Daru bangkit dari duduknya dan mengikuti guru biologi.


"apa gara-gara kemarin Daru tiba- tiba bolos?"


"mungkin"

__ADS_1


"kenapa sih dia sering di panggil kepala sekolah?"


siswi di kelas Daru mulai berbisik ria setelah Daru meninggalkan kelas. Ikbal hanya menghela nafas, mungkin kali ini Daru mendapat masalah besar.


Daru dengan santai mengetuk pintu ruangan kepala sekolah


"masuk"


Daru pun masuk, langkahnya terhenti saat dia melihat Kaka mahasiswi yang dulu pernah menyelamatkan nya. Daru mulai was-was jangan-jangan Kaka itu melaporkan dia dalam insiden tawuran.


"duduklah" ucap kepala sekolah dengan ramah.


Nafa melihat ke arah Daru, dia cukup kaget bahwa anak tampan pendiam itu salah satu murid di sekolahnya dulu.


"ada apa Bu?" tanya Daru tanpa basa-basi


"Nafa sedang melamar menjadi guru les privat. ba- kamu kan pernah bilang butuh guru les. mungkin Nafa dapat membantu" ucap kepala sekolah. dia hampir memanggil Daru dengan sebutan bapak, jika Daru tidak memberikan peringatan di tatapan matanya.


Daru memperhatikan Nafa. dia merasa lega bahwa Nafa tidak melaporkan dia.


sejak pertama bertemu dengan Nafa Daru cukup tertarik olehnya. kata-kata yang Nafa ucapkan cukup membuat hati Daru hangat.


"Anda bisa mengajari saya pelajaran apa?" tanya Daru kepada Nafa


"fisika, matematika dan Inggris. saya pernah memenangkan olimpiade fisika se-provinsi" jawab Nafa dengan semangat


"baiklah, saya menerimanya Bu"


kepala sekolah memberikan senyum merekah.


sebenarnya Daru tidak butuh guru privat karena dia sudah menguasai semua mata pelajaran SMA. bahkan Daru merasa bisa ikut olimpiade tanpa perlu belajar.


"Anda bisa mulai mengajar hari Sabtu/Minggu, datang saja ke rumah saya"


Nafa mengangguk, entah kenapa Nafa merasa anak yang di hadapannya ini memiliki karisma seorang pemimpin perusahaan.


tidak lama Daru meninggalkan ruangan kepala sekolah dan meninggalkan Nafa dengan kepala sekolah.


"Bu kenapa saya merasa anak itu memiliki aura berbeda"


"ah, mungkin karena dia tampan. Daru memang sangat terkenal di sekolah. dia memiliki banyak prestasi juga" balas Bu kepala sedikit berbohong.


Kepala sekolah memiliki sebuah perjanjian dengan Daru, selama tidak ketahuan Daru akan menanggung apapun kebutuhan di sekolah itu.


kepala sekolah sangat segan kepada Daru apalagi setelah tahu bahwa Daru keturunan Al-shabil.

__ADS_1


"kamu hanya perlu mengajarinya selama 2 jam. gaji yang kamu dapat sangat besar"


"benarkah Bu?" tanya Nafa dengan mata yang semakin berbinar


karena Nafa salah satu murid berprestasi di sekolah itu, dia cukup dekat dengan kepala sekolahnya.


"tentu saja, kamu akan kaget saat tahu sekaya apa Daru"


kepala sekolah pun memberikan alamat rumah Daru, Nafa cukup kaget dengan alamat itu. karena daerah itu adalah perumahan yang sangat mewah. di setiap bloknya hanya berdiri 2 rumah saja. dan tidak tanggung rumah disana sangat mewah seperti istana.


"Bu inikan perumahan yang katanya seharga puluhan bahkan ratusan milyar" ucap Nafa tercengang


"iya kamu benar"


"masuk kesana kan memerlukan surat ijin Bu"


"tenang, ibu sudah menyiapkan segalanya"


kepala sekolah memberikan sebuah amplop putih panjang kepada Nafa. dengan stempel emas bertulis kan Shabil.


Nafa merasa pernah mendengar nama Shabil tapi dimana dia mendengarnya.


"saat kesana tunjukan saja amplop ini, mereka akan senang hati mempersilahkan kamu masuk. ingat tunjukan amplop ini ke 2 satpam yah. pertama satpam komplek dan ke dua satpam yang ada di rumah Daru"


Nafa menangguk dengan semangat. dia sangat percaya diri untuk mengajarkan anak yang katanya sering bolos untuk belajar dengan giat.


"kalau begitu saya permisi Bu. saya ada kelas nanti siang"


"iya, hati-hati Nafa"


Nafa bangkit dan berjalan menuju pintu, sebelum dia membuka pintu kepala sekolah menahannya


"ah iya satu lagi! saat kamu mengajar jangan tatap Daru dengan intens dan juga tutup mulutmu setelah kamu keluar dari sana" ucap kepala sekolah seraya mempraktekan menutup mulut dengan kedua jarinya.


Nafa mengangguk dengan bingung dan segera keluar dari ruangan kepala sekolah.


dia bingung kenapa harus tutup mulut apa disana ada sebuah rahasia yang mencengangkan? atau disana tempat yang berbahaya? pikirnya.


tapi Nafa tidak memikirkan lebih jauh, dia sangat senang mendapatkan pekerjaan mudah dengan gaji yang pastinya besar karena Daru adalah anak orang kaya.


di lain tempat Daru memperhatikan Nafa yang sedang berjalan menuju parkiran dari lantai dua.


dia cukup penasaran dengan Kaka itu. wajahnya yang imut, tubuhnya yang pendek dan nada bicara yang seperti anak-anak itu membuat Daru merasa gemas. apalagi tatapan Nafa begitu murni seperti wanita polos yang tidak tahu bagaimana kejamnya dunia.


Daru menyinggung kan senyum tipis, dia merasa baru mendapatkan mainan baru yang bisa menghiburnya.

__ADS_1


dan saat itu juga Nafa merasa bulu kuduknya berdiri.


*jangan lupa yah mampir ke novel baru saya yang berjudul love and blood*


__ADS_2