Love Of Passion

Love Of Passion
jebakan


__ADS_3

di suatu tempat di pulau Dewata Bali, Rizal memasuki kamar hotel yang telah di pesan lebih dulu.


kamar VVIP yang sangat mewah, terdapat ruang meeting pribadi yang cukup besar di salah satu sudut kamar hotel. ranjang yang begitu besar dan sangat empuk.


Rizal membuka jasnya dan menyimpan begitu saja di atas kasur. dia berjalan ke salah satu sudut ruangan dan membuka sebuah pintu, kamar rahasia yang ada di kamar itu.


terdapat seorang wanita yang tengah tertidur di lantai dengan kedua tangan dan kaki di ikat rantai.


perlahan wanita itu bangun dengan linglung. wajahnya pucat dan matanya sembab. sepiring makanan di samping nya tidak di sentuh sama sekali.


wanita itu menatap nanar kearah Rizal, meminta untuk di bebaskan.


"aku mohon tolong bebaskan aku, aku minta maaf. aku gakan mengulangi nya lagi" ucap wanita itu lirih


Rizal menghampiri wanita itu, dia berjongkok dan menarik dagu wanita itu dengan kasar


"harusnya kamu lakukan itu sebelum ini terjadi Irene! aku sudah memperingatkan mu saat pertama kali kau melakukan kontrak dengan ku!"


"a-aku tahu, aku minta maaf. tolong maafkan aku" air matanya kembali mengalir untuk kesekian kalinya tapi Rizal tidak bergeming. dia sudah bosan melihat air mata dari wanita busuk


"kamu tidak pernah memikirkan konsekuensi atas tindakanmu? ayahku akan luluh padamu karena dia tidak tahu apa yang telah kamu lakukan. tapi aku! TIDAK AKAN PERNAH memberikanmu toleransi!"


Rizal melepaskan wajah Irene dengan sangat kasar.


Rizal memberikan penekanan setia kata tidak akan pernah kepada irene. Irene kembali menangis.


"kamu sangat egois Irene! kamu tidak memikirkan apa yang akan terjadi kepada keluargamu. mereka menderita atas perbuatan busuk mu ini" lanjut Rizal


sebenarnya Irene tidak peduli dengan kedua orang tuanya toh mereka bukan orang tua kandungnya. Irene tidak peduli apa yang akan terjadi dengan orang yang sudah mengadopsi nya itu.


melihat reaksi Irene yang hanya diam, Rizal tersenyum kecut


"yah wanita murahan sepertimu tidak akan peduli dengan orang tua yang sudah mengeluarkan mu dari panti asuhan. tapi kamu harus ingat aku akan menghancurkan semua aset yang sudah kamu bangun!"

__ADS_1


Irene dengan cepat mendongakkan wajahnya, matanya terbelalak. dia tidak bisa melepaskan semua aset itu. Rizal mulai tersenyum licik


"perusahaan, rumah, apartemen dan aset lainnya akan di ambil alih oleh Shabil grup"


"tidak!!"


"bagaimana yah? sudah aku ambil, ayah mu sudah menandatangi kontraknya. dia rela kehilangan semua yang kau bangun demi hidup nyaman tanpa dirimu"


Irene mulai panik, dia menekan kepalanya seraya mengucapkan kata tidak berkali-kali, hingga dia pun berteriak


"tidakk!!! aku mohon jangan asetku!!! aku akan melakukan apapun apapun yang kau pinta aku mohon jangan Rizal!!" Irene memohon dengan histeris


Rizal kembali tersenyum licik.


"apapun?"


"iya apapun" jawab Irene dengan antusias


Rizal kembali mendekat


Irene termenung, dia hanya diam menatap Rizal. tatapan benci sekaligus memelas. dia ingin bebas tapi dia juga butuh asetnya. jika asetnya di ambil dia akan kembali menjadi miskin.


"bagaimana? aku hanya bisa membebaskanmu tapi tidak dengan asetmu"


Irene masih terdiam, dia bimbang. tangannya pun ke kepal karena bimbang bercampur amarah.


"aku akan mendengarkan jawabanmu nanti jika kamu tidak bisa menjawab sekarang"


Rizal melangkah menjauh, diapun menuju pintu. sebelum pintu terbuka Irene menahannya


"baiklah!! aku akan melakukannya. kamu mau apa? tubuhku? aku akan memberikannya!!"


Rizal berbalik, dia lalu mengeluarkan sebuah kertas berjanjian dua lapis dan memberikannya kepada Irene. tanpa pikir panjang Irene menandatangani surat itu dengan emosi lalu memberikannya kepada Rizal.

__ADS_1


"tidak membacanya?"


"tidak perlu! aku hanya ingin bebas! jadi apa? tubuhku? aku akan memberikannya seperti dulu!"


entah apa yang merasuki Irene, Irene memang membenci Rizal tapi dia tidak bisa berpalinh dari Rizal. postur tubuh yang sesuai dengan yang Irene idamkan membuat Irene kehilangan akal.


Irene berdiri dari duduknya, dia membuka baju tidur panjangnya dan hanya meninggalkan sebuah kulit putih nan polos.


Rizal hanya menatap dengan datar.


rantai itu sangat panjang dan terikat di sebuah kasur yang ada di sudut ruangan. Irene bisa menjangkau tempat di sekitarnya kecuali pintu. kamar mandi pun di desain dekat dengan kasurnya.


Irene meraba tubuh Rizal, meraba perutnya yang berotot di balik kemeja abu yang tipis. Irene pun mendekat kan mengecup bibir Rizal dengan penuh prasaan. bagaimanapun Irene harus memuaskan Rizal agar Rizal bisa dengan cepat membebaskannya dan mungkin saja Rizal dapat menyisakan asetnya walau sedikit.


tangan Irene meraba bagian sensitif Rizal, perlahan namun pasti Rizal menegang. Rizal tidak tertarik dengan irene, dia pernah sekali melalukan nya dengan Irene dan itu biasa saja tidak ada gairah yang begitu berarti baginya. tapi jika macan sudah di suguhi daging segar seperti ini, Rizal harus memakannya.


dia merangkul Irene dengan kuat, membalas kecupan itu dengan ganas dan mendorong Irene ke atas kasur.


di bukanya baju kemeja itu, Irene membantu Rizal membuka celananya. dalam hitungan detik Rizal pun telanjang bulat. tidak lupa Rizal memakai alat kontrasepsi terlebih dahulu.


malam yang penuh gairah itu pun berlanjut semakin panas, bagi Irene. Rizal hanya menikmati semua servis yang Irene beri.


Irene semakin menggila saat hasratnya sudah di ujung dan ingin keluar. teriakan panjang keluar dari mulut Irene, diapun terjatuh di atas Rizal dan kembali mencium Rizal.


Rizal hanya menghela nafas, diapun bertukar posisi. Rizal belum ingin ini berakhir.


desahan kembali keluar dari mulut Irene, begitu menggoda. dia melihat ke arah Rizal yang sedang beraksi, hanya melihat tatapannya saja Irene sudah leleh. mata hijau zamrud itu menghipnotis semuanya. andai dia dapat mendapatkan hati Rizal sedikit saja, dia tidak akan melakukan hal itu kepada adiknya.


Irene kembali terbuai dengan permainan Rizal, semakin mendesah. Rizal pun mulai mendesah. mereka sama-sama mendesah merasakan kenikmatan yang tiada Tara.


melihat Rizal mendesah Irene sangat bahagia, ternyata Rizal merasakan apa yang Irene rasa. Irene merangkul Rizal setelah Rizal melakukan aksinya dan merasa puas. dia tersenyum lebar dan membelai rambut Rizal dengan lembut.


andai dia tau apa yang sudah dia tanda tangani, dia tidak akan tersenyum selebar itu.

__ADS_1


kertas itu ada di salah satu meja di kamar itu, di kertas ke dua terdapat sebuah tulisan:


"pihak kedua akan menuruti apapun permintaan dari pihak pertama termasuk melepaskan semua aset, karir dan akan mentaati hukum untuk di masukan kedalam penjara seusai undang-undang atas pencemaran nama baik"


__ADS_2