
tiga buah mobil berhenti di depan hotel dimana pangeran Arab beserta rombongan Nafa menginap. seseorang turun dari mobil hitam yang ada di tengah. di ikuti orang-orang yang ada di mobil ke tiga.
Daru, Devan, Bagas disertai beberapa orang memasuki hotel. semua staf sudah menunggu dan memberi hormat.
"bagaimana dengan pangeran?" tanya Daru kepada manager hotel
"beliau puas dengan pelayanan kita pak, saat ini beliau ada dikolam renang di lantai paling atas" jawab manager tersebut
Daru langsung menuju lift khusus staf, Devan memberikan jempol tanda good job kepada manager tersebut sebelum pergi, manager tersebut tersenyum senang dan mengekor di belakang mereka.
Daru, Devan dan Bagas memasuki lift staf beserta sang manager. semua pegawal dan staf yang tersisa hanya memberi salam dan kembali ke kerjaan mereka masing-masing.
saat bertemu pangeran, Daru mendapatkan berbagai pujian bagaimana memuaskan nya pelayanan hotel miliknya selama seminggu terakhir ini.
"saya akan kembali ke Arab besok"
"apa ada pelayanan kami yang kurang memuaskan sehingga anda pulang cepat?"
"tidak! aku sangat puas, seperti yang tadi aku katakan aku sangat puas. setiap aku ke hotel selalu sepi, hanya ada aku dan rombonganku. tapi disini ada rombongan selain aku, rombongan anak remaja. aku selalu memperhatikan mereka dari atas, seru juga melihat mereka yang tengah berpesta" jawab pangeran dengan wajah tersenyum
"terimakasih pangeran. saya senang jika anda puas dengan pelayanan kami"
"aku di panggil raja untuk kembali, ada urusan mendadak"
"baik pangeran, akan saya siapkan kepulangan anda"
setelah bertemu pangeran, mereka kembali ke lantai dasar. Daru berdeham, Devan mengerti apa maksudnya itu.
"dimana anak-anak kampus itu?" tanya Devan kepada manajer
"mereka ada di belakang hotel pak, saya tempatkan mereka di bangunan khusus karyawan"
"bagus. antarkan kami kepada mereka" pinta Devan seraya melihat ke arah Daru yang tersenyum.
sang manager mengatar mereka semua ke belakang hotel, ke area taman yang sangat luas dengan kolam renang besar.
Daru tidak sabar melihat wajah Nafa, dia ingin sekali bertemu dengan wanita itu setelah sekian lama. dia berencana hanya melihat Nafa sebentar setelah itu pergi lagi, dia membawa serta Bagas hanya agar Bagas melihat adiknya yang bahagia berkat pelayanan hotel miliknya.
menurut informasi, Bagas tidak tahu adiknya ikut karya wisata. jadi mungkin dia akan kaget jika melihat Nafa tengah bersenang-senang di hotel milik Daru.
namun pemikiran itu sirna sudah. saat Daru memasuki area yang di maksud, matanya melirik kesana kemari mencari dimana keberadaan Nafa. bukannya melihat Nafa yang bersenang-senang, dia malah melihat Nafa tengah berteriak berlari dari kejaran Arya.
"lepaskan!!" teriak Nafa dengan tangis histeris saat Arya memegang tangannya. tidak ada siapapun dari rombonga yang mendengar teriakan Nafa kecuali, dirinya.
baru saja Daru akan melangkah menghampiri Nafa, Bagas dengan cepat berlari kearah Nafa menarik tangan Arya dan melempar Arya dengan teknik judo hingga menyebur ke kolam renang yang jauhnya 2 meter.
__ADS_1
Byurrr!!!!!
semua orang menoleh kearah kolam renang, musik berhenti mengalun saat Nafa berteriak menghentikan Bagas yang akan mengejar Arya ke dalam kolam.
semua orang disana berbisik-bisik, bertanya apa yang terjadi. teman-teman Nafa yang melihat Nafa histeris dengan bibir bengkak menghampiri Nafa, bertanya apa yang terjadi dengan khawatir.
seorang dosen yang tadi bernyanyi menyimpan mic-nya, menghampiri mereka semua.
Arya mangap-mangap syok di lempar ke dalam kolam, dia mencoba keluar dari air, setiap dia keluar dengan sigap Bagas menghajar Arya sehingga Arya kembali masuk kedalam kolam. setiap pukulan terdengar teriakan.
semua dosen dan mahasiswa yang ada disana mencoba menahan Bagas, namun Bagas sangat brutal menepis semua tangan yang menghalanginya.
"Kaka stopp!!!!" jeritan Nafa berhasil membuat Bagas diam, Bagas menoleh ke arah adiknya dan memeluk nya.
"anak ini sudah kurang ajar ke adik saya!" ucap Bagas sembari menunjuk Arya yang tengah memegang rahangnya
"apa maksudnya itu?Arya kurang ajar?" semua orang berbisik-bisik sembari melihat Bagas dan Arya bergantian
sebelum dosen sempat bertanya, Bagas menggendong Nafa keluar dari kerumunan
"pak-"
"iya, bawa adikmu ke dalam kamar saya" sebelum Bagas berkata, Daru sudah memberi ijin agar Nafa di bawa ke kamarnya.
"tu-tunggu sebentar! halo! siapa itu?! kakanya Nafa!!" teriak sang dosen, saat dosen itu akan mengejar, Devan menahannya, Daru melangkah ke depan.
"jika anda sekalian ingin mengetahui alasan kenapa bawahan saya melakukan itu, datanglah ke kamar no 24 di lantai 2. akan saya jelaskan" lanjut Daru dan langsung berbalik di ikuti oleh Devan.
manager yang melihat kejadian tersebut gelagapan, dia tidak tahu apa yang terjadi. yang jelas berkat kejadian tadi, suasana hati atasan dan sekretaris menjadi sangat buruk.
"mari pak, akan saya antar kalian semua ke kamar atasan saya" ucap sang manager,
beberapa dosen lelaki menghampiri dan akan ikut menuju kamar yang di maksud.
"nak Arya, kamu juga ikut bapak"
dengan berat hati Arya menurut, dia keluar dari kolam di bantu oleh temannya. merekapun pergi menuju ruangan.
...****************...
Bagas menurunkan Nafa dan menyuruh Nafa untuk duduk di sebuah ranjang yang sangat luas, Nafa masih menangis namun kali ini tidak sehisteris tadi.
"apa dia melakukan hal macam-macam kepadamu? dia melecehkan mu?" tanya Bagas dengan panik, namun Nafa hanya diam menangis
"jawab Kaka, jangan nangis. Kaka akan hajar orang itu hingga cacat seumur hidup!"
__ADS_1
Nafa menyentuh tangan kakanya dengan lembut
"jangan ka, jangan bikin masalah. aku gak mau Kaka masuk penjara lagi" ucap Nafa di sela tangisnya
"kalau begitu, beritahu Kaka apa yang terjadi? lelaki itu temanmu kan? Kaka pernah melihatnya. apa yang dia lakukan?"
Nafa hanya diam, dia tidak bisa mengatakan bahwa Arya akan memperkosanya. dia takut kakanya akan kalap dan membuat alat reproduksi Arya "cacat seumur hidup", kakanya pasti akan melakukan apa yang dia katakan.
"beri dia waktu Bagas" ucap Daru yang sedari tadi menunggu mereka di ambang pintu
"pak, saya hanya ingin tahu apa yang terjadi"
"iya saya tahu niatmu, tapi lihatlah adikmu. dia masih syok, dia tidak akan menjawab dengan benar"
Bagas mulai sadar, wajah Nafa sangat pucat. karena kepanikannya dia sudah bodoh membuat adiknya semakin tertekan. Bagas berlutut di hadapan Nafa .
"maafkan kaka, Kaka sudah kelewatan. Kaka akan bertanya nanti setelah kamu kebih baik. kamu sudah makan?" tanya kakanya
air mata Nafa kembali mengalir, dia bersyukur memiliki Kaka yang begitu perhatian dan hangat. nafa mengangguk, meski makanan itu sudah keluar dari isi perutnya.
"Kaka akan suruh waiters untuk membawakan teh herbal, gapapakan Kaka tinggal sebentar?" tanya Bagas kembali dengan lembut. Nafa mengangguk
"tolong jaga adik saya pak" pinta Bagas sebelum keluar kamar
"ya"
suasana hening. Nafa tidak berani melihat Daru langsung. dia ingat apa yang sudah dia lakukan dengan membela Arya dan tidak mau mendengar kan apa kata Daru. padahal Daru benar, Daru hanya ingin melindungi dirinya dari lelaki bejat seperti Arya. tapi dirinya malah mempercayai apapun yang ada di hadapannya, meskipun itu hanya sebuah sandiwara.
"Kaka baik-baik saja?" tanya Daru. Nafa mengangguk, pandangan nya masih mengarah ke tempat lain.
"sungguh Kaka baik-baik saja? jika memang Kaka baik-baik saja. lihat aku dengan benar" lanjut Daru.
"a-aku minta maaf, seharusnya aku mendengar kata-katamu tapi aku malah membela dia dan menyakitimu. aku sungguh minta maaf" ucap Nafa dengan Isak tangis, dia masih tidak berani melihat Daru.
"tidak apa-apa, itu sudah berlalu. yang jelas sekarang Kaka sudah tahu sepeti apa lelaki itu"
"tapi tetap saja, aku salah. harusnya aku mendengarkan mu"
Daru menghela nafas panjang, dia berlutut di hadapan Nafa seraya memegang kedua tangan Nafa yang membuat Nafa sontak terkejut.
"hey, lihat aku ka" ucap Daru namun Nafa tidak bergeming
"aku akan memberitahu Kaka sesuatu yang menarik, jika Kaka melihat ke arahku, aku kan memberitahu Kaka" lanjut Daru dengan sabar. perlahan namun pasti Nafa menoleh ke arah Daru.
hati Daru seperti teriris melihat mata Nafa begitu sembab karena air mata, bahkan sampai sekarang air mata itu masih mengalir. dengan lembut Daru mengusap air mata Nafa. dia tersenyum hangat ke arah Nafa yang wajahnya sangat berantakan.
__ADS_1
"aku suka Kaka, bukan suka seorang murid ke guru tapi seorang pria kepada wanita. aku sungguh suka Kaka, jadi mengertilah dan lihatlah aku saja"
dengan sepenuh hati, Daru mengutarakan isi hatinya, meski tidak romantis seperti di drama Korea namun ini adalah pernyataan cinta yang pertama Daru kepada seorang perempuan.