
"kita mau kemana pak?" tanya Bagas saat Daru masuk mobil BMW nya
"ke perumahan Panghegar"
Bagas diam sesaat, melirik Daru lewat kaca spion.
"Anda akan mengunjungi siapa?" tanyanya hati-hati
"Ikbal" jawab Daru singkat.
Ikbal mengajak Daru untuk jalan-jalan, karena Daru tidak ada jadwal diapun menyetujuinya. Daru sudah bertanya akan kemana namun Ikbal selalu menjawab "jalan dulu baru kita pikirkan mau kemana"
bagas mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, jalanan Bandung cukup lenggang karena jam masih menunjukan jam 10 pagi. belum banyak kendaraan yang lalu lalang.
mobil memasuki perumahan Panghegar, dan di waktu yang sama kedua pria yang ada di mobil itu melihat sebuah motor KLX. mobil dan motor saling berpapasan, mata kedua pria tertuju kepada wanita yang ada di belakang motor. duduk santai seraya mengobrol dengan supir motor itu.
kepala mereka sama menoleh mengikuti kemana motor itu pergi
"mau kemana dia?" tanya mereka berdua dalam hati.
Bagas ingin sekali memutar mobil, mengejar motor itu lalu menyuruh adiknya untuk turun. dia sangat khawatir jika adiknya bersama lelaki yang tidak dia kenal.
sama halnya dengan Daru. dia ingin juga turun dari mobil, berlari mengejar motor itu, menyuruh Nafa turun dan memukul lelaki itu. tapi pikirannya tersadar, kenapa dia harus melakukan itu? kenapa hatinya merasa kesal? lalu siapa lelaki itu? beraninya dia membonceng Nafa padahal dia sendiri belum pernah mengajak Nafa jalan.
memikirkan hal itu Daru semakin kesal, dia ingin meninju sesuatu. Dan seketika dia mendapatkan ide yang bagus.
Daru tidak mendengar suara Bagas yang terus memanggil nya, pikirannya larut.
"pak?"
"ah iya?" Daru tersadar
"kita harus kemana?"
"ke block G nomer 20"
nafas Bagas terhenti sejenak, itu adalah block dimana rumahnya berada. Bagas ingat ada seorang anak SMA yang tinggal di dekat rumahnya. ternyata dia adalah teman dekat dari tuannya.
mobil berhenti tepat di depan rumah no 20, Bagas menoleh ke arah rumahnya yang tepat berada di sebrang rumah Ikbal.
Daru mengetik sesuatu di ponselnya, tidak lama Ikbal keluar dari rumah itu.
Ikbal menghampiri dengan cengiran khasnya yang sedikit miring. dia memasuki mobil dengan santai dan duduk di samping Daru.
__ADS_1
"halo bos!" sapanya dengan sumringah
tatapannya teralih ke arah supir, dia berencana untuk menyapa supir itu namun senyumnya pupus, di gantikan dengan wajah tegang.
"ha-halo" ucapnya gugup
Ikbal menepuk paha Daru yang membuat Daru langsung mengernyitkan alisnya seraya menoleh. Ikbal berbicara melalui matanya yang membuat dia terlihat seperti tengah sakit mata.
"apa sih?" tanya Daru kesal
Ikbal terkejut karena Daru bersuara tiba-tiba padahal Ikbal tengah melontarkan kode rahasia. Ikbal perlahan menoleh ke arah kemudi dan dia melihat tatapan tajam dari arah spion. nyalinya pun ciut dan Ikbal memilih diam.
mobil pun melaju keluar dari perumahan itu. suasana hening di dalam mobil. mereka saling larut dalam pikiran masing-masing. Daru kesal melihat ada lelaki yang mencuri starnya, Bagas khawatir dia takut adiknya kenapa-kenapa, dan Ikbal tegang karena semobil dengan Bagas yang terkenal sebagai preman menyeramkan.
"kita akan kemana pak?" akhirnya Bagas memecah keheningan membuat Ikbal tanpa sadar melompat kaget membuat Daru risih.
"tempat latihan" ucapnya singkat dan ketus
Bagas mengangguk, diapun mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. sementara Ikbal hanya diam dengan tegang.
Bagas tahu jelas Dimana tempat latihan itu, karena itu adalah tempat para singa melatih kekuatan mereka, bahkan semua pengawal Shabil di latih di tempat itu sampai mereka layak untuk di sebut para penjaga singa.
sebenarnya Ikbal berencana mengajak Daru ke toko olahraga yang ada di sebuah mall. kebetulan dia ingin membeli bola basket baru untuk ekskulnya. karena salah satu bola basket yang mereka punya sudah rusak karena usia. tapi sepertinya dia tidak bisa mengutarakan niatnya, Ikbal merasakan hawa mencekam dari dua orang yang ada di mobil itu. dia takut untuk bersuara, takut di tendang keluar dari mobil.
lalu tempat tujuan mereka adalah latihan, Ikbal merasa itu adalah tempat yang juga menyeramkan.
sekitar setengah jam mereka sudah sampai di tempat tujuan. Ikbal turun, ketegangan memudar dari wajahnya. dia sedikit lega bisa keluar dari mobil itu.
Ikbal melihat plang di atas bangunan yang ada di depannya. hatinya seketika mencelos, dia sudah menyadari bahwa 'tempat latihan' adalah tempat yang akan membuatnya sakit badan. sebuah tempat yang menyediakan berbagai aliran beladiri.
mereka masuk dan di sambut hangat oleh seorang resepsionis. Ikbal cukup kecewa bahwa resepsionis seorang pria berotot kekar, semua yang ada disana tidak ada unsur wanita. Bagas menghampiri, dia memberikan sebuah kartu berwarna gold dan menulis sesuatu. Bagas di beri 1 kartu baru berwarna gold oleh sang resepsionis.
"tulis juga namamu" ucap Daru
Bagas menurut, dan di beri 2 oleh sang resepsionis.
Bagas menyimpan 2 kartu di kantong jasnya dan memberikan satu kepada Ikbal. Ikbal bingung, sebelum bertanya Bagas sudah menjawab.
"ini adalah kartu member, anda bisa untuk ikut semua kelas beladiri disini kapanpun anda mau dan berapa kali pun dalam seminggu tanpa harus membayar. kartu itu tidak perlu di perpanjang, karena akan otomatis di perpanjang oleh pihak Shabil grup" ucapnya
Ikbal hanya mengangguk dan menerima kartu itu dengan segan
"ayo" seru Daru yang sudah berjalan lebih dulu.
__ADS_1
Ikbal merencana untuk menyusul namun Bagas menahannya.
"Anda- ah bukan. Ikbal tolong jangan memasang wajah takut seperti itu saat melihat saya. saya tidak akan menggigit"
"a-ah i-iya bang" Ikbal bersuara seperti sudah meminum jus paku
"saya tahu bagaimana reputasi saya di komplek tapi saya tidak akan mencelakai kamu"
"a-ah iya, maaf bang. saya hanya-"
"saya mengerti, lagipula saya tidak akan menghajar kamu tanpa sebab. saya hanya menghajar orang yang.. bermasalah" ucap Bagas cepat
Ikbal mematung, otaknya langsung menuliskan kalimat 'jangan membuat masalah' dan mematenkan kata-kata itu di hatinya. mungkin yang di maksud bermasalah apakah membuat Daru kesal?
"silahkan" Bagas mempersilahkan Ikbal untuk berjalan lebih dulu.
akibat ucapan Bagas, Ikbal semakin tegang. dia berjalan layaknya robot.
setelah mereka masuk ke dalam, Ikbal merasa takjub. ruangan itu seperti lorong panjang, ada seorang resepsionis Yang sama kekarnya dengan resepsionis yang ada di depan.
dia menunjukan berbagai pintu yang ada di sana. masing-masing pintu terdapat aliran beladiri berbeda. ada muangtai, karate, tinju, taekwondo, silat dan lain-lain yang tidak Ikbal ketahui apa nama beladiri itu.
Ikbal melihat Daru memilih untuk mengikuti beladiri tinju, tapi Ikbal tertarik untuk mengikuti muangtai. dia bimbang, dia ingin bilang untuk tidak ikut kelas tinju tapi dia takut salah bicara.
"kamu boleh pilih beladiri mana aja, tanpa harus mengikutiku" ucap Daru sebelum memasuki ruangan.
seketika nafas Ikbal terasa ringan, diapun sumringah dan memasuki ruangan muangtai dengan cepat.
"kamu juga" lanjut Daru kepada Bagas.
"saya harus memastikan Anda aman"
"tidak apa-apa, mereka orang terpercaya. mereka berada di bawah naungan Shabil group"
Bagas merasa enggan untuk meninggalkan majikannya di dalam sendiri, tapi Bagas tidak bisa membantah ucapan tuannya. diapun dengan enggan mengangguk tanda setuju.
Daru memasuki ruangan meninggalkan Bagas. Bagas diam di depan pintu itu selama 5 menit, dia memperhatikan sejenak apa aja yang ada di sekeliling tuannya. melihat tidak ada masalah Bagas membalikan badan.
sebenarnya dia ingin mencari adiknya tapi dia tidak bisa meninggalkan tugas. dia takut tuannya kenapa-kenapa, meski Bagas yakin tuannya kuat tapi dia tidak bisa meninggalkan tanggung jawab. setelah berkutat cukup lama dengan pikirannya akhirnya Bagas menyerah dan memilih untuk mengikuti kelas gulat.
**
Daru mengganti bajunya lalu memakai sarung tinju, pelindung kepala dan pelindung gigi. diapun memasuki ring. pelatih sudah memberikan arahan yang sangat jelas dan meminta Daru untuk tidak segan-segan memberikan pukulan terbaiknya.
__ADS_1
dia teringat kembali kejadian tadi, hatinya menjadi lebih kesal dari sebelumnya. Daru merapatkan sarung tinju ke depan wajahnya, dia siap meluapkan emosinya.