
kembali ke sekarang, Rizal dapat melihat wajah pasrah namun lega dari wajah Damar. itu membuat perasaannya tidak enak.
"Gio" ucapnya menyebut nama seorang pengawal
"ya tuan"
"pergilah ke rumah Damar, jaga dia. aku merasakan perasaan tidak enak. bawa dua rekanmu"
"baik tuan"
merekapun pergi, Rizal kembali menghela nafas panjang dan berat. dia melihat ponselnya, melihat potret Nurul yang ada di CV tadi.
dia harus mengajari anak ini secepat mungkin. karena jadwalnya padat, dia harus membuat Nurul dapat mengerti pekerjaannya dalam waktu 1 Minggu, tidak harus bisa dalam 5 hari.
Rizal keluar dari ruangan ayahnya dan berjalan menuju rumahnya seraya diikuti oleh 3 pengawal.
sementara itu Daru berjalan gontai mengitari rumah kedua. dia merasakan sesak di hatinya, entah karena apa. dia tahu bahwa ayahnya sakit, tapi dia tidak menyangka bahwa penyakitnya separah itu. di lihat dari gejalanya, mungkin kah itu adalah kanker?.
Deg! dadanya kembali sakit. dia merasa takut tapi tidak tahu takut karena apa. dia berfikir dalam.
"apa karena ayah?" gumamnya lirih namun dia segera sadar dan menggelengkan kepalanya. dia memasang wajah sangar, tidak mungkin dia merasa begini hanya karena ayahnya. dia benci ayahnya.
Daru mempercepat langkahnya dia tidak menuju lantai atas dimana itu adalah ruangan pribadinya. dia berjalan ke belakang rumah menuju kolam renang.
tanpa aba-aba Daru langsung menceburkan diri ke kolam dan berenang. terdengar suara histeris dari bi Inah.
"tuan muda!! tuan ini sedang hujan nanti anda sakit!" teriak BI Inah untuk mengalahkan suara derasnya hujan.
wajah bi Inah menjadi pucat, dia sangat khawatir. bi Inah berlari menghampiri kolam dia ingin melompat namun di hadang oleh Bagas
"jangan bi!"
"ta-tapi tuan muda nanti sakit"
"saya akan menjaganya, lebih baik bibi kembali ke dalam. siapkan air hangat dan minuman herbal untuk beliau"
rasa resah masih terpampang di wajah bi Inah namun bi Inah akhirnya masuk ke dalam dan menyiapkan apa yang tadi di minta oleh Bagas.
Bagas kembali memperhatikan Daru, dia hanya menghela nafas. Bagas sebenarnya bingung ada apa dengan tuannya ini. beberapa jam sebelumnya Daru terlihat bahagia meski tidak tersenyum namun dapat terlihat wajah ceria dari tuannya. namun kini wajah itu kembali muram, kembali mendung. begitu cepat mood tuannya ini berubah, membuat Bagas sempat berfikir untuk membawa Daru kepada psikiater.
bukan karena Daru gila, namun Bagas rasa Daru butuh sesuatu atau seseorang untuk menenangkan mentalnya.
Daru masih tetap berenang tanpa henti selama setengah jam. hujan yang deras perlahan menjadi gerimis, Daru pun keluar kolam.
Bagas menghampiri seraya memakaikan Daru handuk, wajah Daru masih tetap muram. wajah lebam nya semakin lebam, bibirnya terlihat pucat. namun tidak terlihat Daru menggigil, dia masih tetap tenang seperti biasa.
mereka memasuki ruang pribadi Daru, BI Inah sudah menyiapkan air hangat di Badtupe dan memberikan minuman herbal kepada Daru. Daru meminum nya sedikit lalu berjalan menuju kamar mandi.
BI Inah dan Bagas saling pandang khawatir.
"akan saya jaga beliau"
"bibi mengandalkan mu Bagas, bibi akan memasak sup krim untuknya"
__ADS_1
BI Inah pun turun dan mulai memasak
Daru memasuki Badtupe, dia berendam seraya memikirkan hal yang entah apa. pikirannya kosong, dia hanya merasa hampa. dia selalu merasa ada yang kurang, ada yang mengganjal dengan hidupnya. padahal selama ini dengan semua pencapaian nya dia kira itu sudah cukup ternyata dia tidak puas sama sekali.
Daru tersenyum mencemooh dirinya sendiri, seraya menghela nafas
"manusia memang tidak pernah puas" gumamnya menenggelamkan wajahnya ke dalam Badtupe.
Bagas langsung menghampiri Daru yang baru saja keluar dari kamar mandi, dia segera memberikan handuk ekstra untuk menutup kepala Daru.
"kamu boleh pergi, aku ingin sendiri" ucap Daru
Bagas hanya mengangguk dan meninggalkan daru yang akan berganti baju.
Daru hanya memakai boxer dan langsung berbaring di atas kasur. rambutnya yang belum kering membasahi bantal.
Daru menarik selimut, dia menutupi seluruh tubuhnya, perlahan namun pasti diapun tertidur.
BI Inah naik ke atas seraya membawa sup krim jagung. dia hanya menghela nafas dan tersenyum melihat Daru sudah tertidur lelap. BI Inah menyimpan sup itu di samping meja yang ada di samping ranjang.
...**...
keesokan harinya. BI Inah memasuki kamar Daru, karena ini adalah rutinitas paginya. membangunkan Daru untuk pergi sekolah. tapi BI Inah terkejut setengah mati karena wajah Daru sangat merah, diapun terlihat menggigil.
"Ya Tuhan.. nak, kamu baik2 saja? sebentar bibi ambilkan termometer" BI Inah bergegas menuju kotak obat yang ada di sebelah pintu yang selalu di kunci Daru. lalu bergegas menghampiri Daru.
BI Inah menempelkan termometer itu ke mulut Daru, dia terkejut karena suhu tubuh Daru 39°C
"bibi panggilkan dokter yah"
"jangan" ucapnya dengan suara serak
"tapi nak.."
"jangan panggil dokter" Daru bersikeras
Daru mengerang kesakitan setiap kali dia mengerutkan dahinya, kepalanya terasa sakit luar biasa. dia tidak kuat untuk membuka mata
"bibi kan sudah bilang untuk memakai baju saat akan tidur, bukan telanjang dada seperti ini. sekarang lihat nak, kamu kena demam" ceramah BI Inah saat melihat dada Daru yang terekspos
Daru hanya diam menutup mata, dia tidak sanggup membantah ceramah BI Inah.
"nah, ayo mnum obat"
BI Inah memberikan obat demam yang selalu tersedia di kotak obat. Daru meminumnya dengan pasrah
"kalau sudah meminum ini nak Daru masih demam bibi akan memanggil dokter" oceh BI Inah kembali kali ingin dengan nada tegas.
Daru tidak mendengar jelas apa yang di katakan bibi nya itu, kepalanya semakin sakit dan diapun kembali tidur.
Bagas memasuki ruangan berencana untuk mengantar tuan mudanya untuk sekolah. namun yang dia lihat BI Inah yang tengah menyelimuti Daru.
"BI, apa yang terjadi?"
__ADS_1
"nak Daru terkena demam"
"saya akan panggilkan dokter"
"tidak! jangan, nak Daru tidak mau. bibi sudah memberikan obat ini, tapi jika dia masih seperti ini hingga siang tolong panggilkan dokter. sekarang biarkan beliau istirahat"
"baik BI"
BI Inah kembali mengecek suhu tubuh Daru yang masih terasa hangat. diapun mendesah
"padahal bibi pulang kampung hari ini, dan bibi tidak bisa menunda nya" desah BI Inah
"saya akan menjaga beliau"
"ahh! benar, terimakasih nak Bagas. kamu memang anak yang baik"
BI Inah merasa lega, dia bersyukur ada Bagas yang sangat memperhatikan Daru.
Ponsel Bagas berdering, ada panggilan masuk dari Rizal
"halo pak?"
"cepat turun, kamu harus ikut saya sebentar"
"ta-tapi pak, tuan daru-"
"tenang saja, ada supir pengganti. dia yang akan mengantar dan menjaga Daru"
Bagas bingung. dia tidak bisa menolak perintah dari Rizal tapi dia juga tidak bisa meninggal kan Daru. dan kata 'sebentar' dari Rizal itu bisa menjadi sangat lama.
"ayo cepat Bagas, kita akan terlambat!" suara Rizal begitu tegas membuat Bagas mau tidak mau menuruti perintah Rizal
"baik pak"
telepon pun di tutup.
Bagas melihat ke arah BI Inah dengan gugup dan bingung. BI Inah menyadari itu
"tidak apa-apa nak Bagas. perintah atasan adalah hal yang penting. bibi akan mencari solusi lain"
"baik BI, saya minta maaf dan tolong jaga tuan Daru"
setelah mengatakan itu Bagas turun menuju tempat Rizal berada.
BI Inah menghela nafas kembali, dia harus cepat berfikir. mobil travel akan segera sampai untuk menjemput nya menuju bandara. kepulangannya ke Lampung tidak bisa di tunda.
BI Inah kembali memegang kening Daru yang masih hangat malah terasa panas, bi inah bingung. dia mondar mandir mencari solusi.
BI Inah tidak bisa memberikan tanggung jawab ini ke sembarang pelayan, apalagi tuannya ini sangat sensitif terhadap orang baru. BI Inah berfikir keras siapa lagi orang yang akhir-akhir ini ada di sisi tuannya.
BI Inah menelpon Vian dan mencoba memintanya untuk menjaga Daru tapi karena sang pemilik perusahaan tidak ada di tempat itu artinya Vian harus membereskan semua pekerjaan Daru.
BI Inah sempat memikirkan Ikbal temannya Daru, tapi dia yakin Ikbal tidak akan bisa menjaga Daru dengan baik.
__ADS_1
hingga BI Inah memikirkan seseorang yang menurut nya cocok. sosok yang mampu berperan seperti seorang ibu yang menjaga anak nya yang tengah sakit. diapun teringat seseorang.
BI Inah menghampiri telpon, diapun segera menghubungi Nafa.